Sejak tau anak jaman now lebih suka pakai tiktok drpd google, aku jd jg pakai tiktok kalau cari rekomendasi kuliner, wisata dan hotel. Tp tetep kemudian check and recheck di review gmapsnya.
“Googling” rasanya sudah ketinggalan zaman.
Generasi sekarang lebih suka bilang:
“Coba cari di TikTok deh, kayaknya pernah liat videonya.”
Menyusun query, memilih keyword, tanda kutip, operator pencarian… itu bukan bahasa alami mereka.
Kalau jadi narasumber atau speaker, saya tuh type yg suka ditanya-tanya atau diskusi gitu.
Materi sekadar sharing atau pemantik diskursus saja. Sisanya benar-benar dapat ilmu, pengetahuan, pengalaman, best practice lainnya.
Kalau memang enggak menguasai seperti Prihantini, jadinya gini nih, menghindar atau menyalahkan si penanya; bukan fokus pada pertanyaannya.
@kudanielbintik --nah drpd ribet gt, yaudah dikatrol aja dr awal. Toh sama aja. Dikasih pelajaran tambahan jg gak bisa, krn gak ada gaji tambahan untuk guru dan sudah mepet waktu rapotan.
Begitulah kak, dipaksa sistem.. aku yakin sebenarnya guru pun ingin memberi nilai merah.
@kudanielbintik Halo kak. Katrol2 nilai ini karena guru diwajibkan meluluskan semua anak demi akreditasi sekolah. Kalau ada 1 mapel yg dibawah KKM, guru akan dipanggil: gimanapun caranya harus lulus mapel itu. Akhirnya dikasi lah tugas tambahan/remidi, yg sbnrnya hasilnya sama aja (gak lulus)--
@RodriChen Betul, pernah ketemu. Menuduh anak sakit (dr asi) krn ibuny makan ikan (pdhl sy tdk makan ikan). Di akhir, suami tanya lagi, pak DSA blg "tdk semua harus dari jurnal, kan ada yg empiris, penglmn saya bertahun2" stlh ke dsa lain, ternyata anak bapil+ISK (review dr suami terlampir)
Inflasi cum laude, atau dalam buku “Matinya Kepakaran” Tom Nichols menyebutnya inflasi nilai, kalau kita perhatikan memang dipicu oleh efek berantai.
1) Karena jumlah lulusan sarjana meningkat pesat, banyak perusahaan menggunakan persyaratan gelar dan IPK sebagai filter cepat untuk menyaring ribuan pelamar di bursa kerja. Menyaring lewat IPK tentu lebih praktis dan murah dibanding rekrutmen pakai sistem CAT-nya BKN untuk ASN.
2) Ditambah lagi ada kompetisi antar-Universitas dalam menjaga angka serapan kerja lulusannya demi mempertahankan akreditasi kampus. Kebetulan baru bulan lalu saya ikut kawan yang PNS diundang ke kampus almamaternya untuk dievaluasi. [bukti foto terlampir]
3) Nah, untuk memenuhi tuntutan tadi, otomatis standar kelulusan dibuat jadi lebih longgar. Dosen sering kali memberikan toleransi nilai, menjadikan predikat cum laude sangat mudah didapat dan kehilangan eksklusivitasnya.
Dalam buku “Matinya Kepakaran” juga, Tom Nichols sampai mengkritik institusi perguruan tinggi yang seharusnya mendorong semangat literasi, malah justru terperangkap dalam solipsisme intelektual, perasaan berhak berlebihan (sense of entitlement), serta inflasi nilai dan gelar (meski penyebab terbesarnya karena banyak bermunculan universitas abal-abal).
Lebih parahnya, Nichols—yang juga merupakan dosen senior—menilai segelintir mahasiswa hanya berlarian di atas roda hamster pendidikan dan perguruan tinggi hanya berakhir menjadi tempat ijazah diperjualbelikan. Mungkin karena itu juga sekarang kita lebih suka memamerkan “ijazah asli” daripada hasil belajar itu sendiri.
Gaji PNS tahun 1990:
Rp 240.000
Setara: 10,9 gram emas
(harga emas waktu itu Rp 22.000 per gram)
Gaji PNS tahun 2026:
Rp 2.785.700
Setara: 1 gram emas
(harga emas sekarang Rp 2.795.000 per gram)
Dalam 36 tahun, gaji PNS nominal naik 11,6x lipat.
Tapi nilai sebenarnya (dalam emas)? Turun 10x lipat.
Ini bukan kebetulan. Ini design.
Ngeliat 2 gambar ini ga nyaman banget, rasanya hollow, artificial, kopong, kayak sesuatu yg gak ada jiwanya. Backroom vibe
Mana anggaran segede itu cuma buat barang-barang yg kebanyakan bisa ditemuin di warung madura juga
Kalo disebut ini di Pyongyang Korut gue percaya keknya
Tiba2 tadi malam anakku minta maaf
N : ma.. maaf ya ma..
M : lho maaf kenapa nak? (Sambil peluk)
N : mama jangan ke rumah sakit lagi ya. Noya gakmau ditinggal. Jangan ya ma...
🥲🥲🥲
Takutnya....
Agar remun tidak dipotong, mhs cepat2 diluluskan ala kadarnya dengan skripsi yg kualitasnya kurang.
Sama ky peraturan semua siswa harus naik kelas. nilai merah = salah gurunya. Akhirnya nilai yg seperti ukuran sepatu itu dikatrol jd 75+++
Update peraturan dosen Indonesia:
OLOS per tahun untuk dapat remunerasi, tidak ada Scopus, tidak terima remun. ✔️
Membimbing mahasiswa harus selesai sesuai semester minimal (8 semester S1, 4 semester S2). Kelebihan semester=pemotongan remun. 📝(sedang proses peraturan)