Pintu itu ku buka, namun tidak ku temukan jejaknya
Menoleh kesana kesini juga tidak kudapatinya
Gerutu, gusar, isak, geram, sendu, dan segalanya menjadi satu
Tak lama ku menyadarinya;
Dan benar saja, bahwa segalanya hanya sementara
Pesan sejawat terbaikku; jadikan menangismu di atas tawa manusia atas kelahiranmu, jadikan pula tertawamu di atas duka manusia atas kehilangamu. Semoga kelak mampu berkumpul bersama nanti, di rumah-Nya!
Lirih pekan ini; ku buka galeri, ku tutup lagi. Sedikit memory, namun jejak mengitari. Rupawan itu tinggal cerita, rindu menutupi kecewa, sebab Dia berkuasa. Kesedihannya menjadi dedak, bak serpihan tepung yang habis disapa angin.
Bayangkan, hidup tanpa rahmat-Nya. Apakah mampu melewati setiap harinya? Ngaku beriman tapi malah bermain dengan kuasa-Nya. Apa perlu Allah yang menegaskan dengan kesulitan? Ingat, istidraj lebih menakutkan. Allah biarkan engkau dalam kesenangan, namun membiarkan dalam kelalaian~
Sesaat pintu ditutup, jalanan mulai menyapa seakan bulan pun ikut mengikuti. Terbiasa saling bertanya; keadaan, keluarga, bahkan rencana masa depan pun tak luput ditinggalkan. Saling tertawa memang ada, namun tidak lupa berbagi hikmah harus pasti ada.
Godaan terbesar setelah perjalanan panjang juga aktivitas padat adalah shalat. "Ada satu yang perlu diingat", ucapnya. Bukankah shalat mengandung dialog hamba dengan tuhannya?!. Dengan begitu, "Bukan kita yang malas untuk menemui-Nya, justru Allah yang malas menemui hambanya".
Kepekaan sosialnya dari dulu emang tidak luntur, simpati serta empati sering kali ditujukan bukan hanya keluar dari mulut belaka. Begitulah yang diajarkannya, berbuat baik itu berjuta cara.
Di meja tamu itu saat kami hendak nyantap hidangan, "itu watir bapak jeng istrina nu ngais budak ker neangan korsi kosong sigana, ke arurang pindah heeh urg nu nyamperkeunna", kurang lebih begitulah perintahnya.
"Gada yang harus buru-buru dalam hidup, 1 hal yang harus buru-buru ya shalat doang. Kita hidup nunggu mati, dan bekerja ya nunggu waktu shalat". ~Koh Steven Indrawibowo. Allahummaghfirlahu..
Tidak adanya kebersamaan dengan [Al-Qur'an] bukan karena kesibukan namun karena tidak meluangkan. Berlaku juga dengan segala aspek, kan?
Jadi, kapan bisa jadi makmumnya? Eh meluangkannya hhehe