Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA.
Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?"
Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Wirabumi baru menyadari sudah ada binar-binar kekuatan di sudut-sudur ruangan itu. Sebuah lambang-lambang bercahaya yang diukir dengan kekuatan kanuragan.
“Kekuatan alam ketujuh?” Tanya Wirabumi.
“Jadi kau pun sudah mengetahuinya?” Tanya Daryana yang cukup kagum dengan cucunya itu.
“Hanya sedikit, eyang.. itu pun karena Purbawengi pernah hampir melanggar batas itu,” Jelas Wirabumi.
Saat tau ritual penyegelan pusaka dimulai, seluruh danyang hitam mengalihkan perhatiannya ke arah kuil. Kalabuto, Jagatbara, Nyai Durgati mengincar Daryana yang mulai terlihat dari kuil yang runtuh.
“Jangan biarkan mereka!!” Teriak Nyai Durgati.
Di atas langit tiba-tiba terkumpul kekuatan mengerikan. Hujan api, bebatuan besar, hingga kabut hitam yang siap jatuh ke arah daryana. Kekuatan yang mungkin bisa menghancurkan sebuah pulau.
“Kalian gila!!” Ratu puspa cempaka tak tinggal diam. Ia berusaha menahan kekuatan yang berkumpul itu bersama danyang yang lain.
“Bertahanlah! Ada danyang lain yang akan membantu kita. Mereka mendekat dari arah Timur!” Buto Cayaloka menyapu setiap batu yang berjatuhan dari langit bersama Ratu Puspa Cempaka. Tapi itu saja tidak cukup.
Bak sebuah meteor yang menyentuh daratan, kuil danyang putih yang melindungi Manjing Martjapada hancur bersama setiap makhluk yang ada di dalamnya.
Tanah Para Danyang berguncang, alam itu porak poranda, kuil itu pun tak lagi berbentuk.
Hembusan angin membawa aroma kehancuran. Tubuh Daryana gemetar, terlihat mustahil untuk bangkit, namun ia memaksa dirinya berdiri.
Langkahnya terseret, berulang kali jatuh, namun ia tidak menyerah. Matanya melebar penuh horor melihat Wirabumi, Purbawengi, dan Kertasukmo tergeletak tak berdaya, nyaris kehilangan nyawa.
“Pusaka itu... di mana pusaka itu?!” seru Raja Indrajaya, napasnya tersengal. Tubuhnya lebih lemah daripada Daryana, namun matanya tetap mencari Pusaka Ratu Ular.
Panik, Daryana memandang sekeliling. Tidak ada pusaka itu di tangan Purbawengi. Namun pandangannya tertuju pada sosok Dewi Naganingrum, memegang pusaka itu sambil mengerahkan kekuatan untuk melindunginya.
Sejenak Daryana merasa lega,hingga ia melihat sesuatu yang mengerikan.
Tubuh Dewi Naganingrum mulai terselimuti asap hitam pekat. Wujud naga anggun yang biasa melekat pada Danyang Putih itu berubah menjadi ular besar yang menjijikkan, dengan taring yang meneteskan racun.
“Tak akan ada lagi yang bisa merebut pusaka ini dariku,” ucap Dewi Naganingrum dingin, senyuman jahat terukir di wajahnya.
“Ka—kau... berkhianat!” seru Daryana, suaranya penuh rasa sakit dan keterkejutan.
“Tidak mungkin!” Ratu Puspa Cempaka, yang berada di dekatnya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Di tengah kekacauan, Wirabumi, meskipun lemah, mencoba merebut pusaka dari Dewi Naganingrum.
Tangan gemetar Wirabumi hampir menyentuh pusaka itu, tetapi Dewi Naganingrum bergerak dengan cepat. Ekor panjangnya yang tajam melesat dan menembus tubuh Wirabumi, menciptakan lubang besar di dadanya.
“Tidak! Wirabumi!!!” jerit Daryana, amarahnya meledak.
Daryana merasakan beban yang semakin berat. Ia tahu ini adalah akhir dari segalanya jika ia tidak bertindak. Dengan napas terputus-putus, ia mulai merapal mantra kuno.
Tubuhnya bergetar, dan perlahan, bayangannya terbelah menjadi tiga wujud.
“Ajian Pecah Sukmo? Apa yang kau rencanakan, Daryana?!” Raja Indrajaya memandang dengan ketakutan.
Wirabumi menyeret raja itu sampai ke medan perang, tempat di mana mayat-mayat prajuritnya tergeletak. Di antara darah dan tanah yang gersang itu, ia melemparkan tubuh raja itu ke tanah.
"Purbawengi..." panggilnya.
Purbawengi mendekat, meniupkan sesuatu dari bibirnya ke arah sang raja. Sejenak kemudian, mata sang raja melotot ketakutan, melihat sekelilingnya dengan panik.
"Ke—kenapa? Kenapa kalian masih hidup? Kenapa kalian seperti ini?!"
Di depannya, roh-roh prajuritnya muncul dalam wujud yang mengerikan. Tubuh terbelah, kepala buntung, tangan yang terputus, dan wajah penuh luka.
"Kenapa? Yang mulia bertanya kenapa? Kau yang membuat kami seperti ini!!!"jawab salah satu roh dengan suara serak, menghujam telinga raja.
"Seharusnya kami tidak menjadi tumbal atas nafsumu!" seruan lain bergema, penuh amarah.
"Matilah seribu kali menggantikan kami..."
Suara roh-roh itu mengitari sang raja, menelusup ke dalam pikirannya, menghantuinya dengan siksaan tanpa henti. Wirabumi dan kedua saudaranya berbalik, meninggalkan sang raja sendirian di tengah amukan roh-roh yang kini menuntut balas.
“Apa dia akan mati?” tanya Kertasukmo sambil melirik ke belakang.
“Setiap manusia pasti akan mati. Tapi dia... setidaknya akan menikmati siksaan itu di pikirannya dulu sampai akhir hayatnya,” jawab Purbawengi, suaranya dingin dan penuh kebencian.
Dengan langkah mantap, mereka menuju kerajaan berikutnya, mengulangi perbuatan mereka pada raja yang lain. Tindakan itu bukan sekadar balas dendam, tapi juga sebuah tantangan terbuka kepada Roro Mayit, setan yang berani mempermainkan nyawa manusia dengan begitu kejam.
Tepat saat kembali di pendopo kediaman Sambara, mereka disambut dengan kekuatan yang memendar dari tombak yang muncul dari retakan alam para Danyang.
Purbawengi menyentuhnya dan berharap bisa mendapat petunjuk dari energi yang memendar itu.
“Apa Prabu Ramajaya sedang bertarung di alam itu?” Tanya Wirabumi.
“Buka. Prabu Ramajaya juga sedang mempertaruhkan nyawanya, tapi bukan di alam itu. Aku belum mengerti sepenuhnya. Tapi mereka yang bertarung di alam itu bukan dari zaman ini..” Jelas Purbawengi.
“Aku tahu, aliran waktu di alam itu berjalan berbeda dengan alam manusia. Itu artinya, bisa saja hilangnya Raja Indrajaya, dan Panglima Brasma berhubungan dengan Tanah Para Danyang?”
Purbawengi mengangkat tombak itu. Mengelusnya, dan membersihkannya dengan selendang di pinggangnya.
“Itu mungkin.. sangat mungkin..” Ucapnya sambil menitikkan air mata. “Tapi jika itu benar, artinya selama ini mereka sudah mengalami penderitaan yang begitu besar demi alam ini.”
Brak!
Wirabumi menggebrak meja. Hatinya merasa tertusuk saat mengetahui kemungkinan pengorbanan Raja Indrajaya dan Panglima Brasma, sahabat dari leluhur mereka melakukan hal itu. Seketika ia menjadi gelisah.
“Dengarkan!” Wirabumi berkata dengan penuh emosi. “Meski mati sekalipun, jangan sampai kita biarkan pengorbanan mereka gagal!”
Purbawengi dan Kertasukmo sepakat. Tak ada bantahan atas pernyataan saudaranya itu
“Tak hanya kita, aku pun merasakan anak-anak kita sedang melakukan perjuangannya sendiri..” ucap Kertasukmo.
“Mereka bocah-bocah tak bisa diatur!” Brak!! Wirabumi menggebrak meja lagi. “Semoga saja mereka tidak bertindak kelewatan!”
Purbawengi menenangkan saudaranya itu. ia pun mengembalikan tombak itu pada tempatnya. ia sadar bahwa tombak itu tak hanya menolong mereka, tapi sekaligus penghubung antara zaman mereka dengan orang-orang yang bertarung di Tanah Para Danyang.
***
Pada suatu siang, untuk kesekian kalinya Bondo menampakkan batang hidungnya. Kali ini ia menghentikan mobilnya, menatap Diah agak lama, kemudian menunjukkan satu isyarat aneh dengan menyayatkan telunjuk di lehernya.
***
PENGHUNI LANGGAR
Pati 1985
Suasana hari raya idul Fitri di desa Srimulyo tak seramai di desa lainnya. Walau begitu, sebagian warga yang masih menganut kepercayaan Kejawen turut memeriahkan silaturahmi antar warga di saat lebaran.
PAGELARAN SEWU LELEMBUT
Part 8 - Pagelaran Penghujat Cinta
Kedatangan seseorang yang tak disangka tiba di Leuweung Sasar. Widi teman masa kecil cahyo muncul di rengah kericuhan itu. Pementasan tandingan "Turonggo Mayit" Akan diadakan...
#bacahorror@IDN_Horor@bagihorror
Part (5) Kunci Nyawa
https://t.co/WsDuhQlVPV
Part (6) Dalang Pagelaran
https://t.co/ldfxpkiRbc
Part (7) Sang Purnama Merah
https://t.co/tERb2K3htZ
Part (8) Kesumat Rasa
https://t.co/yHfC2jDpSD
PAGELARAN SEWU LELEMBUT
Part 7 - Wayang Batara
Pagelaran terkutuk telah dimulai di Leuweung sasar. Wabah, teror makhluk gaib mulai menyebar di mana suara gending pagelaran terdengar.
Sementara itu dua pengkhianat sudah menjadi bagian dari pementasan.
#bacahorror@bacahorror
Link Part 1 sampai Part 8 :
Part 1 : Topeng Nyawa https://t.co/qqrugBmI4W
Part 2 : Gending Leuweung Sasar https://t.co/Q6tOKvCfLG
Part 3 : Panggung Keramat https://t.co/GDihe8Fj11
Part 4 : Pementasan Mayat https://t.co/uJajRChZy8
Part 5 : Darang https://t.co/Fnrj3pHub4
Part 6 : Gong Pemanggil Arwah https://t.co/mPKAHnf5Lz
Part 7 : Wayang Batara https://t.co/FrOSsiZSiw
Part 8 : Pagelaran penghujat Cinta https://t.co/fpOMpui2wZ
PAGELARAN SAREBU LELEMBUT
Lekuk indah tubuh, suara merdu dan senyuman teramat cantik adalah malapetaka yang harus ditebus oleh nyawa. Manakala panggelaran sarebu lemlembut berlangsung.
[ Part 5 – Kunci Nyawa ]
@bacahorror@IDN_Horor@diosetta#bacahorror
(Sudut pandang Danan..)
Darang…
Aku tidak pernah mendengar nama pementasan seperti ini sebelumnya. Tapi dari cerita Murti dan Marni, pementasan ini adalah sesuatu yang terlarang yang tidak seharusnya dipentaskan di alam manusia.
“Seratus tahun yang lalu ada seseorang yang mencoba menghentikan pementasan Darang. Ia mati dengan cara yang paling keji… Khekhekhe.
Kalian juga akan bernasib sama..” tawa Ki Tunjung.
Belum sempat kami melakukan serangan balik. Suara gong menggema begitu keras dan memekakan telinga kami.
Menyambut suara gong itu tiba-tiba panggung batu itu kembali diisi oleh mayat-mayat yang mengenakan kebaya dan pakaian kain lusuh. Mereka melakukan gerakan-gerakan mengerikan mengikuti irama gending.
“..sing mati nduwe hajaten dewe. ngrayakake mati, ngrayakake peteng ...”
Suara tembang dengan nada yang membuat kami merinding terdengar bersahutan dengan gending yang mengiringinya. Saat itu mataku terpukau…
Aku, Cahyo, Murti dan Marni tak mampu memalingkan pandangan kami dari pementasan yang mengerikan, namun memiliki ketertarikan yang terasa terlarang.
Semakin aku mengikutinya, semakin aku terserap dalam pesta mayat-mayat ini.
Tanpa sadar, darah menetes dari mataku, cahyo, dan yang lain. Aku ingin memalingkan wajah dari panggung terkutuk itu, namun itu semua begitu sulit.
Matahari sudah terbit cukup tinggi. Aku dan Gama sudah menanti cukup lama menunggu kemunculan Budi dari satu-satunya gerbang masuk Leuweung Sasar.
“Apa kamu yakin Budi akan keluar dari sana pagi ini?” Tanyaku.
“Dia pasti muncul, aku mengenalnya.” Ucap Gama.
Aku mengangguk dan lebih bersabar menunggu kemunculan sang penjaga leuweung sasar itu.
Waktu untuk menunggu itu aku gunakan untuk menceritakan tentang sepasang setan pemain gendang yang menyerang desa abah. Gama cukup kaget mendengar ceritaku, menurutnya setiap rombongan Rengganis Kaharuman melakukan pentas, selalu muncul setan-setan pontos berkuping panjang yang serupa dengan yang kuceritakan.
Ternyata setan itu tidak membual. Ada banyak makhluk dari berbagai tempat berkumpul demi pementasan itu.
Di tengah penantian kami, tiba-tiba Gama berdiri meninggalkan posisi duduknya. Sepertinya ia menyadari kedatangan seseorang dari dalam hutan itu.
TOK! TOKK!! TOKKK!!!
Suara pintu depan terdengar ketukan, membuat Pak Hadi dan Teh Lisna bergegas ke depan.
“To – tolong Pak Gama selamatkan anak saya ini, jika bisa ditukar nyawanya biarkan saya yang mati,” ucap Mak Arni melangkah ke arah Gama,
Sisa malam itu kami gunakan untuk beristirahat. Aku terbangun lebih dulu dan berinisiatif mencoba mencari petunjuk mengenai keberadaan kepala jasad yang kami temukan semalam. Tapi, suasana desa di siang hari itu benar-benar berbeda. Sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Para penduduk yang sebelumnya terlihat ramah dan selalu menyapa kini menatapku dengan tatapan kesal. Setiap aku melintas, mereka selalu berhenti dan menatapku seolah aku adalah penjahat.
“Kami salah apa to, mas?”
“Tega-teganya kamu sama desa kami!”
Suara-suara itu terdengar dari warga yang berpapasan denganku, namun mereka tidak meminta jawaban. Mereka hanya mencibir dan meninggalkanku seolah sengaja tidak ingin bertikai.
“Kami nggak pernah menyakiti siapapun, lho! Tapi kenapa masnya malah bikin gara-gara!”
Aku pun mulai kesal dan berpaling pada orang yang mencibir itu.
“Siapa yang cari gara-ga….”
Sekali lagi, belum sempat aku berkata orang itu sudah pergi meninggalkanku. Mereka memang benar-benar hanya ingin mencemoohku.
Keadaan ini benar-benar menyiksaku. Namun yang menjadi pertanyaanku, apakah mereka sudah tahu tentang yang semalam kami perbuat? Dari mana?
Apakah kakek penjaga makam itu yang mengatakan kepada warga desa, atau ada dampak dari apa yang kami lakukan dengan memurnikan jasad semalam?
Saat itu aku memutuskan untuk tidak berlama-lama di desa. Aku merasa, keadaan akan semakin tidak kondusif bila aku berada di sana. Aku pun kembali ke gubuk dan menceritakan semua pada Danan dan Dipta.
“Jangan ke desa dulu!” Ucapku pada mereka yang sedang menyiapkan makanan.
“Kenapa? Mereka sudah tahu tentang semalam?” Tanya Danan.
AKu mengangguk dan menceritakan tentang apa yang terjadi selama aku di desa tadi.
“Tapi bukanya kita harus tetap mencari tahun tentan keberadaan kepala jasad semalam?” Tanya Dipta.
Aku mengerti akan hal itu, namun tidak mungkin kami lakukan di siang hari dengan keadaan warga desa yang sudah mengetahui perbuatan kami.
“Kita ke desa lagi nanti malam, diam-diam. Kita selidiki dengan berhati-hati tempat-tempat yang mungkin digunakan untuk menyimpat benda keramat,” Ucapku.
“Benar, malam-malam lebih aman. Nanti Mas Dipta di gubuk saja, ya.” Balas Danan.
Dipta pun menoleh ke sekeliling hutan dan memperhatikan makam-makam di hadapan gubuk kami.
“Hehe.. saya ikut mas-masnya aja. Kayaknya lebih aman kalau sama kalian,” Balas Dipta.
“Owalah, ya sudah kalau gitu.” Balasku.
“Lagipula, mungkin saja Mas Dipta bisa memberi petunjuk seperti semalam,” Tambah Danan.
Aku setuju mengenai itu. Tanpa petunjuk dari Mas Dipta, mungkin kami tidak akan mendapat petunjuk mengenai jasad itu. Tapi, hal itu sekaligus membuatku sedikit khawatir.
Apa yang terjadi pada Dipta apakah sebuah kharomah? Ataukah justru jebakan dari makhluk-makhluk gaib?
Tapi sepertinya aku memilih untuk percaya padanya. Menyalanya keris Sukmageni mungkin merupakan petunjuk untukku bahwa, petunjuk dari Dipta memang jalan untuk kami.
…
Deggg!
Menjelang maghrib, tiba-tiba aku dan Danan merasakan perasaan yang sama. Kami terduduk dari istirahat santai kami dengan wajah panik.
“Cahyo?” Tanya Danan.
“Iya, Nan! Ada yang nggak beres. Kekuatanya kerasa sampe sini,” Balasku.
Dipta menatap kami dengan wajah bingung.
Tang… Tang… Tang…
Suara gendang kembali terdengar dari atas gubuk kami. Kakek pemain gendang misterius tengah duduk di sana masih dengan gendang kesayanganya.
“Kalian sudah ditunggu oleh warga desa.. Khekhkehe,” Ucap pemain gendang itu.
“Kamu sendirian, Mbah? Penari pasanganmu nggak diajak?” Tanyaku mencoba membaca makhluk itu.
“Pa—pasangan? Bu–bukan! Kami bukan pasangan, kamu bukan siapa-siapa?” Jawabnya dengan wajah yang memerah.
“Lha tapi kok, muka mbah merah? Bertepuk sebelah tangan ya?” Ledekku.
“Heh! Ngawur! sudah nggak usah dibahas! Harusnya kalian tuh takut! Kabur! Bukan malah ngeledekin saya!!!” Teriak kakek itu masih dengan salah tingkahnya.
Saat itu aku dan Danan yang sebelumnya waspada dengan kakek itu pun tersenyum menahan tawa. Sepertinya tidak semua setan-setan disini berhubungan dengan keris pusaka mayit itu.
“Sudah, Mbah. Nggak papa kalau suka. Kalian cocok kok!” Balas Danan.
Mendengar ucapan itu tiba-tiba ia melompat dari atas gubuknya dan mendekat ke wajah Danan se dekat-dekatnya.
“Yang bener?” Tanyanya.
“I–iya, Mbah..” Jawab Danan yang kaget dengan tingkah kakek pemain gendang itu.
“Khekhekehe… Ya sudah, Pergi sana! Semoga kalian selamat!” Tang… tang…
Kakek itu pun pergi meninggalkan kami sambil memainkan gendangnya. Wajahnya yang sebelumnya menyeramkan kini berubah seperti anak kecil yang salah tingkah. Bahkan beberapa kali ia berhenti dan tertawa sendiri seolah membayangkan dirinya bersanding dengan penarinya itu.
Sang penari tanpa kepala..
Sumpah aku merinding membayangkan keberadaan pasangan yang seperti itu. Tapi bila itu merupakan hal baik, kenapa tidak?
Kami memang sengaja menunggu ketika langit benar-benar sudah menjemput gelapnya. Ketika kakek itu memberi tahu kami sudah ditunggu, itu berarti kami akan memasuki sebuah tempat yang mungkin merupakan perangkap yang membahayakan nyawa kami.