Penasaran tapi hanya mampu menerka-nerkamu , rindu hadirmu tapi hanya sanggup menebak-nebak aktivitasmu. Tanpa berani bertanya, tanpa berani menyapa, hanya sebatas itu.
Ternyata gini yaa rasanya diposisi jadi kepala keluarga tanpa adanya abang dan papah, dan menjaga ibu dan adik perempuan dirumah. Mental,overthinking, insomnia, semua berlaku tiap malem, healing pun tidak bisa apalagi di umur segini udah harus siap finansial untuk masa depan.
Ada anak laki-laki yang tidak mau bercerita tentang dirinya kepada keluarganya, anak laki-laki yang tidak pernah ditanya keadaan oleh keluarganya, dia adalah anak laki-laki yang mencoba tetap tenang dengan keadaan dirinya, kadang dia menangis, insomnia, overthinking, kemudian
Dulu SMA pernah ngomong gini, " ngek kalo kita nanti lulus kuliah harus terus bareng2 ya sampe punya usaha, ntah itu usaha apa tapi harus kita yang kelola :)" oh iya kita ber 4 punya sebutan nama jadi kita ber 4 di panggil 'songek' dan hanya kita2 saja yang memanggil nama itu.
Kata2 yang selalu ku ingat adalah bahwasanya aku adalah seorang penguntit, dari situ aku tidak ingin mencari tau lagi apapun tentang kamu, Kalo rasa sayang itu bisa dilihat mungkin kamu akan tau sekarang.
Terimakasih orang baik.
Percayalah sebelum akhirnya aku terbiasa tanpamu, aku pernah hampir gila melawan rasa rinduku, aku pernah sakit karena melawan diriku agar tidak menghubungimu, aku begitu terluka melewati hari-hariku tanpamu, sampai akhirnya aku terbiasa dengan kesendirian, hampa dan mati rasa.