“Ide punya kaki.”
-Soedjatmoko-
Saya selalu percaya, tulisan yang baik tidak berhenti di halaman. Ia berjalan, berdialog, lalu sesekali menemukan jalannya menjadi kebijakan. Gagasan yang jernih dan yang jujur tidak berhenti pada pemiliknya. Ia berjalan sendiri, pelan, kadang nyaris tak terlihat, melintasi waktu dan generasi. Terima kasih Kompas @hariankompas
https://t.co/R7lcQs8T4g
Dari 3 wajah berbeda ini, headline mana yang Anda dapatkan? Ceritakan kepada kami, bagikan di media sosial dan mention @hariankompas serta sang ilustrator.
#Kompas61#MerawatMasaDepan
Menyemarakkan HUT ke-61 Harian Kompas yang dirayakan pada Minggu 28 Juni 2026, hari ini (29/6/2026) kami menghadirkan koran edisi spesial dengan 3 wajah berbeda. Persembahan dari kami untuk para pelanggan dan pembaca.
Ini menjadi proyek menyenangkan, hasil kolaborasi bersama tiga ilustrator, yaitu Philip ponk, Bethania Brigitta, dan Aisyah Vasthy.
Selamat membaca sekaligus merayakan karya 📰✨
#Kompas61 #MerawatMasaDepan
Besok, Harian Kompas edisi 29 Juni 2026 hadir dengan sesuatu yang berbeda.
Untuk pertama kalinya, Harian Kompas menghadirkan tiga cover eksklusif hasil kolaborasi dengan tiga ilustrator muda Indonesia.
Setiap ilustrasi merepresentasikan harapan baik bagi masa depan bangsa dan didistribusikan secara acak, sehingga cover yang Anda dapatkan akan menjadi sebuah kejutan.
Dapatkan Harian Kompas edisi 29 Juni 2026 di toko buku Gramedia, e-commerce, agen koran terdekat, dan Booth Harian Kompas di PRJ.
Jangan lewatkan kesempatan untuk membawa pulang salah satu dari tiga cover eksklusif ini.
Cover mana yang akan Anda dapatkan?
#Kompas61 #MerawatMasaDepan
Harian Kompas mengajukan satu pertanyaan kepada dua Cendekiawan Berdedikasi Kompas, Chatib Basri dan Alissa Wahid: "Kabar baik apa yang ingin didengar?"
Mereka mengajak kita melihat bahwa masa depan yang lebih baik bukan sekadar harapan, tetapi sesuatu yang bisa dirawat dan diperjuangkan bersama.
Kalau Anda, kabar baik apa yang ingin didengar?
#Kompas61 #MerawatMasaDepan
Selamat kepada Mbak Alissa Wahid atas terpilihnya sebagai Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2026.
Semoga penghargaan ini semakin menguatkan ikhtiar dan dedikasi dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan keberagaman.
Sukses dan terus menginspirasi.
Momen ulang tahun kali ini tak hanya berarti bagi kami, tetapi juga bagi penerima bantuan dari pembaca Harian Kompas (https://t.co/KZ58AEww7H) melalui Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas.
Pada 24 dan 26 Juni 2026, kami melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan sekolah di SD Negeri Teumpeun, Aceh Timur dan SD Islam Terpadu An-Nur, Yayasan Dayah Teungku Chiek Pante Geulima di Pidie Jaya. Semua ini berkat uluran bantuan dan dukungan para pembaca dan seluruh donatur.
Ini tak semata-mata menjadi momen berbahagia bagi kami, tetapi juga bagi anak-anak di Aceh.
Terima kasih telah bersama-sama #merawatmasadepan, membuka pintu harapan bagi dunia pendidikan.
#Kompas61
Alissa Wahid menyampaikan pidato singkat usai menerima penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2026. Sementara itu, Chatib Basri yang berhalangan hadir menyampaikan sambutannya melalui video.
Penganugerahan Cendekiawan Berdedikasi Kompas 2026 digelar di Redaksi Harian Kompas.
#Kompas61 #MerawatMasaDepan
Setelah sesi pemotongan tumpeng, acara dilanjutkan dengan pengumuman Cendekiawan Berdedikasi Kompas oleh Pemimpin Redaksi Harian Kompas (https://t.co/KZ58AEx3Xf) Haryo Damardono. Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi diberikan kepada sosok yang aktif mengawal perjalanan bangsa melalui gagasan-gagasannya.
#Kompas61 #MerawatMasaDepan
Acara HUT Ke-61 Harian Kompas dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh pimpinan PT Kompas Media Nusantara. Potongan tumpeng diberikan kepada perwakilan karyawan.
#Kompas61#MerawatMasaDepan
Dalam rangka mensyukuri ulang tahun ke-61 Harian Kompas, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas (https://t.co/Z6bhYbEJRg) Paulus Tri Agung Kristanto menyampaikan pesan dan harapan dalam acara syukuran HUT Harian Kompas.
#Kompas61#MerawatMasaDepan
Rangkaian ziarah dalam rangka HUT ke-61 Harian Kompas berlanjut ke makam pendiri Harian Kompas, PK Ojong, di TPU Tanah Kusir.
Melalui sambutan Ibu Marani Ojong dan Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Andi Budiman, para peserta ziarah diajak mengenang sekaligus meneladani nilai-nilai yang dihidupi PK Ojong. Ziarah juga dilakukan ke makam Ibu Catherine Ojong dan Ibu Latifah Jakob Oetama.
#Kompas61 #MerawatMasaDepan
Rangkaian puncak HUT ke-61 Harian Kompas diawali dengan ziarah ke makam pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama, di TMP Kalibata pada Minggu (28/6/2026).
Momen ini menjadi pengingat akan nilai-nilai yang diwariskan Pak Jakob, sebagaimana disampaikan Komisaris Utama Kompas Gramedia, Irwan Oetama, dan Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas, Paulus Tri Agung Kristanto.
#Kompas61 #MerawatMasaDepan
Bagi Alissa Wahid, melanjutkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan demokrasi yang diwariskan ayahnya, Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, adalah keharusan. Di tengah situasi bangsa saat ini, Alissa melihat dua persoalan besar yang dihadapi Indonesia.
Pada momen HUT ke-61 Harian Kompas, Alissa Wahid terpilih menjadi Cendekiawan Berdedikasi.
#Kompas61 #MerawatMasaDepan
Terima kasih kepada @hariankompas yang telah menganugerahkan kepada saya Cendekiawan Berdedikasi 2026.
Menerima penghargaan ini, saya teringat pada sebuah paradoks. Penghargaan, bagi banyak orang, adalah tanda bahwa kita telah sampai pada jawaban. Namun, ironisnya, jawaban justru lahir dari ketidaktahuan. Dari ruang kosong yang membuat kita gelisah, dari pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah benar-benar selesai.
Kita memasuki sebuah era ketika jawaban kian kehilangan keistimewaannya. Jawaban, seiring waktu, akan usang, dimakan zaman. AI akan menyediakannya lebih cepat dan lebih akurat daripada kita. Tapi pertanyaan, itu lain cerita. Pertanyaan lahir dari intuisi, dari kegelisahan, dari kemampuan menghubungkan titik-titik yang terpencar. Ia menuntut imajinasi dan keberanian untuk berkata: saya tidak tahu.
Mungkin di situlah letak manusia: bukan pada jawaban yang bisa digantikan mesin, melainkan pada pertanyaan yang tak bisa dirumuskan algoritma. Karena pengetahuan tumbuh bukan dari jawaban, tapi dari keberanian untuk bertanya. Maka, bagi saya, penghargaan ini adalah penghormatan kepada keberanian untuk ketidaktahuan.
Akhirnya, penghargaan ini bukanlah akhir sebuah perjalanan. Ia hanyalah tanda kecil di jalan panjang, yang mengingatkan saya: jawaban sejati bukan ditemukan di tujuan, melainkan lahir dari dari rasa keingintahuan yang tak pernah padam. Dan penghargaan ini menjaga agar api itu tak padam. Terima kasih Harian Kompas.
Terima kasih @danaiswara yang sudah mewakili.
yg kutemukan indah bukan hanya pd mereka, tetapi pd kita. pd diriku sendiri. memang hanya perlu menyelami diri sendiri utk memahami kompleksitas yg memicu ekstasi dan keterkejutan. setiap hr bangun pagi hny utk jatuh hati lg pada diri sendiri. sungguh liar & imajinatif. 😄
Minggu pagi 21 Juni 1970, Soekarno meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Proklamator kemerdekaan Indonesia ini wafat dengan status sebagai tahanan rumah karena tuduhan keterlibatan dalam G30S.