Secara teori, dana MBG bukan uang baru, melainkan hasil re-alokasi belanja rumah tangga. Daya beli yang sebelumnya beredar di ekonomi mikro dipindahkan ke skema terpusat. Uangnya memang tidak hilang, tetapi pola sirkulasinya berubah.
Mengapa demikian?
Di Indonesia terdapat sekitar 149 ribu sekolah dasar. Artinya, ada 149 ribu simpul ekonomi lokal yang berputar setiap hari. Di sekitarnya hidup ibu kantin, pedagang kecil, pemasok bahan, hingga pekerja informal yang bergantung pada belanja harian siswa dan guru.
Ketika MBG diberlakukan, arus belanja ini dialihkan dan ripple effect pun mulai terasa.
Omzet pedagang sekolah menurun, permintaan ke pemasok lokal melemah, dan arus kas harian semakin tertekan.
Daya beli keluarga ikut tergerus, ketergantungan pada utang harian meningkat, dan pada titik tertentu muncul kelompok rentan baru dari pelaku ekonomi informal yang sebelumnya masih bisa bertahan dari perputaran harian.
@SiaranBolaLive STY fokus aja latih tim senior utk penyisihan PD kalau hasilnya nnt tdk maksimal ganti aja, untuk persiapan AFC dan Sea Games cari pelatih yg punya karakter militansi kuat misal park hang seo atau bernardo tavarez
@Alkupra Beberapa tech company ini luarnya aja yg sok keren2an tp fundamental bisnis masih lbh bgs UMKM konvensional. Founder2 tech company kbnykn lulusan luar negeri kl soal fafifu pitching ke investor jagonya tp in my sotoy opinion bisnis itu mmg hrs bnyk bljr dilapangan.
@YAJUGAYA Hmm tp tidak semua tingkat kecerdasan simetris dengan arah dukungan krn kbnykn org akan mendahulukan kepentingan dlu yg prioritas.
Kemudian,
Kepentingan sangat bisa dipaksakan.