- 8 kali idul fitri nggak pulang
- 9 kali idul adha nggak pulang
- missing countless weddings (including best friends)
- tidak melihat tumbuh kembang ponakan/sodara
- setiap pulang selalu bingung lhakok emak bapak udah tua banget
Bocah2 yang berbuat kriminal diluar batas dan keberaniannya karena orangtuanya pejabat dan bisa nyogok polisi atau jaksa emang bagusnya lepasin aja. Biarkan keadilan ditegakkan berdasarkan dendam pihak keluarga, jika negara gak mampu dikasi amanah.
Kasus seperti ini akan ada terus, karena negara gagal mengimplementasikan fungsi "efek jera" pada hukum
Bahasa Surabaya vs Bahasa Jogja
Sama-sama bahasa Jawa, tapi bahasa Jawa di Jawa Timur, khususnya Surabaya (dan sekitarnya), berbeda dengan bahasa Jawa di Jogja.
Selain beda logat dan beda pengucapan, bahasa Surabaya (Suroboyoan) dan Jogja juga punya kosakata yang benar-benar berbeda.
Tulisan ini berdasar pengalaman saya saja sebagai warga Jatim yang sekolah di Jogja dan sejauh yang saya ingat. Saya dulu awal hidup di Jogja benar-benar banyak tidak paham dengan kosakata Jogja. Apalagi waktu itu saya masih SMP, jadi wawasan pergaulan memang belum luas.
Berikut ini daftar kosakata bahasa Jogja yang saya sandingkan dengan bahasa Surabaya dan arti dalam bahasa Indonesia.
Kata umum:
Bocah - arek - anak-anak
Kowe - koen - kamu
Kowe - sampean - anda
Kuwi - iku - itu
Ora - gak - tidak
Piye - yok opo - bagaimana
Kata khusus:
Bada - riyoyo - lebaran
Bajingan - jancuk - umpatan paling kasar
Bajinguk - jancik - plesetan umpatan supaya lebih halus
Bali - mulih - pulang
Cawet - sempak - celana dalam
Dong - ngerti - paham
Gasik - luwih isuk - lebih awal/pagi
Gojeg - guyon - bercanda
Isah-isah - korah-korah - cuci piring
Jungkat - suri - sisir
Kangsenan - janjian - janjian
Kêmaki - kêményék - belagu
Kêmayu - éndél - genit
Kesel - pegel - capek
Kulah - jeding - kamar mandi
Madang - mangan - makan
Mari - waras - sembuh
Mobil - montor - mobil
Montor - sepeda montor - motor
Mumet - ngelu - pusing
Mubeng - mumet - berputar
Ndene - rene - ke sini
Ndono - rono - ke sana
Ngundang - nyeluk - memanggil
Pit - sepeda - sepeda
Plintheng - tepil - ketapel
Rampung - mari - selesai
Rêgêd - rusuh - kotor
Sêngit - jêmbêk
Sesuk - mene - besok
Singsot - anil - bersiul
Udud - rokok - rokok
Wagu - gak pantes, elek - tidak pantas, jelek
Wangun - apik - keren
Waton - ngawur - ngawur, asal
Itu tidak termasuk yang bentuk katanya hampir sama tapi pengucapannya beda atau beda sedikit, seperti:
Dolan - dulin - pergi main
Duwur - dukur - tinggi
Hurung - durung - belum
Ndek ingi - wingi - kemarin
Rêsék - rêsik - bersih
Uwit - wit - pohon
dll.
Untuk mengatakan "sangat", orang Surabaya menambahkan sisipan "uw" pada suku kata pertama kata yang dimaksud. Di Jogja, hal ini tidak berlaku.
Contoh:
- Sangat tebal (kandel):
Jogja = kandel banget
Surabaya = k-uw-andel
- Sangat gemuk (lemu):
Jogja = lemu banget
Surabaya = l-uw-emu
- Sangat jauh (adoh):
Jogja = adoh banget
Surabaya = uw-adoh
Namun ada beberapa kata dalam bahasa Jogja yang saat mengatakan "sangat" itu mengubah huruf vokal terakhir dengan huruf "i".
Contoh:
- Sangat jelek (elek):
Surabaya: uw-elek
Jogja: elik
- Sangat merah (abang):
Surabaya: uw-abang
Jogja: abing
Kalau sangat-sangat?
Bahasa Surabaya sehari-hari bisa memakai sisipan "uw" di "setiap" suku katanya atau menambahkan jumlah huruf "u" pada sisipan "uw". Makin banyak "u", berarti makin "sangat".
Bahasa Jogja, bisa mengombinasikan antara mengubah huruf belakang jadi "i" dan kata "banget". Plus kata banget yang dimodifikasi menjadi "biyanget".
Contoh:
- Sangat-sangat jelek (elek)
Surabaya: uw-el-uw-ek, uuuw-elek
Jogja: elik banget, elik biyanget
- Sangat-sangat besar (gedhe):
Surabaya: g-uw-edh-uw-e, g-uuuw-edhe
Jogja: gedhi banget, gedhi biyanget
Catatan:
Sisipan "uw" dalam bahasa Surabaya seringkali tidak ditulis huruf "w"-nya.
Contoh: sangat malas = m-uu-ales
@KompasTV Jika tempat lama tdk membuatmu berkembang,tinggalkan lah.
Jika kau tidak mencintainya,putuskan lah.
Jika beban dipunggung mu berat,turunkan lah.
Ironisnya kenaikan jumlah wajib pajak yg lapor SPT dianggap sebagai prestasi oleh DJP, bukan prestasi masyarakat Indonesia itu sendiri. Bayangkan kamu setor duit ke negara, dan yg dapet bonusnya adalah pejabat.
PNS itu memang paling gampang diatur segala macamnya. Tukin ga naik, diem. Gaji gak naik, diem. Tukin dipotong, diem. THR ga ada, diem. THR setengah, diem. THT ditunda, diem. Karena memang ga punya kekuatan untuk melawan. Jd ya akhirnya diatur suka-suka. Ga pake GCG ya gpp.
Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Timur, Sudarman Harjasaputra, telah dibebastugaskan dari jabatannya buntut pamer harta dan gaya hidup mewah istrinya di media sosial.