Yang jualan "Pancasila Pemersatu Bangsa" pasti sedang mengalami DELUSI parah. Dalam hidup sehari-hari, Pancasila digunakan oleh Pemerintah, TNI, Polisi, DPR, Parpol, untuk memperkaya diri, merusak alam, dan menindas rakyat yang sudah tertindas.
Demo mahasiswa di Bundaran HI menuntut penghentian program MBG dan Kopdes Merah Putih. BEM UI juga mendesak pemerintah menurunkan harga BBM dan kebutuhan pokok, serta menghentikan pemborosan APBN.
#BEMUI#MBG#Demo#Prabowo#BBM
Baca di sini:
https://t.co/CtnM6f2T9p
Kabar pembatasan pembelian BBM subsidi Pertalite hingga Rp50.000 per kendaraan di SPBU beredar di media sosial, namun PT Pertamina Patra Niaga menegaskan informasi tersebut tidak benar.
~NA #Pertamina#Pertalite#BBMSubsidi
Perbandingan 2 pemimpin dari Singapur & Indonesia :
1. durasi kurang lebih sama-sama 10s
2. Fokus PN Singapur adalah kesejahteraan pekerja Singapur
3. Fokus Presiden RI adalah faktor luar
4. Perbandingan wibawa terhadap penonton
5. Reaksi tepuk tangan penonton yang tulus dibanding ABS (asal bapak senang)
ya Tuhan kenapa saya bukan diturunkan jadi WN Singapur 😭
Menangislah bila perlu menangis.
Marahlah bila memang kau ingin marah.
Lepaskan bila kau memang harus melepasnya.
Ga perlu menunjukkan selalu terlihat kuat, percayalah, bahkan Tuhan-pun memberikan tempat yg tepat bagi si lemah yg hanya bisa berserah.
Tetap kuat, Oyen :((
Mengapa filosofi pendidikan “sesuai industri” itu problematis?
Saya agak gelisah baca wacana menutup prodi yang dianggap “tidak relevan dengan industri”, yang disampaikan Sekjen Kemendikti, Prof Bakri Munir Sukoco.
Bukan karena saya anti industri.
Tapi… industri yang mana?
Yang hari ini?
Atau yang bahkan belum ada 10 tahun lagi?
Masalahnya sederhana: industri sendiri sering belum tahu arah masa depannya.
Laporan World Economic Forum dan McKinsey & Company berulang kali bilang hal yang sama: banyak pekerjaan masa depan belum eksis hari ini.
Jadi kalau kampus sibuk “menyesuaikan diri” dengan kebutuhan sekarang, kita mungkin sedang menyiapkan lulusan… untuk dunia yang sudah lewat.
Dan biasanya, yang pertama dikorbankan itu selalu sama:
Filsafat.
Sejarah.
Sastra.
Yang dianggap tidak praktis.
Padahal banyak pemimpin, pembuat kebijakan, bahkan inovator yang lahir dari sana.
Sekarang bahkan keguruan dan kedokteran ikut disorot oleh Sekjen Kemendikti. Keduanya dibutuhkan masyarakat tapi katanya terlalu “market-driven”, harus jadi “market-driving”.
Tapi jujur saja kedua istilah ini masih dalam logika yang sama: pasar sebagai penentu. Bedanya hanya soal siapa yang lebih pandai meramal pasar.
Padahal masalah utamanya bukan di situ.
Masalah pendidikan di Indonesia itu ada di tata kelola.
Prodi dibuka karena tren. Karena peminat. Karena pemasukan. Bukan karena visi pendidikan.
Kalau akarnya di situ, menutup prodi dari atas itu cuma seperti memotong daun, tanpa menyentuh akar.
Yang kita butuhkan bukan sekadar menutup prodi, tapi membenahi cara kita menilai dan membiayai pendidikan. Quality control dan akreditasi tetap penting, tapi ukurannya harus nyata: kualitas belajar, daya pikir lulusan, dan dampaknya bagi masyarakat, bukan sekadar dokumentasi.
Yang dibutuhkan adalah pendanaan berbasis kualitas, kurikulum yang lentur, dan keberanian menjaga ilmu yang tidak selalu “laku”.
Karena saat industri jadi satu-satunya ukuran, dunia kampus menjelma hanya melatih tenaga kerja bukan melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan membentuk zamannya sendiri.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Bagi pendidik Kartini dianggap sebagai pahlawan, bagi orang barat Kartini dianggap keberhasilan politik etis, di sebagai sejarahwan Kartini dianggap terbelenggu sistem feodal. Artinya apa? Yak benar kita hanyalah persepsi dari orang lain