@valeriegoeswild@soievs@registered5nov Dibaca baik² ya ka... dia ga negor yg bersangkutan, tp ngomong ke staf. Dan stafnya ngomong, 'kl rame bgt baru ditegor'.
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
The woman in the photo is named Rola. She says she found the phrase (There is no god but Allah) engraved in Arabic script on the walls of her grandmother's house in Spain... And when she asked her mother in astonishment, her mother revealed to her secrets that had been kept for hundreds of years and told her that her ancestors were Muslims:
"Oh Rola, your ancestors lived in a time when the (Inquisition campaigns) showed no mercy, and they monitored every aspect of our lives; the people running those campaigns would first search the (bathrooms) as soon as they entered the house; because your ancestors were the pinnacle of cleanliness and purity, using water in the bathroom instead of paper towels.
They monitored water consumption; so anyone who bathed a lot or purified their home and sprinkled the courtyards with water would immediately be accused of performing ablution and praying... And their punishment was death! So they would purify their homes in complete secrecy and with extreme caution.
The Quran and prayer beads:
Finding a piece of paper with an Arabic letter or (prayer beads) meant the end for that person... So they would engrave the declaration of faith inside the stone and cover it with paint, and they would count prayers with their fingers inside their pockets.
A tongue that bears witness to the truth:
To this day, Spaniards utter words like (ojalá) whose origin is (inshallah), and the word (olá) whose origin is (wallah), and even the word (cabreír) to describe cruelty, taken from (kafir), which our ancestors used to describe those who betrayed the covenant and double-crossed the Muslims at that time.
My daughter, even in death, your ancestors would deceive death to keep their faith alive... So to this day, in villages in southern Spain, when someone passes away, people recite mournful melodies and ambiguous words like (laila... laila) or (lala e lala).. They think it's just a tune for farewell, but the truth that our ancestors hid from the eyes of the Inquisition courts is that it's a distortion of the declaration of faith (There is no God but Allah).. They would teach the deceased Muslims the testimony through 'the melody' so the authorities wouldn't understand, and the word remained on the tongues of the descendants as a 'sound' after its original meaning was lost in the hearts for hundreds of years."
And in the end, Rola announced her decision, saying: "After everything I've learned, I can no longer stay silent.. I must now be a Muslim just like my ancestors, I want to return to their true image and carry the trust they engraved on the walls with their blood and souls."
And Rola recounts with heartache what happened after her conversion to Islam: "Since entering Islam, I've started crying for them by days, weeks, and months.. I would ask myself bitterly: I wonder what you must have felt, my ancestors, when the inquisitors entered your homes to search them? What was your feeling in those moments? With every nightfall, and with every prostration I make now, my tears pour forth with longing and pain for what they endured."
@bedewi110
#الأندلس #الموريسكيون #إسبانيا #التاريخ_الإسلامي #لا_إله_إلا_الله #قصص_مؤثرة #الوعي #الحقيقة #آدم
GIBRAN GA SUKA POSTINGAN INI!
Tiap bulan, gaji lo dipotong buat bayar gaji dia.
Tapi lo tau gak? Ada cara LEGAL buat bayar pajak lebih efisien.
Bukan ngemplang. 100% legal. Ini yang konsultan pajak charge lo Rp. 5 juta buat kasih tau:
Jadi “Flu” dan “Cold” atau masuk angin bahasa awamnya itu beda penyebabnya dan gejalanya.
Flu itu disebabkan Virus Influenza yang secara umum lebih berat dibanding “Cold” tapi ada vaksin untuk mencegah / mengurangi keparahan yang diberikan 1 tahun sekali.
Sedangkan “Cold” bisa disebabkan oleh banyak virus seperti Rhinovirus, Adenovirus dll yang biasanya gejalanya lebih ringan dan tidak ada vaksinnya -> kita pasti pernah kena.
So yang perlu dipahami keduanya tidak diobati dengan Antibiotik karena bukan Bakteri + yang terpenting menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh sebagai pertahanan utama dalam menghadapi penyakit ini.
dr. Ayman Alatas Sp.M.K
@Polyglot7777 @SyakiraVersion @petirrr_@Rezmu21@folkshittmedia Hadits kalo sanadnya sdh shahih sdh pasti ga ada perdebatan oleh ulama, akan diterima oleh semua ulama. Apalagi riwayat Bukhari dan Muslim.
Ini maslahnya lu nya aja yg denial, sesimpel itu.
Peristiwa Bi’r Ma’unah adalah tragedi memilukan dalam sejarah Islam. Rasulullah ﷺ mengutus 70 sahabat penghafal Al-Qur’an untuk berdakwah ke Najd dengan jaminan keamanan.
Namun, pengkhianatan terjadi. Haram bin Milhan gugur saat menyampaikan surat Rasulullah, dan seluruh rombongan dibantai tanpa ampun, kecuali satu orang yang berpura-pura mati.
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi Rasulullah ﷺ, hingga beliau berdoa selama 30 hari untuk kaum pengkhianat. 🧵