Tadi sore anterin istri ke klinik.
Saat lagi di ruang tunggu, ada Ibu hamil bawa anak yang mau ke dokter anak.
Front office (FO): "Bu, dokter hari ini ga praktek ya"
Ibu: "Lho, kok engga. Saya udah daftar tadi siang"
FO: "Oh Ibu ga liat status WA dokternya ya?"
Ibu: "Tadi siang kan ada" (ga jelas maksudnya dia liat status WA si dokter kalo tadi siang disebutkan praktek, atau ya dia udah chat utk daftar mau berobat tadi siang)
FO: "Nah, itu tadi siang Pak Dokter ada update status WA. Kasi tau kalo hari ini ga praktek. Ibu ga cek ya status WA nya?"
Ibu: "Lhooo, jadi gimana ini, dokternya beneran ga ada?" (nada frustasi, sepertinya butuh effort lumayan untuk dia bisa sampe ke klinik dalam kondisi hamil besar dan bawa anak kecil)
FO: "Iya, Bu. Mungkin kalo ga berhalangan, besok dokter ada"
_
Bisnis, sebenarnya, di urusan basic-basic aja sering miss. Ada aja yang ga paham prinsip-prinsip dasar yang ga bole dilanggar.
Ga menempatkan diri sebagai pengguna jasa, sebagai client, sebagai pasien, sebagai pelanggan, emang mudah bikin kita melakukan hal-hal yang konyol.
Denger FOnya nyuruh pasien mantengin status WA dokter, hampir bikin gue pingsan tadi.
Untung sadar kalo ini di Indonesia. Udah banyak "keunikan" yang gue saksikan sendiri. Ini ya, just another ridiculous thing that happened.
Gue jadinya noleh bentar dan lanjut merhatiin anak ku yang lagi mondar-mandir.
_
Kadang tuh cape juga kalo harus ingetin dan ngajarin orang untuk hal-hal yang obvious.
Gue sering bilang, "masa sih gue harus ngajarin manusia jadi manusia?".
Misalnya: ada orang ke kantor nyari gue, trus tanpa nanya tuh org siapa, mau ada urusan apa, staff reception langsung bawa tuh org menghadap ke ruangan gue.
Like what? 🥲
Masa sih harus diajarin hal-hal basic seperti itu. Kalo tamu ya harus jelas dulu dia siapa, konfirmasi dulu ke gue, baru boleh dibawa masuk atau diminta menunggu dulu.
Atau di case di atas, masa sih FO ga bisa ngabarin ngasi tau sejak siang kalo dokter ga ada. 30 pasien, chat satu-satu, 10 menit kelar dah. Ga susah.
Isn't that common sense?
Isn't that logic?
Lagi-lagi, harus ngajarin manusia jadi manusia.
Hal-hal kayak gini, harus banget dikasi tau?
_
Turned out, ya banyak hal yang kita kira basic, ternyata ga semua orang paham.
Terlalu lama hidup di dalam bubble sempit kita, juga bikin hal-hal yang kita kerjakan jadi ga logis.
_
Makes sense ga sih?
Pada mobil matic konvensional, kalau belum benar2 berhenti lalu masuk ke P. Gear transmisi akan terhentak, lama2 bisa aus.
Itu kenapa, saat berhenti utk parkir. Setelah berhenti, tarik rem tangan/parking brake, baru masuk ke P.
Taukah Kalian Berikut Plat Kendaraan Berdasarkan Provinsi di Indonesia?
Setiap kendaraan di Indonesia memiliki plat nomor yang unik untuk mengidentifikasinya. Plat nomor ini terdiri dari kode huruf dan angka yang mewakili asal kendaraan tersebut.
Berikut adalah daftar plat nomor kendaraan berdasarkan provinsi di Indonesia:
TWITTER DO YOU MAGIC 🐱✨‼️
Ditemukan kucing di jalan layang Antasari dengan kalung warna ungu.
Fix ini punya orang. Kemungkinan naik ke atas ban mobil dan jatoh pas mobilnya naik antasari.
Please retweet, thank you!!!!
Heavy rains caused major floods in Veneto, Italy, with 150 mm fallen in less than 48 hours. In Vicenza, the river Retrone's waters invaded the roads and caused scenes like this one.
https://t.co/2kUgBK7XHa
- Calon 03
Dari sekian banyak Ketum Parpol yang yang kedudukannya sulit tergantikan, hanya Megawati yang saat ini berposisi "incumbent" sebagai Ketum yang "petugasnya" telah menjabat sebagai presiden.
Kalau kadernya menang lagi, maka Megawati akan "melanjutkan" kekuasaannya (sebagai atasannya presiden) yang masa jabatannya dia sendiri tak terbatas.
Ketum parpol lain memang banyak juga yang sulit tergantikan. Namun posisi sekarang, PDIP-lah yang berposisi sebagai "incumbent".
Terlalu naif kalau kita bilang bahwa Megawati tidak mempengaruhi kebijakan Presiden. Jumlah menteri saja harus sesuai dengan permintaan Megawati, kan?
Julukan Petugas Partai kepada Presiden jelas menunjukkan bahwa Megawati ingin mengendalikan Presiden.
Hal itulah yang pada akhirnya membuat Jokowi "lari" dari PDIP meski Jokowi baru berani lari menjelang akhir jabatannya.
Kini, "kekuasaan" Megawati akan diteruskan melalui Ganjar-Mahfud. Jika Anda menyadari ini, maka Anda akan sadar bahwa itu tak seharusnya terjadi.
Pendukungnya pasti akan DENIAL dengan menyebutkan jabatan ketum adalah urusan internal. Ya boleh saja berpendapat seperti itu. Namun karena posisi itu mempunyai pengaruh dominan ke Kepala Negara dan sudah 2 periode, ya harusnya itu kita batasi.
Andai di 2024 PDIP kembali memenangkan Pilpres, maka akan menjadi PRESEDEN BURUK untuk demokrasi kita. Presiden akan kembali dikendalikan oleh "atasannya" yang sudah 10 tahun terakhir melakukan itu.
- Calon 02
Salah satu hasil penting dari reformasi 1998 adalah kita bisa membatasi jabatan presiden.
Jokowi yang sudah menjabat sebagai Presiden selama 2 periode kali ini terlihat ingin melanjutkan kekuasaannya melalui Gibran dengan menggandengkannya bersama Prabowo.
Selain "mengondisikan" koalisi partai yang sangat gemuk, Jokowi juga sangat mungkin memberikan pengaruh kekuasaannya hingga bisa mengubah konstitusi melalui MK sehingga Gibran bisa menjadi cawapres.
Terlalu naif kalau kita bilang hasil MK itu kebetulan. Apalagi ketika MKMK sudah jelas mengatakan telah terjadi pelanggaran etik.
Pelanggaran etik tentu bukan pelanggaran hukum. Pencalonan Gibran tak melanggar norma hukum, namun jelas melanggar norma yang lain. Dan itu tidak dengan mudah kita abaikan dengan hanya memakai umpatan "ndasmu".
Pendukung Prabowo-Gibran sudah pasti akan DENIAL mengatakan bahwa toh nanti yang memilih kan rakyat. Namun harus kita sadari bahwa kekuasaan sangat mungkin mempengaruhi suara pemilih. Dan itu jelas tidak fair bagi paslon yang lain.
Menurut perhitungan saya, Prabowo-Gibran dengan segala fasilitas (negara) yang mendukungnya, akan sulit dikalahkan. Lawan Prabowo-Gibran seperti melawan incumbent.
Jika Prabowo-Gibran menang di 2024, maka hal tersebut juga akan menjadi PRESEDEN BURUK bagi demokrasi kita. Demokrasi yang seharusnya menjadi perwujudan suara rakyat yang mengendalikan kekuasaan, ternyata justru bisa dikendalikan kekuasaan.
Sebuah preseden buruk ketika kekuasaan bisa mempengaruhi pengakan hukum.
"Tak Ada Capres yang Tak Retak"
-utas-
Tulisan ini saya persembahkan bagi yang merasa capresnya sempurna. Percayalah, bagi orang lain, capres Anda juga banyak kekurangannya.
- Capres 01
Ketika saya ungkit tentang Pilgub DKI 2017 yang pemenangnya menunggangi agama, pendukung 01 banyak yang membalik tudingan itu ke Ahok. Ketika sudah ada perintah dari "induk buzzer", maka para buzzer akan menyuarakan hal yang sama. Mereka bersama-sama menuding Ahok yang melakukan politik identitas.
Saya jelaskan di sini, kenapa Anies saya sebut menunggangi agama.
Sebenarnya, di Pilpres 2014 dan 2019 juga sama, Prabowo juga menunggangi agama, hanya saja Prabowo tetap kalah (meski menunggangi agama).
Prabowo dan Anies secara pribadi bukanlah Islam garis keras, namun keduanya (2014, 2017, 2019) memanfaatkan fanatisme agama untuk berkampanye.
Saya sebut "menunggangi" karena menggunakan narasi-narasi:
- calonnya yang paling Islam
- memilih calonnya itu jihad
- tak memilih berarti musuh Islam
- tak memilih dituduh PKI
- dll yang sejenis.
Yang menyuarakan ini tentu bukan tim sukses resmi. Isu ini disebarkan melalui grup WA, media sosial dan melalui circle keagamaan.
Jika ini saya sampaikan, pendukungnya akan selalu DENIAL dengan mengatakan itu hanya dilakukan oknum pendukung.
Saya menolak denial itu karena tim sukses resmi juga tak pernah menyanggah suara-suara itu. Tak ada sangkalan secara resmi bahwa mereka tak sependapat dengan oknum tersebut.
Yang terjadi, justru memperkuat narasi itu. Yang terjadi malah menggaet endorse ijtima ulama dan ulama-ulama yang mempertegas bahwa calonnya paling Islam, dst.
Bayangkan, Prabowo yang jelas tidak identik dengan dunia Islam pun 2 kali mendapat endorsement seperti itu. Itu bukti bahwa menunggangi agama itu nyata adanya. Bukan karena calonnya "lebih Islam", tapi mereka akan mendukung siapapun yang menunggangi Islam.
Menunggangi agama: 2014 kalah, 2017 menang, 2019 kalah.
Jika di 2024 metode menunggangi agama ini kembali menang, akan menjadi PRESEDEN BURUK bagi demokrasi kita. Akan menjadi preseden buruk bagi Islam yang akan terus dijadikan "tunggangan" di masa depan.
Pemimpin yg berani adalah pemimpin yg siap menghadapi tantangan masa depan — bukan yg galak dan suka berteriak.
5 tahun mendatang kecil kemungkinan Indonesia diserang negara asing secara militer. Lebih mungkin kita akan kena dampak perubahan iklim, ketimpangan sosial-ekonomi, buruknya pendidikan, dan ketertinggalan ilmu & teknologi.
Berani tak berarti ngawur.