Topik kelas Islamic Law and Society hari ini adalah soal fatwa. Dan karena masih suasana lebaran, kali ini saya mengajar pakai batik 🙏🏻😊
Di Australia, saya jelaskan kepada para mahasiswa saya satu hal: fatwa itu tidak selalu datang dari satu suara yang pasti. Tidak ada “mufti negara” yang tinggal kita tunggu jawabannya. Yang ada justru banyak suara—imam lokal, organisasi, ulama luar negeri, bahkan potongan ceramah di TikTok atau YouTube.
Dan jujur saja, kadang itu membingungkan buat umat Islam di sini. Paling tidak ada 4 orang yang mengaku sebagai mufti Australia.
Mahasiswa saya mengira fatwa itu seperti jawaban final: jelas, tegas, selesai. Tapi yang terjadi, rasanya lebih seperti proses. Orang bertanya bukan hanya soal halal–haram, tapi soal bagaimana tetap jadi Muslim sambil hidup di dunia yang sangat berbeda dari konteks klasik kitab-kitab fiqh.
Misalnya soal riba, pendidikan anak, atau sekadar: “Gimana sih jadi Muslim yang ‘fit’ di society kayak Australia?”
Yang menarik, orang tidak lagi sekadar “ikut” otoritas. Mereka memilih. Mereka dengar banyak pandangan, lalu ambil yang paling masuk akal, paling relevan, atau paling “kena” di hati mereka. Fatwa jadi seperti ruang dialog—bukan monolog.
Tapi di situ juga ada sisi rawannya.
Kalau semua suara bisa diakses, siapa yang benar-benar kita dengarkan? Kalau semua fatwa tersedia, mana yang benar-benar membimbing—bukan sekadar menenangkan?
Saya jadi merasa, mungkin inti fatwa di konteks seperti ini bukan lagi soal menemukan jawaban yang paling benar, tapi yang benar-benar memahami realitas hidup kita, tanpa kehilangan arah pada nilai-nilai dasar agama.
Jadi, fatwa bukan sekadar “jawaban dari atas”.
Kadang, ia adalah perjalanan—untuk pelan-pelan belajar memahami apa yang Tuhan minta… di dunia yang terus berubah.
Dan kalau Nabi berpesan: “minta fatwa pada hatimu”, sungguh diriku pun jadi klepek-klepek, sebab bukankah isi hatiku cuma tentang dirimu, sayang? 🥰🌹
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Postingan ini sok tahu amat.
Kalau cuma sekedar hitung 100 tahun, dengan taqwim standar yg digunakan Kementrian Agama juga bisa. Sekalian dah 1000 tahun, boleh.
Problem kalender hijriyah jauh dari sekedar ini. Ahli falaq sedunia udah bolak balik konferensi belum nemu solusi.
di “Cesarean Moon Births” tulisan Syaikh Hamza Yusuf seputar Rukyat vs Hisab,
salah satu poin penting beliau ya ini,
pergeseran tradisi rukyat menjadi murni perhitungan saja itu sesuai prediksi hadits bahwa umat Islam akan mengikuti umat Yahudi & Nasrani hingga ke lubang biawak
Banyak yang menganggap bahwa yang menolak KHGT itu Mas @ainunnajib, Gus @na_dirs dan orang-orang NU saja.
Juli 2024 saat konsep KHGT mulai diperkenalkan @muhammadiyah, Persis juga menolak.
Di istinbathkan, "tidak sesuai syar'i dan sains".
Jadi memang bukan cuma NU.
WUIH SAYA SALAH
Ternyata bahkan di Alaska, Amerika Utara dan seluruh Amerika pun hilal gagal terlihat!
Amerika Serikat 🇺🇸 mulai puasa besok malam waktu kita, 19 Feb pagi waktu setempat