Orangtua yg ngizinin anaknya ikut demo itu waras? Sekalipun kalian taunya pawai, tp ternyata demo, kalian ga ngamuk?? Itu anak lo disuruh panas2an buat apa? Istigfar jadi orangtua hey istigfar
@calmejelll Ka emang bpjs itu bisa dicek pake NIK di seluruh Indonesia. Ada pemerintah daerah yg otomatis memasukan warganya jd BPJS PBI kalau blm terdaftar BPJS, bukan aceh aja, jakarta juga. Tp tetap seharusnya PBI ini dikhususkan untuk warga miskin ya
Ada yg ngeluh negara lagi kaya gini, terus gue tanya "bukannya dulu pendukung bapak presiden ya? " 'Iya sih tp ya sekarang kaya gini banget'
Oh tobat ya wkwk
HIDUP MAHASISWA
HIDUP RAKYAT
Beberapa tuntutan aksi:
1. Setop pemborosan APBN
2. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM
3. Hentikan program MBG dan pembangunan KopDes
4. Hentikan militerisme di ranah sipil
5. Prabowo berhenti mengelak dan mengakui kesalahannya
SAMPAI MENANG โ๐ป
Gilaaaa!!!
Tuntutan thd Nadiem Makarim adl
*Penjara: 18 Tahun
*Denda : 1 Milyar (190 hari)
*Uang Pengganti 809 Miliar + 4 T (9th)
Pdhl di setiap persidangan dakwaan thd Nadiem terbantahkan.๐
Tetap kuat Nadiem ๐ช๐ป
Masih ada proses selanjutnya.
Smoga Majelis hakim memegang asas keadilan & berpikir sangat jernih dlm memutuskan kasus ini.
Berani memegang prinsip beyond a reasonable doubt.
Amin ๐๐ป
Pilih mana?
RSUD jujur dari awal, biar keluarga cari alternatif?
Atau
Diterima tapi tidak terurus maksimal?
Kalo pejabat suka yg kedua, tidak membuka masalah kekurangan faskes di daerah, tidak masuk media, toh warga umumnya gak tau kualitas yg harus mereka terima..
@penduduk_lokal_ Jawa barat masih tinggi dalam angka pernikahan remaja, kehamilan remaja juga tinggi, diikuti tingkat pendidikan rendah, Angka kematian ibu dan bayi juga tinggi. banyak sekali tugasnya, tp yg dibangun adalah SPPG. jujur miris
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.โ
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.โ
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
jd sebelah rumah gue itu rumah kosong, dan katanya ada ular, malam tadi suami liat kaya ada ular, tau hal pertama yg dia lakukan? bukannya nyalain lampu dan senter, tp teriak dulu "yang ada ular yang". pas dicek ternyata cacing
lolos CAT CPNS bukan cuma soal untung2an, pertana strategi lo pilih formasi (ga saklek harus didaerah lo, tp pilih sesuai peluang), kedua ketelitian lo dalam mengurus berkas, ketiga belajar skd, seberapa sering lo latihan. jd aneh banget kalau ada kementrian yg mau giveaway
"mamanya gaffi pendiem ya jarang ngomong", jujur energi ku sudah habis di pelayanan IGD, jd pulang pengennya rebahan, nganter anak kadang udah cape krn abis jaga malem, atau mau jaga siang, aku mau simpan energi untuk menghadapi karakter2 orang nanti haha
๐ท Sudah ada buku Rasa Bhayangkara Nusantara. Sudah gencar melakukan campaign di fasum-fasum ber-eksposur tinggi. Tapi mengapa belum ada akun tandingan sebagai penyeimbang kami?
Mengapa alih-alih mengunggah menu-menu yang berpedoman pada buku ini, espepege malah lebih gemar mengunggah konten-konten nirfaedah yang amoral, joget-joget dan/atau terkadang konten-konten haus empati yang menunjukkan rasa lelah dan pengorbanan para relawannya? ๐คข
Jika ada buzzer yang menyambar pendapat kami ini dengan pendapat,
"Sebenernya banyak yang upload. Tapi pasti gak viral. Kalah rame sama yang ngupload jelek-jeleknya aja."
Lho kok bisa? Kok bisa punya pola pikir yang begitu?? Kenapa bisa kalah viral?? Kan ini program / proyek penguasa. Seharusnya kalo adu data dan adu pujian-pujian lazimnya ya kalian jauh lebih menang dong ketimbang kami. Wong kalian penguasa:)
Apa sebetulnya kalian mulai menyadari kalau embege ini memang penuh kecacatan, jauh lebih banyak rakyat yang mulai tidak setuju, tapi sebagai bentuk 'coping mechanism' kalian selalu denial dengan,
"Ah, percuma ngupload yang bagus-bagus, kalo kalian uda terlanjur benci sama pemerintah yaa kalian bakalan kritik terus, nyerocos terus."
Mbelgedes. Pengecut. Masalahnya yang ngupload bagus-bagus emang cuman seuprit, njingg. ๐
weh, ada dokter hewan ngadain webinar campak. padahal gausah webinar juga jawabannya jelas, mengatasi campak mandiri caranya ya VAKSIN. ada yg mudah kenapa harus repot sih
pengen ngajakin bukber, tp tahun ini bener2 nyimpen dines buat mudik huhu, jd gabisa tuker2an lagi. jujur bukannya aku gamau,tp susah bangett, cuti aja susah