my two cents on heteronormativy and misgendering in the fandom culture.. may people can take this is a process of unlearn and relearn, in the hope that i am not seeing anyone using terms that is actually carry deep meaning carelessly just to justify anything anymore
menurut aku date yang paling romantis tuh dating after office.... kayak.... bayangin abis cape kerja, dikejar deadline tapi pulangnya dipukpuk sama ayang, mam bareng, ketawa bareng. ya Tuhan..... may this kind of love never fade. aamiin
as solo io yang mementingkan kesenengan gw sendiri, ketika situasi fandom kayak tai lebih baik gw menghindari tai :D lost spark bukan ke idolnya tapi ke fandomnya lol. gw keselnya tu krn situasi tai itu bisa aja buat orang lain lost spark ke io, sedihnya io ditinggal lagi😢
33. Karl marx
34. Fyodor Dostoevysky
35. Marcel Proust
36. James Joyce
39. Pramoedya Ananta Toer
40. Max Stirner
145. Robert Musil
160. Samuel Beckett
170. Comte de Lautréamont
2666. Roberto Bolano
33. Karl marx
34. Fyodor Dostoevysky
35. Marcel Proust
36. James Joyce
39. Pramoedya Ananta Toer
40. Max Stirner
145. Robert Musil
160. Samuel Beckett
170. Comte de Lautréamont
2666. Roberto Bolano
braderr org gamau baca buku pelaku kekerasan seksual itu valid, jangan tolol.
beberapa penulis yg disebutkan op itu masih hidup dan dapat benefit dari tiap pembelian buku dan bisa gain so much power utk terus menindas korban, hidup korban taruhannya, stop tolol.
baca buku bukan berarti kita satu pemahaman sama penulisnya ya guys... sejatinya buku ditulis berdasarkan ideologi penulis, jadi kalo kita ga sepemahaman sama buku yg kita baca tuh wajar bgt dan layak untuk dikritisi....
Justru buat aku bukunya Eka Kurniawan ini emang harus di baca, biar tau kenapa kita butuh yang namanya kesetaraan gender. Baca itu kan buat kita mulai mempertanyakan, meragukan, dan melawan. Ada loh laki-laki seperti yang di gambarkan Eka dalam bukunya itu di dunia nyata.