Saya coba cek jabatannya di website kampus UNY..
Ternyata beliau ga hanya wakil rektor..
Tetapi juga Guru Besar...
Dikukuhkan sejak Juli 2024..
Serta mantan Dekan FEB UNY..
“Saya tau siapa yang bayar bayar demo itu. Gue tau itu”
Jangankan bapak, kita semua juga udah tau kok. Kan kemarin udah dibongkar sama mahasiswanya sendiri siapa yang bayar mereka 🤭
Lagi, lagi dan lagi closing statement yang tepat sasaran dari wakil ketua BEM UI Fatimah Azzahra persis berdiri dan berbicara disamping orang dekat presiden. ❤️✊☺️
Saat masih bekerja di sebuah bank di Dublin, Roberto Lopes mendapat pesan LinkedIn dari pelatih Timnas Cape Verde. Karena ditulis dalam bahasa Portugis, ia mengiranya spam dan membiarkannya begitu saja.🇨🇻📲
Sembilan bulan kemudian, pesan lain datang. Kali ini dalam bahasa Inggris. Setelah menerjemahkan pesan pertama, Lopes baru sadar bahwa Cape Verde ingin memanggilnya membela negara asal sang ayah.
Tanpa banyak berpikir, ia langsung menerima tawaran tersebut. Tiga minggu kemudian, setelah mengurus dokumen yang diperlukan, Lopes menjalani debut internasionalnya bersama Cape Verde melawan Togo.
Delapan tahun berselang, pemain yang dulu bekerja di balik meja bank itu kini menjadi bagian dari generasi yang mengantar Cape Verde tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya, termasuk meraih hasil bersejarah saat menahan Spanyol dan bermain imbang 2-2 melawan Uruguay.
#FIFAWorldCup
Anak tetanggaku nggak ikut les apapun.
Nggak les matematika. Nggak les Inggris.
Nggak les coding. Umur 10 tahun.
Sepulang sekolah main.
Ibu-ibu komplek sudah lama geleng-geleng.
Di grup WhatsApp komplek, topiknya selalu sama. Anakku baru mulai les piano. Anakku ranking 1 lagi, Alhamdulillah. Anakku ikut olimpiade sains minggu depan. Ibunya si anak itu diam saja. Nggak pernah posting apapun.
Arisan komplek bulan lalu.
Seorang ibu nyeletuk langsung ke dia:
Nggak khawatir?
Anak sekarang kalau nggak diasah dari kecil,
nanti ketinggalan.
Ibunya senyum. Di asah kok. Tapi caranya beda. Di asah gimana? Les apa? Bukan les. Aku ajak dia ngobrol setiap malam. Beberapa ibu saling pandang.
Ngobrol doang? Iya. Tentang apapun yang dia mau ceritain hari itu. Aku nggak boleh pegang HP waktu dia ngobrol. Aturannya cuma itu. Ruangan mulai senyap.
Terus anaknya nggak ketinggalan pelajaran? Kemarin gurunya nelpon. Semua menunggu. Pasti ada masalah, pikir mereka.
Gurunya bilang, anakku satu-satunya murid yang kalau ada teman kesulitan dia yang pertama nawarin bantuan. Bukan karena disuruh. Tapi karena dia mau. Gurunya bilang itu langka sekarang. Satu meja. Senyap.
Ibu yang tadi nanya anaknya ikut 4 les sekaligus. Senin matematika. Rabu Inggris. Jumat coding. Sabtu piano. Minggu lalu anaknya nangis di mobil sepulang les. Bilang capek. Bilang nggak mau sekolah lagi. Dia nggak cerita itu di grup.
Yang paling membekas adalah ini. Aku tanya ke ibunya setelah arisan bubar: Bu, nggak takut anak ibu nggak bisa bersaing nanti?
Dia jawab pelan: Aku lebih takut anakku bisa bersaing — tapi nggak tahu caranya berteman. Bisa juara — tapi nggak tahu caranya mendengarkan orang lain. Pintar — tapi kesepian. Itu yang aku takuti. Bukan nilai rapornya.
Aku pulang arisan. Anakku lagi hafalan perkalian untuk persiapan les besok. Aku tanya: Hari ini gimana, Nak? Dia jawab nggak sambil liat aku. Fokus ke buku. Aku nggak ingat kapan terakhir kali dia cerita sesuatu ke aku dengan mata berbinar.
Ibu itu nggak anti les. Nggak anti prestasi. Dia cuma nggak mau anaknya tumbuh jadi orang yang bisa segalanya - tapi nggak punya siapapun untuk diajak berbagi. Dan malam itu aku sadar - aku sibuk membentuk anakku jadi juara. Tapi lupa nanya: juara di mata siapa?
cc:threadlilydes2026
- KITA ADA PILIHAN POTONG GAJI PEJABAT.
- KITA ADA PILIHAN TARIK BIAYA TUNJANGAN.
- KITA ADA PILIHAN SURUH MEREKA BAYAR PAJAK.
- KITA ADA PILIHAN STOP MBG, STOP KOPDES
TAPI YANG MEREKA PILIH
- KITA DISURUH HEMAT
- PAJAK DINAIKKAN
- CONTENT CREATOR REMAHAN DIPAJAKIN
- UMKM KENA PAJAK SEPERTI PT
- LISTRIK MENYALA BERGILIR
- BBM DINAIKKAN
- SUKA BUNGA DINAIKKAN
- KALO NGK SUKA DSURUH PINDAH WARGA NEGARA
NASIB +62
Pieter Huistra akan kembali menahkodai langsung tim PSS Sleman sebagai 𝗽𝗲𝗹𝗮𝘁𝗶𝗵 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗹𝗮 untuk mengarungi Super League 2026/2027.
Bawa PSS terbang lebih tinggi lagi, 𝒄𝒐𝒂𝒄𝒉!
#PSS#COSE
Riyad Mahrez on Lionel Messi meeting his daughter after Argentina vs Algeria:
🗣️ “After the match, I went over to Leo Messi with my daughter because meeting him had been one of her biggest dreams for years. She has watched his highlights, worn his shirts, talked about his goals, and imagined this moment so many times.”
“As a father, there are moments in life that mean more than football, more than victories, and more than anything that happens on a pitch. Watching your child experience pure happiness is something that cannot be described with words.”
“I told Leo that she had been dreaming of meeting him and taking a photo with him for such a long time, and immediately he stopped what he was doing, smiled warmly, and gave her his full attention.”
“She was so nervous that she could barely speak at first. Her hands were shaking, her eyes were full of emotion, and she looked like she couldn't believe the moment she had imagined for years was finally happening.”
“In that moment, there was no Argentina, no Algeria, no World Cup, no competition, and no rivalry. It was simply a little girl standing face-to-face with the person she had always looked up to.”
“What touched me the most was the way Leo handled the situation. He didn't rush, he didn't make it feel like an obligation, and he didn't act like a superstar. He made her feel special and comfortable.”
“He spoke to her, smiled for the photos, and treated her with so much kindness and respect. Those small gestures mean everything to children because they stay with them forever.”
“When we walked away, she couldn't stop smiling. She kept looking at the photo over and over again, almost as if she was checking whether the moment was real.”
“She kept saying, ‘Dad, I actually met Messi. I really met Messi.’ Hearing those words from my daughter was more emotional for me than people can imagine.”
“Football gives us unforgettable moments on the pitch, but for me, the most beautiful moment of the night happened after the final whistle when I watched my daughter's dream become a reality right in front of my eyes.”
Nyadar gak kalo belakangan Messi main udah jarang dipepet 4-5 pemain kayak dulu?
Nah, setelah liat heatmap Argentina vs Aljazair/Algeria, gue nemu sesuatu yg gak keliatan di statistik
Tentang dua pemain yg dicap gagal, padahal justru mereka yg paling krusial
🧵
Resilience mentalnya memang dahsyat!
❌Gagal di final Piala Dunia 2014
❌Gagal di final Copa America 2015
❌Gagal di final Copa America 2016
Lalu memimpin negaranya menjadi
✅Juara Piala Dunia 2022
✅Juara Copa America 2021
✅Juara Copa America 2024
Hari ini, jelang usia 39 tahun masih mampu mencetak hattrick di Piala Dunia.
🇶🇦 Masih ingatkah kalian dengan momen ini? Momen emosional di Opening Ceremony FIFA World Cup Qatar 2022, ketika Surah Al-Hujurat ayat 13 menjadi pesan ikonik yang dibawakan Ghanim Al Muftah & Morgan FreeMan yang berhasil mengguncang mancanegara!
Sebelum bola pertama ditendang, dunia sudah menangis. Piala Dunia 2022 di Qatar membuka acaranya dengan lantunan ayat Al-Quran, disaksikan miliaran pasang mata dari hampir setiap negara. Pencarian tentang Islam melonjak di seluruh dunia. Orang-orang yang sebelumnya curiga mulai bertanya: "Apa sebenarnya yang ayat itu katakan?". Satu momen pembukaan, mengubah cara jutaan orang memandang Islam lebih dari ribuan ceramah yang pernah ada.
Ayat yang dibacakan adalah pesan
tentang persaudaraan manusia: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."- (QS. Al-Hujurat: 13). Bukan ayat tentang hukum. Bukan tentang larangan. Ayat tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah. Kulit yang berbeda, bahasa yang berbeda, negara yang berbeda, tidak membuat satu manusia lebih tinggi dari yang lain. Yang membedakan hanya satu: ketakwaan.
Selama bertahun-tahun, persepsi tentang Islam dibentuk oleh ketakutan dan narasi yang sepotong-sepotong. Tapi malam itu, jutaan orang yang belum pernah membaca Al-Quran mendengar suaranya untuk pertama kali. dalam konteks kedamaian dan harapan. Bukan dalam konteks ketakutan. Tapi dalam konteks persaudaraan. Banyak yang kemudian mencari tahu, "Apa itu Islam yang sebenarnya?". Satu ayat, di waktu dan tempat yang
tepat, bisa membuka pintu hati yang
sudah lama tertutup.
Rasulullah bersabda: "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat." - (HR. Bukhari). Qatar tidak berceramah kepada dunia. Mereka hanya menunjukkan, membiarkan keindahan Al-Quran berbicara sendiri. "Dan sesungguhnya Kami telah memudahkan Al-Quran untuk pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"- (QS. Al-Qamar: 17). Dakwah yang paling kuat bukan yang paling banyak bicara. Tapi yang membiarkan kebenaran terlihat dengan sendirinya.
Momen ini mengajarkan sesuatu kepada kita semua: Islam yang sebenarnya tidak membutuhkan pembelaan yang berapi-api. la hanya butuh ditampilkan dengan jujur. melalui akhlak yang baik, kata-kata yang lembut, kehidupan yang mencerminkan nilai yang kita yakini. Banyak orang berubah pandangannya bukan karena dipaksa, tapi karena melihat keindahan yang belum pernah ditunjukkan kepada mereka. Dan kita punya kesempatan yang sama: Menjadi cermin yang membuat orang lain ingin tahu lebih banyak.
Satu momen pembukaan Piala Dunia membuktikan sesuatu yang penting: Al-Quran tidak butuh panggung yang religius untuk menyentuh hati manusia. la bisa menyentuh siapa saja, di stadion sepak bola, di tengah
keramaian dunia yang sekuler. Karena pesan tentang persaudaraan dan ketakwaan adalah pesan yang fitrah setiap manusia merindukannya, terlepas dari agama atau latar belakang mereka. Kebenaran yang disampaikan dengan tulus, selalu menemukan jalannya ke hati manusia.
Masya Allah Barakallahu Fiikum 🙏🏼
#FeelEveryGoal | @toshibatv_id
Foto resmi Piala Dunia Marcelo Bielsa menimbulkan kehebohan 🇺🇾💥
Ketika ditanya mengapa ia menunduk, ia menjawab:
"Saya tidak perlu menjelaskan apa pun. Saya bukan model. Saya berada di depan fotografer, dan itulah foto yang mereka dapatkan dari saya."
"Kita tidak berkewajiban untuk bertindak seperti model untuk memenuhi tuntutan yang tidak berdasar."
📰@diarioas
Penutup dari pak @zanatul_91
"Ketika MBG Dibela ,Keracunan Dianggap Biasa, mempertontokan keserakahan dan membiarkan negeri ini dalam Mala Petaka"
"Saya Bersaksi siapapun yang merampok anggaran Pendidikan Di Dunia hidupnya dipenjara dan di Akhirat dia Masuk Neraka" -
Dan kami sbg rakyat jg ikut menjadi saksi, bagaimana pemerintah menyakiti dan mencederai pendidikan di negeri tercinta ini 😭
Mari kita terus suarakan Perjuangan ini!!!
Ingatlah bahwa pria ini baru merasakan sepak bola profesional penuh di usia 25 tahun, sebuah usia ketika banyak bintang2 Eropa sudah meraih belasan trofi.
Ada rasa tidak percaya bahwa anak laki2 yg dulu dibesarkan oleh neneknya itu, kini, seminggu setelah merayakan ulang tahunnya yang ke-40, berhasil berdiri tegak menjaga gawangnya tak kebobolan di panggung termegah di dunia, melawan salah satu tim terhebat di dunia.
Matanya yg memerah berkaca2 seakan menceritakan ribuan malam sepi di klub2 pengembaraannya mulai dari Angola, Siprus, hingga Moldova.
Lalu semuanya bermuara pd malam yg sangat magis ini.
Gurat2 di wajahnya, tatapan matanya yg kosong namun sarat makna, menunjukkan kelelahan fisik ekstrem setelah bertempur habis2an. Ia seorang pria dewasa, namun ia tak menyembunyikan kerapuhannya.
Foto yg luar biasa..
Fun Fact :
1. Dulu yg dapet THR itu cuma PNS, tapi semenjak pekerja demo Pekerja swasta juga dapet THR
2. Dulu juga jam kerja 16 jam ++ tapi semenjak demo jadi 8 jam.
Macet mu yg dirasa sekarang bisa terkonversi jadi bahagia dan sejahteramu di masa depan.
buat yg dukung MBG tetap jalan, nih dengerin suara hati guru-guru yg diwakilkan pak guru Iman
cuman butuh 17 detik buat paham sakitnya jdi guru di tengah fantastisnya anggaran MBG
- ditekan krn bersuara
- gaji seuprit dibanding petugas SPPG
- ada yg gajinya ga dibayar
Kiper Cape Verde, Josimar José Évora Dias 'Vozinha' usai membawa Timnya menahan imbang Spanyol:
“Ibu saya tidak bisa datang ke sini karena masalah VISA, dan uang yang kami punya tidak cukup untuk mengurusnya.
Saya juga hidup bersama kakek nenek saya sejak kecil, dan mereka tidak bisa hadir di sini. Mereka meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Saya menangis karena itu.
Kami bekerja sepanjang hidup untuk mendapat momen seperti ini. Saya sudah 40 tahun dan bahkan saya belum menjadi pemain profesional sampai usia 25 tahun.
Ini adalah hadiah dari perjalanan ini. Jujur, ketika kecil saya tidak pernah bermimpi seperti ini, dan saya bisa katakan ini semua layak untuk saya dapatkan.”