Toni Kroos on the claims that Argentina robbed Egypt at the World Cup:
🗣️ "I don't understand why people always look for excuses after a result like this. Football is decided over 90 minutes, not by one moment. Egypt played an excellent first half, but after going 2–0 up they lost control of the game, and Argentina took advantage. That's what top teams do.
"People keep talking about the referee and VAR, but if you watch the match objectively, Argentina's comeback was built on their intensity, quality, and mentality. They believed until the final whistle, while Egypt couldn't maintain the same level they showed early on.
"You can't throw away a two-goal lead against one of the best teams in the world and then reduce everything to one decision. Football is much more complex than that.
"There will always be debates about refereeing, and that's normal. But saying the match was 'stolen' or that the tournament is being handed to Argentina is unfair to every player on the pitch. The players decide games with their performances, not conspiracy theories.
"The difficult thing after defeat is accepting that the opponent was better in the decisive moments. Argentina deserved credit for the way they responded under pressure, and Egypt should be proud of their performance while also learning from the mistakes that cost them. That's football."
Cristiano Ronaldo ini adalah korban dari standar yang dia ciptakan sendiri.
Dia mengidentifikasikan dirinya sbg hero. Sosok yang mendefinisikan dirinya lewat penaklukan, kerja keras ekstrem, dan mentalitas nggak mau kalah.
Selama bertahun2, Ronaldo nggak pernah malu2 menyatakan secara verbal bahwa dirinya adalah yg terbaik, No. 1, dan sosok yg tak lelah mengejar kesempurnaan. Artinya Ronaldo telah menandatangani kontrak sosial dgn publik bahwa dia akan menaklukkan semuanya.
Konsekuensinya, publik sepakat dan mengamini standar tinggi itu. Maka, ketika Ronaldo gagal meraih Piala Dunia dan mencoba melunakkan kegagalannya itu dgn berkata Euro sudah cukup dan Euro dimensinya sama dengan Piala Dunia, maka publik merasa bahwa dia melakukan inkonsistensi.
Publik menuntut Ronaldo dengan standar tertinggi karena dia sendiri yang menolak diperlakukan sebagai manusia biasa saat berada di masa jayanya.
Lalu ketika dia mulai bersikap legawa yg dipaksakan saat kalah, publik melihatnya bukan sebagai kebijaksanaan. Tetapi sbg kerapuhan ego seorang pemenang yg sama sekali nggak paham cara utk memproses kekalahan.
Publik akhirnya menghakimi Ronaldo dengan narasi yang dia ciptakan sendiri.
Sepak bola dunia punya hierarki emosional dan sejarah yang sakral. Menyamakan Euro dengan Piala Dunia adalah bentuk penyerangan konyol terhadap mitos sepak bola itu sendiri.
Saat Ronaldo menyebut Euro setara dengan Piala Dunia, maka dia mengecilkan keringat, darah, dan sejarah komunal seluruh benua di luar Eropa demi mencocokkan realitas dunia dengan pencapaian dan ego pribadinya.
Ronaldo akhirnya tak lebih dari seekor rubah dalam fabel Aesop. Rubah itu gagal mencapai dan mengambil anggur di pucuk paling tinggi, lalu pergi sambil berkata, “Ah anggur itu pasti masam."
Fans sepak bola melihat tindakan ini sebagai bentuk kurangnya rasa hormat. Menolak mengakui Piala Dunia sebagai supremasi tertinggi adl tindakan yg tak sportif. Seorang pecundang yang tak mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
Selamat tinggal Ronaldo.
Maaf, tdk ada farewell manis untukmu dan egomu.
Freddie is looking down and giving y'all a standing ovation. That's spectacular!😍💗
The most INSANE Bohemian Rhapsody Flashmob you will ever see!!
With 30 musicians and singers in the STREET of Paris 😍
Cre : Julien Cohen Pianist
MIRIS YA!!!
Hasil Survei dari King's College London cukup mengejutkan kita, survey yg mengungkap nilai-nilai apa yang menjadi prioritas untuk anak di keluarga di beberapa neraga, Hasilnya?
75% Masy Indonesia menyatakan bahwa agama penting diajarkan untuk anak-anak (No dua tertinggi setelah Mesir) , ini bagus, Indonesia bukan negara agama, namun nilai2 Releguitas penting dihadirkan sejak dini pd anak2 kita, namun yang mencengankan adalah:
Soal pentingnya toleransi, hasil surveynya adalah hanya 45 persen responden Indonesia yang menganggap toleransi itu penting diajarkan ke anak-anak di rumah. Skor Indonesia bahkan lebih rendah dari Rusia (56 persen) dan Korea Selatan (51 persen).
Lima negara yang menilai bahwa toleransi penting diajarkan adalah Swedia (93 persen), Norwegia (90 persen), Prancis (84 persen), Jerman (84 persen), dan Spanyol (82 persen).
Ini sebuah paradoks, satu sisi, orang tua masy indonesia menganggap penting nilai2 agama diajarkan pada anak2 mereka, namun satu hal, toleransi mereka abaikan, padahal, nilai2 agama apapun akan mengajarkan soal toleransi dan indah dalam perbedaan bukan? Agama dan toleransi adalah dua sisi mata uang yg tidak dapat dipisahkan, apalagi dalam berkehidupan di Indonesia yang sangat majemuk ini, beragama tanpa nilai2 toleran akan menjadikan anak tumbuh menjadi individu yang intoleran nantinya.
Toleransi harus ditanamkan sejak dini pada anak2, agar menjadi nilai yang tumbuh seiring pemahaman kegamaan mereka, hari ini, intoleransi di Indonesia cukup memprihatinkan, bahkan dilingkungan anak2 remaja kita, ditambah lagi ulah para penceramah2 model Salafi Wahabi yang getol menyajikan kajian2 intoleran, eklusif dan tekstual, paradoks ini menjadi tanggung jawab kita bersama tentunya.
Pak @jokowi barangkali perlu juga legalisasi ganja di Aceh. Kata orang, byk lap kerja yg bs dibuka dgn kehadiran industri ganja. Kan dpt menambah sektor pengurangan angka kemiskinan lewat lapangan kerja yg menambah pendapatan.
Harun Yahya dijatuhi vonis penjara 1075 tahun oleh rezim Erdogan.
Da’i seleb asal Turki ini lumayan banyak penggemarnya di Indonesia, krn dianggap memadukan agama dan sains. Pdhl abal2 (pseudo sains) dan cocoklogi. Harun Yahya jg terbukti ustad penipu dan kriminal.