E-book buku puisi saya sudah tersedia di Google Playstore
https://t.co/CFvNVZ787r .
Atau bisa diunduh di aplikasi Gramedia Digital (paket fiksi 45ribu/bulan, bisa bebas akses buku-buku terbitan Gramedia)
Fun fact
Setelah novel Ronggeng Dukuh Paruk terbit, pada 2 Juli 1986 Ahmad Tohari didatangi TNI.
Ia kemudian diinterogasi selama 5 hari. TNI menuduhnya beraliansi dengan komunis karena cerita novel tersebut dinilai terlalu kiri.
Ahmad Tohari bebas setelah ia menuliskan nomer telepon Gus Dur sebagai jaminan. Tentara terdiam, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menghubungi nomer tersebut.
Besoknya Ahmad Tohari dibebaskan.
"Melawan lupa adalah menolak melupakan apa yang sudah terjadi. Lupa melawan adalah ketika seseorang dihadapkan dengan segala fasilitas dan kemudahan, kemudian ia memilih berhenti melawan."
— Lucia Priandarini (@rinilucia), Penulis
Tenang kak, masih ada beberapa cara buat baca buku sejarah, sosial, dan politik secara gratis dan legal.
Beberapa buku sejarah bisa kamu temukan di https://t.co/SmvGzIotBc ada Dalih Pembunuhan Massal dan Tahun yang Tak Pernah Berakhir dan buku2 lainnya.
The Myth of Normal: Trauma, Illness, and Healing in a Toxic Culture by Gabor Maté MD and Daniel Maté
A perspective to the great untangling of common myths about what makes us sick, connects the dots between the maladies of individuals and the declining soundness of society and offers a compassionate guide for health and healing.
https://t.co/ZKdNL7Y6Nx
KShs1,990.00
This paragraph from Carl Jung hits so hard.
“The world is full of people suffering from the effects of their own unlived life. They become bitter, critical, or rigid, not because the world is cruel to them, but because they have betrayed their own inner possibilities. The artist who never makes art becomes cynical about those who do. The lover who never risks loving mocks romance. The thinker who never commits to a philosophy sneers at belief itself. And yet, all of them suffer, because deep down they know: the life they mock is the life they were meant to live.”
Gua Baru Tahu Sering Nonton Short Video Bisa Bikin Fungsi Otak Menurun
Awalnya gua kira nonton short video di HP itu cuma buang-buang waktu. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak.
Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG.
Hasilnya bikin gua cukup bikin kaget antara lain:
-Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri
-Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun
Short video itu juga berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah.
Yang menarik dari studi ini adalah:
Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control)
KESIMPULAN:
Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
Di negara nasionalis-korup-religius seperti Indonesia, institusi agama hidup dalam simbiosis mutualisme dengan pejabat negara dan politikus.
Mereka sama-sama memakai doktrin dan kepatuhan untuk mendapatkan dukungan, tanpa pertanyaan. Apalagi sanggahan.
Unjuk rasa paling berwarna dan inklusif yang pernah saya ikuti. Selain perempuan, teman-teman queer dan disabilitas terwakili (ada juru bahasa isyarat). Jujur selain Aksi Kamisan, hanya berani ikut aksi yang diprakarsai jejaring perempuan. Salut, Aliansi Perempuan Indonesia! 🌸
Tahun lalu almarhum Papa mendapat tanda kehormatan presiden. Prosesnya panjang, dokumen yg harus dilengkapi banyak sekali. Saya tergugup-gugup presentasi di depan Setmilpres. Entah apakah pejabat2 yg mendapat bintang tanda jasa itu melalui proses yang sama. Sepertinya tidak.
Ayah saya baru menerima gelar tanda kehormatan dari Presiden, Satyalancana Kebudayaan 2024, atas dedikasinya untuk kesenian ludruk.
Profil beliau dapat disimak di sini: Profesor Ludruk, Henricus Supriyanto https://t.co/6AmMxorkES
#AnugerahKebudayaan2024#AnugerahKebudayaan
Selain damkar, petugas2 keamanan stasiun layak diapresiasi. Cekatan menavigasi penumpukan massa sebanyak ini, tempo hari saat terimbas demo. Terutama yang di Stasiun Tanah Abang. | @CurhatKRL@CommuterLine