๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐-๐๐๐๐ ๐ ๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐ฎ๐ฉ
After extra time and a nerve-wracking penalty shootout, Indonesia are crowned ๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐ข๐ก๐ฆ! ๐
Their first trophy since 1991 ๐คฉ๐ฆ
janji ini yang terakhir deh ๐คฃ๐คฃ
setelah 5 menit, 50 menit, kali ini....
60 menit alias 1 jam kecurangan Argentina selama Piala Dunia. nggak kayu bakar lagi tapi ini bensin dan apinya sekalian.
silakan dibagikan dengan tujuan edukasi, kids ๐ฅฐ๐ฅฐ
๐จ BREAKING: FBI sedang memeriksa AFA (Federasi Sepak Bola Argentina) di Amerika Serikat, terkait PENCUCIAN UANG dan PENIPUAN sekitar $300jt, atau setara hampir 5,5 TRILIUN RUPIAH! ๐ณ
Aku nggak heran sih dengan sifat aktivis seperti Budiman ini. Sebenernya dia nggak berubah, tapi justru itulah sifat aslinya. Kalau kamu pernah gabung di organisasi kemahasiswaan/pergerakan, kamu akan tahu kalau di sana ada banyak mahasiswa yang mengaku aktivis, bacaannya buku kiri, pemikirannya kritis, tapi sifat aslinya kayak pemerintah: fafifu omong kosong, otoriter, haus kekuasaan, dan senang membungkam kritik internal. Dan ini yang nggak kalah penting, suka mainin anggaran proyek!
Banyak dari mereka yang lantang meneriakkan keadilan di podium demonstrasi, tapi di dalam rapat organisasi justru bertindak layaknya diktator kecil yang anti-kritik. Retorika perjuangan rakyat sering kali hanya dijadikan topeng intelektual untuk memuaskan ego pribadi dan membangun kultus individu di kalangan anggota baru.
Hal ini bukan kejadian yang aneh karena karakter oportunis mereka bangun sejak di bangku kuliah. Mereka nggak pernah benar-benar membenci kesewenang-wenangan atau ketidakadilan sistem yang ada. Mereka kayaknya hanya benci karena bukan mereka yang sedang memegang kendali dan duduk di kursi kekuasaan itu.
Trust me, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku nggak menggeneralisir semua yang gabung di organasisasi kemahasiswaan/pergerakan begitu semua ya, tapi โฆ ytta.
๐ฆ๐๐๐จ๐๐ ๐จ๐ง๐๐ฆ๐๐ฟ
Saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk buka dan baca bersama kolom ๐ฟ๐ฒ๐ฝ๐น๐ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ ๐ฟ๐ฒ๐๐๐ฒ๐ฒ๐ di postingan ini. Isinya adalah laboratorium sosiologi gratis yang memperlihatkan bagaimana isi kepala sebagian kaum "terdidik" kita hari ini.
Tanggapan LPDP atas Isu Awardee LPDP Bangga Anak Menjadi WNA
1.LPDP menyayangkan terjadinya polemik di media sosial yang dipicu oleh tindakan salah satu alumni, Saudari DS. Tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai integritas, etika, dan profesionalisme yang ditanamkan LPDP kepada seluruh penerima beasiswa.
2. Sesuai ketentuan, seluruh awardee dan alumni LPDP memiliki kewajiban untuk melaksanakan masa pengabdian berkontribusi di Indonesia selama 2 kali masa studi + 1 tahun. Dalam kasus Saudari DS yang menempuh studi selama dua tahun, kewajiban kontribusi tersebut adalah lima tahun.
3. Saudari DS telah menyelesaikan studi S2 dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017, serta telah menuntaskan seluruh masa pengabdian sesuai ketentuan. Dengan demikian, LPDP tidak lagi memiliki perikatan hukum dengan yang bersangkutan.
4. Meskipun demikian, LPDP akan tetap berupaya melakukan komunikasi dengan Saudari DS untuk mengimbau agar yang bersangkutan dapat lebih bijak dalam menggunakan media sosial, memperhatikan sensitivitas publik, serta memahamkan kembali penerima beasiswa LPDP mempunyai kewajiban kebangsaan untuk mengabdi pada negeri.
5. Terkait suami Saudari DS, Saudara AP, yang juga menjadi perhatian publik dan merupakan alumnus LPDP, yang bersangkutan diduga belum menyelesaikan kewajiban kontribusinya setelah menamatkan studi.
6. LPDP saat ini melakukan pendalaman internal terkait dugaan tersebut. LPDP akan melakukan pemanggilan kepada Saudara AP untuk meminta klarifikasi, serta akan melakukan proses penindakan dan pengenaan sanksi sampai pengembalian seluruh dana beasiswa apabila terbukti bahwa kewajiban berkontribusi di Indonesia belum dipenuhi.
7. LPDP berkomitmen untuk menegakkan aturan secara adil, konsisten, dan bertanggung jawab kepada seluruh awardee dan alumni, serta terus menjaga integritas institusi dalam memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia.
#DiriuntukNegeri