jika pengetahuanmu terlanjur diracuni oleh rekayasa & tipu daya. kalau pikiranmu terlanjur digelapkan oleh sianida pencitraan & pemalsuan. wilayah mana lagi dari tanahmu yg masih ditumbuhi pohon2 kemerdekaan? dan hamparan air laut mana yg masih dilayari oleh perahu kedaulatan?
untuk mengetahui tetesan air, untuk mengetahui bobot tetesan air mutmainah, tenangkan hatimu. Karena permukaan danau yg bergolak tidak bisa mengetahui rintik hujan, tapi permukaan danau yg tenang, setetes air akan menjadi gelombang yg besar. -Noe
karena kebenaran hanya bisa ditangkap pleh kesadaran. itulah mengapa pertama Gotama mencapai penerangan sempurna, setelah dengan penuh kesadaran menangkap kebenaran itu sendiri (Dhamma)
di dunia yg sekejap ini, tidak ada hal yg lebih heroik ketimbang ketegasan sikap & posisi, bahwa dlm dialektika antara Ibrahim & namrud, Musa & firaun, Kanjeng Nabi Muhammad & abu jahal - Semesta mesti bersaksi bahwa kita berdiri disini, Ya disini. Sonu Sobu Subang, Wiha Nasohoa
Ketika mereka kinclong ketika ‘kerja’ dgn make-up, hair do, jas mahal, dikawal ajudan & segala fasilitasnya.. itu memperlihatkan betapa mereka jauh dr apa yg kita rasakan sehari2. Gimana mau kasih solusi kalo mereka dimanjakan dengan fasilitas dan privileges seperti itu?
Musuh utama bukanlah manusia, bukan juga orangnya. Akan tetapi musuh utama adalah kecenderungan-kecenderungan mainstream yang memimpin perusakan-perusakan kehidupan, tetapi mereka sedang membangun dan berbuat kebaikan. -Simbah
Berjalanlah melewati hutan rimba jahiliyah.
Belajar tidak basah oleh hujan deras "dholuman jahula", dan ketika terjadi gegap gempita "tahsabuhum jamian wa qulubuhun syatta", saksikanlah dari wilayah yang paling sunyi. -Simbah
Kejahatan adalah nafsu yang terdidik.
Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar.
Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk.
Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos.
Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan~
#72TahunCakNun
ada ormas minta thr, responnya gak usah dipersoalkan. ada kantor majalah dikirimin kepala babi, responnya suruh dimasak aja.
pejabat kita antara gak pintar berkomunikasi, atau memang gak ada empati.
Kritikan Untuk Orang-orang NU
Oleh : Gus Baha
NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.
Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, disuruh goblok lagi.
Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.
Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda, tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
Sumber : FB