Inilah kenapa gw tetap berusaha adil ke aparat, ASN, prajurit dll yang emang amanah.
Mereka justru lebih kasian dari kita, terjebak dan terpaksa hidup kerap kali tidak sesuai nurani
Kadang gua mikir…
Pernikahan zaman sekarang terasa semakin mirip transaksi🥲🥲🙏
Nilai-nilai seperti tetap dalam suka dan duka, sehat maupun sakit, serta bersama sampai maut memisahkan, pelan-pelan bisa terdengar seperti dongeng.
Segala sesuatu kerap diukur dengan uang.
Standar yang muncul di media sosial turut memperkuat cara pandang itu.
Dan jujur aja.. itu yang membuatnya terasa mengkhawatirkan🙏🥀
Sayang sekali, retorika keras di podium selalu kalah telak sama budaya feodal birokrasi kita.
Presiden bolak-balik teriak di depan kamera dan rapat kabinet: "Kurangi acara seremonial! Jangan buang-buang anggaran negara buat seremoni ga penting!"
Tapi begitu beliau turun ke daerah buat ninjau KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN?
Malah disambut baliho raksasa, kanopi tenda, lengkap dengan KARPET BIRU di atas tanah gersang, wkwkwk.
Mau heran tapi ini potret telanjang logika kekuasaan di negeri ini:
> BUDAYA "ASAL BAPAK SENANG" JAUH LEBIH KUAT DARI INSTRUKSI
Birokrasi daerah itu ga pernah ambil pusing soal instruksi efisiensi anggaran. Di otak mereka cuma ada satu hukum bertahan hidup: "Yang penting penyambutan kelihatan megah biar ga kena semprot." Urusan substansi karhutla nomor sekian, yang penting protokoler tampil rapi.
> ANGGARAN HABIS BUKAN DI SOLUSI, TAPI DI KOSMETIK
Berapa puluh juta duit negara yang nguap cuma buat sewa rangka, cetak baliho segede gaban, dan gelar karpet yang besok sore langsung dibongkar? Duit yang harusnya dipakai buat operasional pemadaman dan pencegahan di lapangan, malah ludes di pos "anggaran penyambutan".
Pertanyaannya simpel:
Apakah instruksi "stop seremonial buang duit" itu cuma sekadar lip service buat konsumsi media, atau memang birokrasi kita yang sudah terlalu bebal sampai instruksi presidennya sendiri cuma dianggap angin lalu?
Bayangin lo tau bakal jadi terkenal sebelum orang lain tau , terus lo dikasih satu malam terakhir buat jadi orang biasa.
Sebelum episode pertama Friends tayang 1994, sutradaranya bawa keenam pemeran utamanya (yang waktu itu masih aktor gak dikenal) ke Vegas.
Makan malam di meja tengah restoran biar keliatan semua orang, terus bilang ke mereka: "ini kesempatan terakhir lo anonim. Begitu series ini tayang, lo bakal dikejar-kejar kemana pun."
Gak ada satu pun dari mereka yang percaya omongan itu.
Buat modal judi di kasino, sutradaranya sampe minjemin uang tunai ke semua pemeran karena mereka masih bokek,belum ada yang terkenal, belum ada yang kaya.
Salah satu dari mereka bahkan abis modalnya cuma dalam hitungan detik gara-gara gak ngerti aturan main dadu.
Dan tebak apa yang kejadian?
Series itu tayang, jadi salah satu sitkom paling ikonik sepanjang masa, dan bener,mereka emang gak pernah lagi bisa jalan kemana pun tanpa dikerubungin.
Kadang orang yang paling deket sama kita adalah yang paling akurat baca masa depan kita, jauh sebelum kita sendiri percaya. 🙏
Jawaban menohok Mentan Amran saat ditanya, "mengapa militerisasi dalam urusan pangan?"
"Penyuluh Pertanian Lapangan 37.000, untuk gerak cepat butuh 80.000 ini atasi El Nino"
Pertanyaannya, "Militer bergerak cepat tanpa biaya, apakah kalian mau gantiin?"
Semua terdiam, paham
adulting itu rumusnya cuma “never asking why”
Dihapus pertemanan? Ok.
Diunfollow? Ok.
Ngga dikabarin? Ok.
Ngga diajak? Ok.
Bersikap seperti biasanya dan melanjutkan hidup. Temanmu juga tidak sepenting itu.
Hati selamat dan hidup tenang.
Tuntutan aksinya kurang kongkrit dan kurang menggigit BEM UI. Mudah ngelesnya pemerintah dgn tuntutan seperti itu.
Tak bantu, diurutkan dari sumber masalah yg membuat kita rakyat memikul bebannya saat inil;
1. Bubarkan kabinet, ganti dgn kabinet yang ramping, sesuai jargon efisiensi, isi dgn yg kompeten
>> ini sumber masalah utama saat ini, kabinet gemuk, osbesitas, hanya bagi2 kursi, hamburkan uang negara yang terbatas, defisit, untuk menggaji pejabat/kroni, alih2 digunakan untuk kesejahteraan rakyat.
Teddy misal, ini biang masalah. Belum pernah ada sejarah di Indonesia, eselon 2 malah membawahi Menteri, menerima laporan dari menteri dan lembaga, padahal ada Menko yang bejibun, untuk apa terus dibentuk Menko? Belum lagi ada Wapres. Semua informasi dan laporan serta kritik publik terfilter di Seskab.
2. Hentikan MBG yang universal, gantikan dengan MBG Targeting.
>> Hanya berikan untuk siswa yang membutuhkan, dan daerah 3T. Hentikan sistem tata kelola Mitra yang jelas2 memperkaya kroni lewat insentif, sehingga diduga sebagai agenda "kantong babi" politik untuk kepentingan 2029. Layanan publik seperti MBG harus dikuasai negara infrastrukturnya, bukan malah dikuasai swasta.
3. Hentikan KDMP yang justru membebani Dana Desa yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan warga desa.
>> Jika yang utang PT. Agrinas ke Himbara untuk membangun dan pengadaan seluruh kebutuhan KDMP (Gedung, Truk, sarpras, dll), kenapa malah Dana Desa yang akan dipotong mencicil utang tsb?
Jika yakin sekali pemerintah dengan toko2 KDMP ini bakal untung, walau di bangun di tengah hutan dan gunung, biar saja di kelola Agrinas. Buktikan. Tanah desa yang dipakai silahkan bayar sewa ke Kas Desa. Ini jauh lebih fair bagi rakyat.
4. Batalkan UU Polri yang bertentangan dengan keputusan MK
>>> revisi UU Polri yang baru malah memberi jalan anggota Polri duduk di berbagai jabatan sipil tanpa batasan dan tidak perlu pensiun dini. Satu jabatan saja di Polri tidak beres, koq malah menjabat lagi di jabatan sipil. Pilih salah satu, tetap anggota Polri atau menjabat di jabatan sipil.
Kalau UU TNI sudah jelas membatasi jabatan yang diduduki prajurit aktif, cuma saat ini dilanggar Teddy saja yang duduki jabatan eselon 2, padahal tidak boleh, diakal2i dengan ditempatkan di bawah eselon 1 sekretariat militer Presiden.
5. Efisiensikan APBN, fokus untuk kesejahteraan rakyat.
>> Hentikan pengeluaran yang berlebihan seperti perjalanan dinas dan perjalanan Presiden ke luar negeri.
>> Batalkan syarat KIPK yang membatasi penerima hanya dari kategori miskin maksimal Desil 4 dan penghasilan di bawah UMP. Naikan batas penghasilan ke Rp6juta, agar lebih luas calon mahasiswa yang bisa mengakses haknya untuk pendidikan tinggi lewat pembiayaan negara.
>> Gunakan semaksimalnya APBN untuk membantu mengurangi tekanan ekonomi di tengah rakyat, seperti menahan kenaikan BBM, gas, dan Listrik, agar kehidupan rakyat tidak makin berat, sementara pejabat semakin gendut dan sejahtera.
Itu usulan saya. Biar lebih menggigit.
Dalam strategi aksi, jangan semua dimusuhi, harus ada juga kekuatan yang dikawani karena pada dasarnya mereka juga bagian rakyat, yang terhimpit juga atas kebijakan pemerintah.
ohya, kalau aksi jangan karena pilihan politik, betul2 karena membela rakyat dan jangan pulang sebelum tuntutan dipenuhi. 💪💪
Salam
FK