Persib butut kitu, tapi butut keneh kalakuan maraneh nu kebelet hooligan nyendeut petasan make alasan Tribun Terror.
Asa keren banget nih aing jago ngasupkeun petasan ka tribun, terus disendeut, jedar jedor kitu suara na ๐
Di sebuah desa terpencil di NTB, jauh dari hiruk-pikuk kota, hiduplah tiga bersaudara yang masih sangat kecil: Rian (11 tahun), Siti (9 tahun), dan Andi (7 tahun).
Sejak kedua orang tua mereka meninggal dunia, mereka tak punya siapa-siapa lagi. Rumah sederhana yang dulu mereka tempati pun akhirnya hilang karena tak mampu dipertahankan.
Tak ada pilihan lain, mereka membangun sebuah gubuk kecil dari kayu bekas dan terpal di area pemakaman desa. Tempat yang bagi orang lain terasa menyeramkan, justru menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi mereka. Setiap malam, angin berhembus dingin menembus celah-celah dinding gubuk.
Suara dedaunan bergesekan dan suasana sunyi kuburan sering membuat Andi menangis ketakutan.
Siti akan memeluknya erat, sementara Rian berusaha terlihat kuat meski dalam hati ia juga takut. โJangan takut, kita sama-sama,โ bisik Rian setiap malam. Untuk bertahan hidup, mereka mengandalkan sungai kecil di dekat desa. Setiap pagi buta, sebelum matahari terbit, Rian dan Siti pergi menangkap ikan dengan alat seadanya. Andi biasanya ikut, meski lebih sering hanya membantu membawa ember kecil. Hasil tangkapan mereka tidak selalu banyak. Kadang hanya cukup untuk dimakan sendiri. Tapi jika beruntung, mereka bisa menjual beberapa ekor ikan ke warga desa. Dengan pakaian luluh dan kaki tanpa alas, mereka berjalan dari rumah ke rumah. โIkan... ikan segar...โ suara Siti pelan, hampir tak terdengar.
Tak semua orang membeli. Ada yang iba, ada juga yang acuh tak peduli.
Namun mereka tak pernah mengeluh.
Di malam hari, mereka memasak ikan seadanya di depan gubuk.
Tanpa listrik, hanya ditemani cahaya lampu minyak kecil, mereka makan bersama sambil bercerita tentang mimpi-mimpi sederhana. โAku mau sekolah lagi,โ kata Siti suatu malam.
Rian terdiam. la tahu, sejak mereka kehilangan orang tua, sekolah hanyalah mimpi yang semakin jauh.
โAku juga...โ sahut Andi lirih.
Rian menatap adik-adiknya, matanya berkaca-kaca.
Dalam hati ia berjanji, suatu hari nanti, ia akan membawa mereka keluar dari kehidupan ini.
Meski hidup dalam keterbatasan, ketiga saudara itu tetap saling menguatkan.
Untuk kota tercinta, Pertemanan yang abadi, dan Club kebanggaan. Selamat merayakan dan selamat bertambah usia untuk club kebanggaan @persib ๐ป๐ซ๐
1933 Still Alive
#AllCrewAreBrother#Bobotoh0266#Unite
Kehilangan dompet kulit warna coklat.
KTP atas nama Rizki Nugrahanto
Isi dompet ada 3 STNK
KTP dan SIM.
Kalo menemukan bisa chat ke nomer
0812202662.
Kehilangan di sekitar taman cibeunying , pet Park , gedung sate
@infobdg