Gp kadang konsul ke sesama GP sebelum konsul ke spesialis.
Menyelamatkan diri sendiri dari amukan spesialis itu juga sebuah seni bertahan hidup soalnya🤣
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, ada dokter internship meninggal di tempatnya bertugas karena campak... kalau ini bukan wake up call supaya Menkes serius mendata, menelusur, mengejar imunisasi dan menindak antivax sih sudah tak tahu lagi ya bicara apa. Lansia bisa kena.
Kualitas tidak bisa ditawar.
Solusi distribusi dokter bukan dengan berlomba2 membuka FK baru, para dokter banyak yg “enggan” ke daerah bukan krn mata duitan.
Tapi fakta di daerah, RS banyak yg tdk equipped dgn kompetensi spesialis. Apa gunanya Sp. Jantung kalau echo sja tdk ada?
🚨Tahukah kalian bahwa...
Semenjak IDAI memperjuangkan independensi kolegium, sejak saat itulah para tokoh IDAI satu per satu diberangus.
Sebagian pasti manteman masih ingat seperti:
1. Dr. Fitri, saat itu ketua IDAI cabang Jawa Tengah, satu-satunya konsultan tumbuh kembang anak di RS Kariadi Semarang, dimutasi secara tiba-tiba ke RS Sardjito Yogyakarta.--Petisi dari pasien-pasien beliau bergulir, tak dihiraukan sedikit pun oleh pihak yang berkuasa.
2. Dr. Hikari, sekretaris umum PP IDAI, seorang ahli hematologi onkologi anak yang sedang mengembangkan ilmu transplantasi sumsum tulang, juga dimutasi mendadak. Akun dan SIPnya dibekukan secara sepihak.
3. Dr. Piprim, ketua umum PP IDAI dan konsultan kardiologi anak. Profesi langka yang hanya berjumlah kurang dari 100 orang se-Indonesia Raya, juga dimutasi dari RSCM ke RS Fatmawati.
4. dr. Rizky, ketua IDAI cabang Sumatera Utara, yang aktif menyampaikan kritik dan asupan ke Kemenkes, juga dipecat secara tiba-tiba dari RS Adam Malik.
Panjang jalan perjuangan menuju sebuah kolegium yang independen.
Credit to Yogi Prawira
Ngeliat cardiologist diceramahin tentang Gerd and Jantung sama netizen yang ga punya background medical harusnya bikin kita sadar kalo pendidikan gratis itu jauhhhhhhhhh lebih penting daripada makan gratis…