Saya melihat benang disamping kemudian dibereskan, tapi tetep kusut, padahal saya sudah uraikan dengan benar, sebentar saya pejamkan mata, baru ingat yang kusut bukan benang tapi pikiran.
Pulang bekerja saya lepaskan tas ransel dari punggung saya, setelah saya lepas"kenapa bebannya masih terasa dipundak?", saya kira tas masih menempel ternyata tanggung jawab.
Begitulah tanggung jawab tidak bisa dilepas bersamaan dengan tas kerja.
Saat masuk ke kamar saya rasa ada yang berantakan, terus saya rapihkan setelah rapih masih merasa berantakan, lalu saya tidur. Saat bangun saya sadar yang berantakan bukan kamar tapi pikiran.
Terlalu banyak menyisipkan pura-pura pada bahagia bisa jadi itu adalah proses mengubah definisi bahagia itu sendiri karena kita terlanjur menikmatinya.
Sepertinya istilah budak cinta (bucin) adalah istilah yang kontradiktif karena bukankan perbudakan hilang karena cinta? Jadi jika dua kata itu disandingkan tidak cocok, kecuali budak yang dimaksud adalah budak leutik.
Seringkali kita merasa "ketakutan" padahal disaat yang sama kita sendiri yang sedang menyembunyikan "keberanian", menyimpannya dalam peti rahasia hingga kita lupa memilikinya.
Ada ingatan yang tak terlupakan mempermudah bagi kita menulis kesan dan kadang kita lupa menulis pesan saat disuruh menulis kesan dan pesan, maklum udah makan kenyang jadi bingung mau pesan apa...
Butuh alasan untuk kekuatan memulai perjalanan , semakin lama yang terkumpul bukan kekuatan malah ketakutan...
.
Kekuatan tidak terkumpul akhirnya rebahan dan gogoleran memecah persoalan...