Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon )
Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut
Saya kasih tahu sebab dan alasannya
Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000,
Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena
Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi
Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang)
Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan.
Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah.
Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal.
Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi
Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin
Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi
Panen manual (biaya tenaga kerja).
Pengemasan yang layak.
Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota).
Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya.
Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi.
Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan
Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli.
Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan.
Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton.
Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang
Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga.
Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total.
Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi
Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel.
Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah.
Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Gw rangkum faktanya satu satu supaya lo ngerti seberapa gawat ini sebenernya.
Vietnam udah minta warganya work from home karena kehabisan bahan bakar. Bukan karena pandemi. Bukan karena bencana alam. Tapi karena literally bahan bakarnya habis.
Bangladesh udah mulai rationing ada batasan berapa liter yang bisa lo isi per kendaraan per hari. Negara yang ngantri bensin kayak ngantri sembako.
Ribuan penerbangan dibatalkan di seluruh dunia. Maskapai maskapai terpaksa rerouting semua rute, bawa extra fuel, dan berhenti darurat di bandara bandara yang tidak direncanakan. Biayanya gila gilaan.
British Airways langsung turun 6 persen di bursa. EasyJet turun 4 persen. Dan semua maskapai sekarang lagi review ulang semua rencana ekspansi mereka.
Sementara maskapai Amerika yang udah stop hedging biaya bahan bakar bertahun tahun lalu — sekarang harus bayar 120 dolar per barel langsung tanpa perlindungan apapun.
Dan ini belum yang paling ngeri.
Kilang minyak terbesar UAE di Ruwais offline kena drone strike. Kilang terbesar Arab Saudi offline. Fasilitas LNG terbesar Qatar ditutup.
Tiga sumber energi terbesar di kawasan Teluk kena dalam waktu yang hampir bersamaan.
JPMorgan udah kalkulasi kalau Selat Hormuz beneran ditutup total, dunia kehilangan 4.7 juta barel per hari dalam 18 hari pertama aja.
G7 besok rapat darurat soal pelepasan cadangan minyak strategis. Prancis udah siapkan misi militer khusus buat buka kembali jalur pelayaran.
Dan ini baru hari ke 11.
Sekarang gw mau nanya soal Indonesia.
Kita impor minyak. Kita impor pupuk. Kita impor kedelai. Kita impor gandum.
Semua jalur impornya lewat atau terdampak dari situasi yang lagi gw ceritain ini.
Dan pemerintah kita masih bilang situasi terkendali.
Sementara Vietnam sudah work from home. Bangladesh sudah rationing. Eropa sudah panik.
Kita masih nunggu sampai antriannya nyampe ke depan pintu kita baru gerak.
Dan biasanya di saat itu udah terlambat.
Mari kita usahakan bantal-bantal enak versi low budget itu, king koil minggir dulu :
1. King Rabbit
2. Lady Americana
3. Bantal Domi
4. Quantum Hotel Pillow
5. Lazy Sunday
Chelsea have beaten Champions League, Europa League, English, Spanish, and French league champions but they couldn't beat Arsenal because Arsenal haven’t won anything.
Sedih bgt liat data ini.
Keliatan jelas kalau di 🇮🇩 gak lagi jadi tujuan utama ekspansi perusahaan manufaktur skala global. Banyak big manufacturers sekarang pilih 🇻🇳 or 🇹🇭
Dan kalau manufaktur di suatu negara makin kecil, lapangan kerja lokal otomatis makin sedikit dan makin kompetitif.
Bukan cuma untuk kerja pabrik, tapi IMO, seluruh ekosistem talent-nya ikut ketarik efeknya.
Maybe gue bener2 harus makin sering sharing aja and just doing my part di hal yg gue mungkin lumayan ngerti, soal kerja remote, bikin cv dan cara interview.
Karena kalau peluang kerja di indo makin sempit, solusi paling realistis itu ngebuka akses buat orang indo kerja di company global via remote working. Di India, PH, malaysia bahkan vietnam remote workers nya banyak bgt asli.
“Bahkan jika reinkarnasi itu benar-benar ada dan kita bisa hidup untuk satu kali lagi di kehidupan yang lain nanti, ku pastikan aku akan tetap memilihmu, entah nanti akan berakhir sama atau tidak”
Quote yang selalu di ingat dari film SORE😭😭
The president of Como 1907, Mirwan Suwarso, recently spoke on @TheAthleticFC about the decisive influence Cesc Fàbregas has on player recruitment. 👇
"Sometimes we had a Data Player. According to our data, the guy wasn’t good enough. But Cesc said, no, no — this is because he’s playing differently. With us he will play like this, this and this… and I can prove the data will be wrong. It will not be what the data says."
"And he has proven that with 2 players, if not more. One I remember is Lucas Da Cunha. He was a player that initially was a winger. He moved him into defensive midfielder. We bought him for 250.000 and we are now having offers for 15 million. That's all down to Cesc."
Sometimes the data looks bad — not because the player isn’t good, but because they’re in the wrong role or context. This is why it’s so important to have people in your club who understands the game and can see a player’s real value, even when he’s being used in the wrong role. Those are the types of players you can get for very little and eventually sell for a big fee.