Pak Prabowo bilang “diserang” karena MBG dituduh pemborosan. Padahal programnya “mulia” banget utk anak, ibu hamil, dan lansia.
Wah, narasinya lamis sekali.
Jelas yang dikritik itu bukan niat baiknya, Pak. Yang dikritik sistemnya yang bloated, tidak fokus, dan membuka pintu korupsi lebar-lebar. Anggaran 7% APBN cuma buat makan siang? Sementara riset cuma 0,2% GDP dan gaji guru dan dosen masih merana.
Di Lembata, NTT, ibu-ibu masak makanan bergizi panas tiap hari, edukasi gizi, biaya < Rp10.000 per porsi, zero waste. Hasilnya? Sukses.
Sementara BGN korupnya naudzu billah.
Itu bedanya.
Jadi jangan bilang “diserang karena program mulia”. Kita kritik karena ada jalan yang jauh lebih benar, lebih murah, lebih tepat sasaran, tapi dipilih yang mahal dan berisiko tinggi.
Presiden kok lebih sibuk bangun narasi “saya baik, kalian jahat” daripada memperbaiki sistemnya.
Stunting itu penting. Tapi kalau caranya salah, yang terjadi bukan nutrisi anak, tapi nutrisi “tuyul” proyek.
momen menteri PU klarifikasi soal mutasi dan keponakan komisaris:
- gw punya banyak anggota masak tidak boleh mutasi
- GUE KASIH SAYEMBARA KALAU LU BISA BUKTIKAN GUE KASIH UMROH SEKELUARGA "
- lu pikir aja sendiri
Kenapa Gaya Komunikasi Prabowo Sangat Jelek?
Dalam diskursus ruang publik politik—meminjam kerangka pemikiran sosiolog Jürgen Habermas—komunikasi adalah jembatan rasionalitas yang mengikat seorang pemimpin dengan warga negaranya.
Habermas mensyaratkan adanya tindakan komunikatif yang jernih untuk mencapai konsensus sosial yang sehat.
Di Indonesia, publik dan para pengamat akademis sering kali menyematkan predikat "jelek" pada gaya komunikasi Prabowo Subianto.
Dalam kacamata ilmu komunikasi politik, predikat ini merujuk secara spesifik pada kegagalannya dalam memenuhi standar komunikasi kepemimpinan formal yang serba presisi, metodis, dan terstruktur.
Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena dramaturgi politik yang penuh dengan goncangan menggelinjang, berayun-ayun hebat.
Prabowo memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk berpidato secara spontan tanpa panduan teks yang solid.
Pendekatan asertif-populis ini sering kali berujung pada nada bicara yang meledak-ledak, berapi-api, dan minim filter diplomasi.
Gaya komunikasi yang sarat muatan emosi ini membawa risiko blunder yang luar biasa besar, terutama dalam fase krusial manajemen krisis bernegara.
Lontaran kata-kata yang tidak terukur berpotensi memperlebar jurang polarisasi publik pada saat negara justru sedang membutuhkan stabilitas.
Di samping itu, para pakar komunikasi politik menyoroti inkonsistensi dramaturgis yang sangat mencolok pada sang tokoh.
Erving Goffman dalam teori dramaturginya selalu menekankan pentingnya stabilitas karakter di "panggung depan" (front stage).
Citra publik Prabowo justru mengalami naik turun dari masa ke masa.
Pada satu periode pemilu, ia tampil mempresentasikan figur militeristik yang kaku dan menggelegar.
Pada periode berikutnya, ia berubah menjadi sosok santai nan gemoy yang gemar berjoget di hadapan massa.
Spontanitas dan letupan emosinya mengabaikan prinsip presisi yang menjadi urat nadi dalam tata kelola institusi negara modern.
Dalam politik global, kepemimpinan yang berumur panjang dan mewariskan permata selalu menuntut keseimbangan sempurna antara ketegasan bertindak dan kecermatan bertutur.
Kelemahan struktural dalam merangkai pesan publik yang kohesif pada akhirnya akan terus menjadi batu sandungan terbesar dalam merekam jejak Sejarah yang paripurna.
Referensi:
Aspinall, Edward, dan Marcus Mietzner, 'Indonesian Politics in 2014: Democracy's Close Call', Asian Survey, 55/1 (2015).
Goffman, Erving, The Presentation of Self in Everyday Life (New York: Anchor Books, 1959).
Habermas, Jürgen, The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society, terj. Thomas Burger (Cambridge, MA: MIT Press, 1989).
Kakiailatu, Toeti, 'Yudhoyono and Indonesian Political Communication', Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 163/1 (2007).
Lee, Kuan Yew, From Third World to First: The Singapore Story: 1965-2000 (New York: HarperCollins, 2000).
Rowland, Robert C., dan John M. Jones, 'Recasting the American Dream and American Politics: Barack Obama's Keynote Address to the 2004 Democratic National Convention', Quarterly Journal of Speech, 93/4 (2007).
Yudhoyono, Susilo Bambang, Selalu Ada Pilihan (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2014).
Azril, Khariq, Yogi, Azhar hanya sedikit dari ribuan orang muda yang ditangkap paksa dan jadi korban kekerasan oleh aparat. Tapi di saat bersamaan bukannya reformasi TNI-Polisi yang warga dapatkan, justru mereka malah diberi hadiah berupa jabatan di pos-pos sipil 🙃
REK, BACA INI! 🥺🥺
Pesan pribadi dari Mikel Arteta kepada para penggemar Arsenal, disertai dengan pin, menjelang final Liga Champions UEFA hari ini:
“Kepada para penggemar Arsenal: Kita telah membuat sejarah bersama musim ini.”
“Atas nama para pemain, staf pelatih, dan semua orang yang bekerja di klub, kami mengucapkan terima kasih... Kami sangat bangga dan senang dengan semua orang yang telah menjadi bagian dari klub ini.”
“Musim ini, Anda membuat pertandingan menjadi istimewa dengan menciptakan atmosfer dan energi yang luar biasa. Anda berjuang bersama kami untuk setiap bola dan membantu kami mencapai sesuatu yang akan dikenang selamanya. Prestasi ini milik kita semua.”
“Pada hari Sabtu, setelah 20 tahun, dan untuk kedua kalinya dalam sejarah kami, kami akan bertanding di final Liga Champions UEFA. Dan saat kita semua menuju Budapest, Anda adalah pemain ke-12 kami. Dari jam-jam menjelang kick-off, hingga peluit awal, dan di setiap menit pertandingan, mari kita berikan semua yang kita miliki bersama untuk memenangkan trofi ini untuk pertama kalinya.”
“Mari kita dukung para pemain brilian kita untuk membuat sejarah. Kami bangga padamu, dan kami berterima kasih padamu.”
Ayo!
Mikel Arteta
Manajer Klub Sepak Bola Arsenal