"Pak maaf, ini uangnya palsu" kata teller bank tempat saya setoran uang beberapa tahun lalu.
Disitu saya diem, tapi bentar aja biar ga dikira AI.
Ternyata dari sekian banyak lembaran duit yang saya terima dari pelanggan, ada satu lembar yang palsu dan saya ga ngeh, 100 ribuan pula -_-
"Sering sih pak kejadian gini, biasanya kejadian di warung atau toko yang rame jadinya ga sempet di cek detail satu-satu" lanjutnya.
Terus mas tellernya ngasih tips biar hal kaya gini ga kejadian lagi.
Ketelitian jadi kunci utama disini, banyak pengedar uang palsu itu paham kalau kualitas uangnya ga sebagus uang cetakan negara, makanya mereka akan incar pemilik toko yang sedang lengah atau sedang kelimpungan.
Hal pertama yang harus dibiasakan adalah selalu membuka lembaran uang, karna biasanya uang palsu itu dikasih dalam keadaan terlipat atau tertetuk sehingga detailnya ga keliatan. Ini juga mencegah pemilik toko nerima uang sobek/buntung.
Quick screening, langsung cek bagian hologram pojok bawah, uang asli harusnya reflektif dan colour-shifting (ada perubahan warna ketika terkena cahaya), menurut mas tellernya, kebanyakan uang palsu belum bisa meniru bagian ini dengan sempurna.
Dengan begitu, dalam sepersekian detik aja kita bakal tau uang itu ada potensi palsu apa engga, baru kemudian cek yang lain seperti gambar timbul pada gambar pahlawan dan gambar air pada bagian polos uang.
Atau kalau mau keluar budget sedikit, alat UV pengecek uang palsu juga banyak, dan sediakan juga opsi non-tunai seperti qris. tapi trik sederhana diatas bisa diterapkan untuk usaha yang pembayaranya ramai pakai uang tunai, supaya kejadian kaya gini bisa dicegah.
Gimana para pemilik toko, pernah ngalamin kaya gini juga? atau ada tips dan trik buat mencegah uang palsu mendarat di laci kasir kita? coba sharing dibawah yaa. Thank you!
cc : pikyherdiansyah
Untuk akuntan yang sudah agak senior, work days utk ngerjain rutinitas & small tasks. Dan weekend adalah waktu terbaik untuk ngerjain yang besar2 atau yg sifatnya strategis. Work-life-balance? Apa itu?
This is not Jakarta. This is Malang.
Yes, this is the city you've been always claiming "suantai sayang". Traced back from this 2020s, flooding occurs more prevalent in Malang Area. Let's see how could I consider this disaster as the most severe of this decade.
Gimana kalau anak-anak siswa sekolahnya dikasih voucher atau cash 10 ribu aja yang bisa ditukar di gerai-gerai makanan 10 ribu model ini yg dekat dengan sekolahnya, daripada nunggu ada yang meninggal gara2 proses makanan di dapur MBG yang nggak bener