🙌 Gattuso cheered on Poulsen’s face. Milan qualified for the round of 16 of the Champions League, where he will destroy another German team: Bayern Munich (1-1 in Germany, 4-1 in San Siro). ❤️🖤 More unforgettable nights from Rossonera Epic!
🇮🇷🇺🇸| Hari ini, 38 tahun yang lalu, AS menembak jatuh pesawat penumpang Iran, menewaskan 290 orang di dalamnya.
Kapal USS Vincennes, pada tahun 1988, menembak jatuh pesawat sipil IR655 di atas perairan teritorial Iran di Teluk Persia, menewaskan seluruh penumpang yang berjumlah 290 orang, termasuk 66 anak-anak & 16 wanita… dan kaptennya bahkan mendapat hadiah dan AS tidak pernah meminta maaf.
Guys, ada rapat yang bocor hari ini yang menurut gue paling mempermalukan Indonesia di depan investor asing.
Dan yang paling mengejutkan yang ngomong paling keras soal betapa rusaknya sistem kita bukan pengkritik pemerintah.
Bukan oposisi.
Bukan ekonom independen.
Tapi Purbaya sendiri.
Menteri Keuangan kita.
Ceritanya simpel dan sangat memalukan:
Ada perusahaan dari Amerika Serikat, Singapura, dan Arab Saudi yang masuk ke KEK Mandalika Lombok.
Mereka diundang oleh ITDC perusahaan negara yang mengelola kawasan itu untuk membangun instalasi pengolahan air laut menjadi air bersih.
Mereka datang.
Mereka investasi.
Mereka bangun infrastruktur.
Mereka operasi.
Mereka suplai air ke hotel-hotel di Mandalika termasuk untuk kebutuhan MotoGP.
Lalu apa yang terjadi?
ITDC membuat anak perusahaannya sendiri untuk ambil air dari PDAM memotong kontrak dengan investor yang sudah mereka undang.
Investor yang sudah keluar uang besar,
sudah bangun infrastruktur,
sudah operasi tiba-tiba kehilangan pelanggan karena pelanggannya pindah ke perusahaan yang dibuat oleh si tuan tanah sendiri.
Penghasilan investor turun dari 100% ke 10%.
Karyawan lokal satu per satu resign karena tidak ada pekerjaan.
Mesin berhenti.
Investor menyerah.
"Kami sudah tidak punya harapan."
Dan ini kata-kata Purbaya di rapat itu langsung, tanpa sensor:
"Ini bisnis yang enggak benar."
Anda undang investor masuk.
Lalu Anda buat perusahaan Anda sendiri jadi pesaingnya.
Pasti investornya kalah.
Pasti dikalahkan.
Harusnya dari pertama kalau mau gitu
jangan undang investor.
Tapi karena sudah terlanjur diundang
sekarang jadi kacau.
"Enggak mau berbagi untung.
Padahal sudah ngundang orang masuk."
"Ini cara membunuh investor.
Begitu gampang pasti kabur.
Muka kita jelek sekali."
Gue ulangi ini bukan kata pengkritik pemerintah.
Ini kata Menteri Keuangan Prabowo sendiri.
Dan soal izin ini yang paling bikin geleng kepala:
Berdasarkan perjanjian yang sudah ditandatangani dari awal ITDC yang wajib mengurus izin operasional untuk investor itu.
Rapat itu terjadi setelah 5 tahun proyek berjalan.
Izin belum keluar.
Ketika ditanya kenapa jawabannya berputar-putar. Butuh kajian teknis.
Butuh konsultan.
Konsultan butuh bayaran.
Tidak ada yang mau bayar.
Masing-masing pihak saling tunjuk.
Lima tahun. Izin belum ada.
Investor sudah bangkrut duluan.
Dan solusinya ditemukan di rapat itu dalam hitungan menit:
Purbaya telepon langsung perwakilan investor yang ada di Bali.
Tanya: kalau proyek dilanjutkan,
kapan bisa kirim tim ke Mandalika?
Jawaban: empat sampai enam jam.
Lima tahun mandek karena birokrasi.
Empat jam untuk siap jalan kalau ada yang mau gerak.
Dan izin yang katanya butuh berbulan-bulan ternyata bisa keluar dalam 5 hari kerja.
Bahkan lebih cepat kalau ada yang monitor sungguh-sungguh.
Dan ketika ITDC bilang ada benturan kepentingan kalau mereka yang urus izin:
Purbaya langsung semprot:
"Enak aja Anda ngomong benturan kepentingan ketika Anda rugi.
Waktu Anda bikin anak perusahaan sendiri jadi pesaing investor waktu itu Anda enggak bilang benturan kepentingan."
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Kasus Mandalika ini bukan kejadian langka.
Ini bukan kesalahan satu orang atau satu perusahaan.
Ini adalah cerminan dari sistem yang terjadi di seluruh Indonesia.
Investor diundang masuk dengan janji manis.
Setelah masuk dipersulit izinnya.
Dibuat pesaing dari dalam.
Dikuras sampai tidak bisa bertahan. Lalu pergi.
Dan kita heran kenapa investasi tidak masuk.
Kita heran kenapa rupiah melemah.
Kita heran kenapa lapangan kerja tidak tumbuh.
Sementara di Mandalika karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan dari investor asing itu sudah resign semua karena proyek mati.
Mereka jadi pengangguran.
Bukan karena investor tidak mau datang.
Tapi karena sistemnya mengusir investor yang sudah datang.
Dan soal Purbaya gue mau jujur:
Dalam rapat ini Purbaya tampil sangat berbeda dari biasanya. Dia tegas. Dia marah.
Dia menyebut masalahnya dengan jelas.
Dia telepon investor langsung di tengah rapat.
Dia paksa semua pihak untuk berkomitmen.
Itu bagus. Gue apresiasi.
Tapi pertanyaannya: kenapa baru sekarang?
Kasus ini sudah 5 tahun.
Investor sudah menjerit bertahun-tahun.
Karyawan lokal sudah lama kehilangan pekerjaan.
Dan orang yang sama Purbaya selama ini bilang fundamental Indonesia kuat. Bilang investor percaya pada Indonesia. Bilang tidak perlu khawatir.
Sementara di Mandalika investor yang sudah masuk saja tidak bisa bertahan.
Bagaimana investor baru mau masuk kalau yang lama diperlakukan seperti ini?
Prabowo pidato soal reformasi Bea Cukai.
Purbaya menyemprot staf Danantara soal investor yang dikecewakan.
Semua itu bagus sebagai sinyal.
Tapi sinyal saja tidak cukup.
Yang dibutuhkan bukan rapat dramatis yang viral.
Yang dibutuhkan adalah sistem yang memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi di Mandalika, di Nusa Tenggara Timur, di Papua, di seluruh Indonesia.
Karena selama sistem yang sama terus berjalan investor akan terus diundang, lalu digerogoti dari dalam, lalu pergi dan yang paling merugi bukan investornya.
Yang paling merugi adalah karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan tapi malah jadi pengangguran.
Dan rakyat yang seharusnya menikmati investasi asing yang masuk tapi tidak pernah merasakan apapun karena investasinya mati duluan sebelum berkembang.
Guys, ada satu kalimat dari Dr. Bagus Muljadi — dosen di University of Nottingham, PhD dari National Taiwan University, peneliti di Imperial College London yang menurut gue adalah salah satu kalimat paling jujur tentang kondisi Indonesia yang pernah gue dengar.
"Inkompetensi itu membunuh lebih banyak daripada kejahatan."
Dan dia bukan bicara tentang kebodohan.
Dia spesifik banget membedakannya.
Kebodohan bisa datang dari lahir, dari keterbatasan akses, dari kondisi yang tidak dipilih.
Tapi inkompetensi adalah kemalasan yang dijadikan kultur secara sengaja dan kebodohan yang dari lahir yang tidak dicerdaskan, padahal bisa.
Itu dua hal yang sangat berbeda. Dan Indonesia sedang hidup dengan yang kedua.
Tentang pendidikan dan ini yang paling bikin gue panas dingin:
Ada data dari Kemdikbud sendiri yang menyebut bahwa kemampuan matematika guru SD di daerah-daerah bahkan bisa di bawah kemampuan siswa SMP di Jakarta.
Bukan guru antar guru dibandingkan.
Tapi guru dibandingkan dengan muridnya sendiri yang lebih muda.
Soal pecahan konsep yang harusnya dikuasai 100% oleh seorang guru SD masih ada yang salah.
Dan orang-orang inilah yang kita harapkan bisa menginspirasi generasi berikutnya untuk jadi raksasa semikonduktor, untuk menguasai hilirisasi, untuk bersaing di dunia.
Bagus bilang dengan sangat lugas:
kalau guru SD-nya tidak punya kapasitas itu, dan kita fokus pada hal lain selain kualitas gurunya no hope.
Soal anggaran dan ini yang paling sering salah dipahami publik:
Banyak orang berpikir masalah pendidikan Indonesia selesai kalau anggarannya dinaikkan.
Naikkan gaji guru, bangun gedung baru, kasih smartboard, kasih Chromebook beres.
Bagus punya perhitungan sederhana yang membantah logika itu.
Kalau Indonesia punya 3 juta guru dan mau menggaji rata-rata Rp10 juta per bulan itu 30 triliun per bulan, atau 360 triliun per tahun.
Sementara anggaran pendidikan dari 20% APBN sekitar 400 triliun.
Hampir semua tersedot hanya untuk gaji, belum infrastruktur, belum pelatihan, belum yang lain-lain.
Artinya: anggarannya memang tidak cukup kalau hanya dilihat dari sisi angka.
Tapi yang lebih penting bahkan kalau anggarannya cukup pun, masalahnya tidak selesai.
Karena guru yang berkualitas rendah dikasih gaji tinggi tidak otomatis menjadi guru yang berkualitas tinggi.
Institusi yang mendidik guru juga harus dibenahi. Sistem rekrutmen guru harus berubah.
Kultur mengajarnya harus revolusi.
"You cannot buy yourself out of a problem."
Tentang cara mengajar yang salah dan kisah paling indah dari Taiwan:
Bagus punya pandangan yang sangat berbeda dari kebanyakan orang tentang apa itu pendidikan.
Mayoritas orang termasuk kebanyakan dosen berpikir tugas mereka adalah memindahkan pengetahuan dari mulut guru ke kepala murid.
Dicekokin.
Dihafalkan.
Dirumuskan.
Dikerjakan.
Tapi Bagus bilang pendidikan yang benar adalah memfasilitasi formasi pengetahuan yang sebenarnya sudah ada di kepala murid.
Tugas guru bukan memberi tahu tugas guru adalah melatih cara mengeluarkan pemahaman itu sendiri.
Dan dia punya cerita yang menurut gue paling memorable dari seluruh podcast ini.
Di Taiwan, ada seorang profesor yang mengajar persamaan Navier-Stokes salah satu persamaan paling kompleks dalam fisika fluida.
Di tengah menulis di papan tulis tanpa slide, tanpa PowerPoint, cuma spidol dia lupa. Dia diam. Tiga sampai lima menit diam di depan kelas.
Dan seluruh kelas ikut diam bersama dia. Ikut mikir. Tidak ada yang protes, tidak ada yang menertawakan.
"That was the most beautiful moment.
The whole class stood silent with him."
Itulah pendidikan yang benar. Ketika guru dan murid sama-sama sedang dalam proses menemukan sesuatu. Bukan murid menunggu guru mentransfer jawaban yang sudah jadi.
Kalau dosen cuma baca slide yang sama setiap tahun apa bedanya dengan AI? Kenapa harus ke kelas?
Tentang masalah yang lebih dalam identitas dan postkolonial mindset:
Ini yang paling jarang dibahas tapi menurut Bagus paling fundamental.
Orang Inggris kalau ditanya leluhurnya siapa, akan menyebut Isaac Newton, John Stuart Mill, Adam Smith orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan.
Ada rasa malu kalau tidak menghargai pendidikan.
Orang Taiwan dan Cina membawa beban bahwa mereka adalah custodian kehormatan keluarga. Mereka harus berprestasi di dunia pendidikan.
Kalau orang Sunda atau orang Bugis ditanya leluhurnya siapa apakah ada jawaban yang sama kuatnya?
Bukan karena tidak ada.
Tapi karena narasinya tidak pernah dibangun.
Bagus sudah membuktikan bahwa tradisi jurisprudensi masyarakat Sunda kuno ada dan kompleks tujuh lapisan pemecahan masalah hukum yang jauh lebih kaya dari sekadar hukum tertulis yang kita adopsi buta-buta dari Napoleon via Belanda.
Bukti longsor tanah di Bogor 2019 ternyata pola sebarannya persis seperti yang sudah diprediksi dalam manuskrip Sunda kuno warugan lemah.
Dan ilmu bumi yang Bagus nikmati di Imperial College London batu gamping yang ada di lorong gedung itu berasal dari Sumatera. Objeknya dari Nusantara, tapi pengetahuannya dihasilkan oleh Barat.
Lagaligo kitab sastra Bugis yang panjangnya 1,5 kali lipat Mahabharata baru diterjemahkan empat dari dua belas jilid.
Seorang profesor di Unhas yang mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan sisanya minta dana hanya 400-500 juta untuk tiga bulan kerja tiga orang di Leiden. Tidak dapat.
Karena dianggap bukan STEM, tidak ada hilirisasinya.
Itu adalah ironi yang sangat menyakitkan.
Kita sedang membangun hilirisasi nikel sambil membiarkan hilirisasi pengetahuan leluhur kita membusuk di arsip Belanda.
Tentang berpikir cross-disipliner dan kenapa Indonesia tidak bisa:
Bagus punya cara pandang yang unik.
Dia menggunakan konsep Reynolds Number dari mekanika fluida untuk memahami perdebatan nasionalisme vs liberalisme.
Dia melihat pertarungan antara kolektivisme dan individualisme seperti pertarungan antara inertial forces dan viscous forces dalam aliran fluida.
Terlalu banyak nasionalisme kaku tanpa ruang individu turbulen, kacau.
Terlalu banyak liberalisme tanpa kohesi sosial juga tidak stabil.
Seorang engineer tidak bertanya mana yang benar. Dia bertanya mana yang optimal.
Tapi di Indonesia, orang yang berpikir lintas disiplin seperti itu justru dianggap aneh atau tidak kompeten karena keluar dari "domain"-nya.
Padahal di luar negeri, justru itulah yang membuat seseorang bisa jadi permanent academic karena dia bisa menjawab masalah dari berbagai arah.
Kalimat terakhir yang paling gue ingat:
"Berpikir itu kodratnya the Dutch colonizers, bukan kita. Kita makannya kerja."
Itu bukan kalimat yang dibuat-buat. Itu adalah warisan mental tiga ratus tahun yang masih mengalir dalam cara kita mendidik anak, cara kita merekrut guru, cara kita menghargai intelektualitas.
Sampai kita berani bilang ke dunia bahwa ilmu pengetahuan itu bukan monopoli Barat bahwa Nusantara adalah sumber,
bukan hanya objek penelitian kita tidak akan keluar dari feodalisme yang mengungkung kemampuan berpikir kritis itu.
Guys bennix berpendapat
market lagi masuk fase seru
bukan kiamat tapi banyak orang salah nangkep.
Menurut Benix, turunnya saham bank besar kayak BBCA dan BBRI itu bukan tanda Indonesia hancur, tapi lebih ke siklus pasar yang memang wajar.
Dia bahkan bilang banyak orang panik karena nggak paham cara baca market, jadi langsung nyalahin pemerintah atau bilang ekonomi gelap.
Soal Saham Bank & IHSG
Benix menekankan:
Crash di saham big banks itu nggak ada hubungannya dengan Indonesia bubar
Perusahaannya juga nggak jelek, cuma lagi kena tekanan market
Justru ini dianggap sebagai peluang buat yang ngerti
Dia juga tetap optimis:
HSG ke depan masih bisa naik (bahkan dia sebut potensi ke 10.000)
Soal Rupiah Melemah
Menurut Benix:
Rupiah kemungkinan akan terus melemah
Bahkan bisa ke level lebih tinggi (mendekati 20.000 per USD)
Tapi dia bilang:
Ini bukan kabar buruk buat semua orang
Karena:
Yang siap & paham → bisa ambil peluang
Yang nggak siap → baru akan panik dan rugi
Soal “Serangan Ekonomi”
Benix juga menyebut:
Akan ada tekanan dari luar (AS, Malaysia, Singapura)
Nilai tukar rupiah, terutama terhadap SGD, bisa makin tertekan
Intinya:
dia melihat ada tekanan global & regional yang bakal bikin rupiah makin lemah
Kritik ke Pemerintah
Benix cukup keras di sini:
Pemerintah dianggap telat ambil langkah
Salah satu yang disorot: nggak dilakukan redenominasi
Dia percaya ini bisa berdampak ke:
inflasi makin tinggi
peredaran uang (termasuk uang palsu) meningkat
Menurut dia, mindset yang benar:
Market turun = kesempatan, bukan musibah
Rupiah lemah = bisa jadi peluang cuan
Semua kondisi, kalau paham cara mainnya → tetap bisa untung
Dia bahkan bilang:
“yang penting bukan kondisi marketnya, tapi posisi kita di market”
Benix ingin menekankan:
Jangan gampang panik lihat market turun
Jangan asal ikut narasi “Indonesia gelap”
Tapi juga jangan asal masuk tanpa strategi
Karena:
di kondisi kayak gini, yang ngerti bisa cuan
yang nggak ngerti bisa makin rugi
GUys ini sakit sih......
Lu pada ingat gak kemarin ada dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot tanpa penjelasan resmi,
tanpa konferensi pers,
tanpa pernyataan apapun dari kementerian?
Semua pejabat Kemenkeu kompak bungkam.
Tidak ada yang mau menjelaskan kenapa.
Nah sekarang setelah konpers Purbaya mulai kelihatan gambarannya.
Dan ini jauh lebih dalam dari sekadar rotasi biasa.
Ternyata ada sabotase dari dalam.
Purbaya di konpers ini mengakui secara eksplisit ada informasi yang sengaja bocor dari internal Kemenkeu untuk merusak kepercayaan pasar.
Bocoran pertama:
kas pemerintah hanya cukup 3 minggu.
Bocoran kedua:
uang negara tinggal 120 triliun dan hampir habis.
Bocoran ketiga :
dan ini yang paling gila: ada yang dari internal bilang ke investor asing:
Jangan bawa Menteri Keuangan ini ke temu investor. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan akan mengacaukan.
Itu dari internal, kata Purbaya secara langsung.
Bukan dari oposisi.
Bukan dari pengamat.
Dari dalam Kemenkeu sendiri.
Dampaknya nyata ke pasar.
Tiga informasi itu meskipun tidak akurat sudah terlanjur membentuk ekspektasi negatif di pasar.
Rupiah tertekan sebagian karena sentimen yang dibentuk oleh bocoran-bocoran itu.
Dan Purbaya harus terbang ke luar negeri,
ketemu investor satu per satu
menjelaskan bahwa kondisi fiskal kita tidak separah yang disebarkan.
Bule-bule itu bilang clear.
Investor-investor besar juga tidak menanyakan itu lagi.
Tapi kerusakan sentimen sudah terlanjur terjadi di dalam negeri.
Soal pencopotan dua Dirjen jawaban Purbaya sangat mengejutkan:
Ketika wartawan bertanya langsung apakah pencopotan itu ada hubungannya dengan bocoran-bocoran itu Purbaya menjawab:
Iya dan tidak. Ada sedikit.
Tapi ada yang lain-lain juga.
Ini adalah pengakuan implisit yang sangat jelas.
Ada sedikit hubungannya tapi bukan satu-satunya alasan.
Artinya ada akumulasi masalah yang akhirnya sampai di titik Purbaya memutuskan harus ada pergantian di level Dirjen.
Dan ada tiga masalah lain yang terungkap bersamaan:
Pertama
40 perusahaan asing tidak bayar pajak semestinya.
Mayoritas perusahaan China.
Under invoicing ekspor melaporkan nilai ekspor lebih kecil dari yang sebenarnya untuk memperkecil pajak dan bea keluar.
Dua sudah dikejar dan berjanji membayar.
Tapi 38 yang lain masih berjalan normal.
Tebakan mereka benar kita tidak akan berubah.
Dan yang lebih mengkhawatirkan Purbaya mengindikasikan ada kemungkinan oknum di Dirjen Pajak yang melindungi perusahaan-perusahaan itu:
Kalau dikasih ke orang pajak yang di situ aja sepertinya dilindungin juga kelihatannya.
Makanya rencananya membentuk tim khusus langsung di bawah Irjen atau Sekjen bukan Dirjen Pajak.
Kedua
dokumen pajak jalan tol dan pajak orang kaya yang Purbaya sendiri tidak tahu ada.
Wartawan tanya soal dokumen rencana pajak baru yang beredar pajak jalan tol, pajak orang kaya.
Jawaban Purbaya:
Pajak orang kaya saya baru dengar kemarin.
Pajak jalan tol sama, baru tahu kemarin."
Wartawan bilang dokumen itu ada tanda tangan elektronik Purbaya.
Oh, tanda tangan elektronik ada loh.
Kadang mereka bilang 'sudah aman Pak' saya tanda tangan."
Seorang Menteri Keuangan tidak tahu ada kebijakan yang beredar atas namanya karena terlalu percaya ke staf yang bilang "sudah aman."
Ketiga
sistem IT SPT pajak yang masih bermasalah.
Wajib pajak yang sudah mengisi SPT badan datanya bisa hilang begitu saja setelah server dimatikan 15 menit untuk maintenance.
Semua isian dari awal lagi.
Purbaya bilang sudah ada yang sengaja menghidupkan lagi akses yang sudah dimatikan:
Ada orang dalam yang ngidupin lagi gitu.
Gambar besarnya dan ini yang paling mengkhawatirkan:
Kemenkeu adalah kementerian yang secara eksternal paling dipercaya investor global saat ini. S&P bilang stable. IMF bilang bright spot.
Tapi di dalam:
Ada Dirjen yang diduga aktif sabotase kepercayaan pasar terhadap Menkeu-nya sendiri.
Ada 40 perusahaan asing yang tidak bayar pajak semestinya dengan indikasi ada yang melindungi dari dalam Dirjen Pajak.
Ada kebijakan yang ditandatangani Menteri tanpa Menteri benar-benar tahu isinya.
Ada sistem IT yang masih bisa disabotase dari dalam.
Dan Menkeu yang paling dipercaya investor global ini masih harus berperang melawan sistemnya sendiri dari dalam.
Kalau Kemenkeu saja masih seperti ini bayangkan kondisi di kementerian lain yang tidak mendapat sorotan sebesar ini.
sungguh sakit ini negeri kita
Menurut gua siapapun yang ngerti ekonomi (dan gak perlu punya gelar PhD) tau kenapa Rupiah kita melemah sangat signifikan.. 🤣
Dan coba gua jelasin pakai bahasa sesederhana mungkin ⬇️
(A Thread)
Di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, anggota parlemen Hong Kong Dominic Lee membuat pernyataan yang mengejutkan:
"Barat berbicara tentang hak asasi manusia, tetapi membiarkan Israel lolos begitu saja setelah melakukan genosida.
Darah warga Palestina dan Iran ada di tangan mereka.
Apa kredibilitas moral yang dimiliki Amerika?
Sebuah negara yang diperintah oleh pengikut Epstein!"
Terima Kasih, Pernyataan Anda Mewakili Umat Manusia di Seluruh Dunia.