Kualitas hubungan seksual tidak ditentukan oleh frekuensi, durasi, atau variasi teknik, melainkan oleh kenyamanan, persetujuan, komunikasi yang baik, rasa aman, dan kepuasan kedua pihak. Hubungan yang sehat adalah yang saling menghargai dan membahagiakan. Setuju?
Polemik unggahan Pride Month oleh pers mahasiswa di UI dan Unair kembali memicu perdebatan publik. Konten dari akun media sosial seperti SUMA UI dan Mercusuar Unair menyoroti masalah persekusi, kekerasan, serta diskriminasi yang masih dihadapi kelompok queer di Indonesia.
Isu ini memicu polarisasi: sebagian mendukung atas dasar HAM dan inklusivitas, sementara yang lain mengecam karena dinilai kontra dengan norma sosial.
Bagaimana anda menyikapi ini?
Sebagai kelompok dengan orientasi seksual yang berbeda (LGBTQ+), sikap dan perilaku apa yang perlu kita jaga agar bisa hidup nyaman di Indonesia?
Yuk, share pendapat kalian,,,
Beberapa orang mengirim pesan pribadi kepada saya untuk mengucapkan terima kasih atas tulisan-tulisan saya tentang orientasi seksual. Ada yang bercerita bahwa kini dirinya lebih diterima oleh keluarganya setelah saudaranya membaca postingan saya. Ada pula yang mengaku dulu sangat homofobik, tetapi setelah memahami informasi yang saya bagikan, pandangannya menjadi lebih terbuka. Pengalaman-pengalaman seperti ini membuat saya semakin yakin bahwa edukasi yang berbasis fakta dan empati dapat membantu mengurangi stigma serta membangun pemahaman yang lebih baik. Karena itulah saya menulis buku ini: agar kita semua mau memahami sebelum menghakimi. Buku tersebut dapat dilihat di sini: Buku Saya di Shopee : https://t.co/n4erzt8pOn
Wajah boleh tampak keras dan tegas, namun hati yang lembut selalu mampu menerima perbedaan. Karena kekuatan sejati bukan terletak pada penampilan, melainkan pada kebesaran hati dalam menghargai sesama.