GEAR 2 - DODY HANGGODO
Sebelum jadi Menteri PU, nama Dody Hanggodo nyaris tak dikenal publik.
Insinyur Perminyakan ITB, master di Tulsa AS , tapi jejak terbesarnya bukan di migas, melainkan di kursi komisaris perusahaan sawit dan batu bara.
Thread ini bukan opini.
Semua fakta dari Kompas, Tempo, Antara, CNN Indonesia, Detik, Liputan6, https://t.co/PiSyz75KuG.
Cek sendiri linknya di akhir thread.
Kalo dilihat-lihat, jabatan yg sering dibagiin ke simpatisan itu komisaris ya. Tau gak kenapa komisaris ini jadi jabatan yg suka dibagiin dengan gampangnya?
Ya, karena jabatan komisaris itu :
> Kerjanya cuma ngawasin & ngasih masukan ke direksi
> gak megang operasional
> gak nentuin keputusan harian
Dan kenapa pada mau dikasih jabatan ini?
> Gajinya gede
> Gak butuh kompetensi teknis spesifik
> modal "dipercaya" aja udah cukup
> Gak ada KPI yg jelas buat dievaluasi publik
> minim risiko keliatan "gagal"
> Bisa diisi tanpa proses seleksi terbuka & gak butuh izin teknis
Beda sama direksi, itu pegang operasional langsung, kalo perusahaan ambruk ketauan siapa yg salah. Makanya posisi ini jarang dipake buat "bagi-bagi kursi".
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari. Intinya, "Menyerahkan suatu urusan, keputusan, atau tanggung jawab kepada seseorang yang bukan ahlinya (tidak memiliki kompetensi/ilmu) adalah sebuah bentuk pengkhianatan amanah yang akan berujung pada kekacauan dan kehancuran".
Inter tidak terburu-buru karena ide dari manajemen mereka sudah terstukur. Skuad saat ini juga masih bisa di keep walau perlu upgrade untuk kedalaman cara Inter melayangkan proposal juga sebetulnya lebih pintar dari kompetitornya.
Ini menurut gua pribadi, salah besar Inter tidak memiliki anggaran untuk belanja. Nyatanya mereka siapkan dana untuk Palestra sebagai contoh tapi memang cara mereka menggerus durasi negosiasi.
Ausillio punya andil gede disetiap gagalnya pemain yang diincar, yang bikin jelek situasinya disetiap transfer Inter ketika klub mengajukan tawaran final itu klub besar masuk dengan tawaran yang diminta klub pemain.
Memang secara kesungguhan klub sekelas Inter situasi seperti ini membuat citra klub terlihat pelit untuk menggaet nama yang dinilai jadi incaran kunci.
Perlu pengorbanan yang signifikan, tapi perlu dicatat sejauh ini tetap mereka yang unggul dalam penggunaan uang untuk Investasi pemain yang mengacu kepada hasil.
Semua pemain sekarang bisa dinilai dengan data bahkan untuk rentetan potensi kontribusi dan cedera, ini faktor penting tapi sekali lagi dalam sepakbola semua dinilai pada hasil akhir.
Mvs Si gendut jahat itu(lotso), minta bantuan dan lalu meninggalkan orang2 yg menaikkan derajatnya. Yg tertinggal hanya rakyat yg bergandengan tangan saling menguatkan.