Aksi heroik berujung duka. Ajun Arman
Permadi, siswa SMK Al Yaman Lebaksiu, Kabupaten Tegal hanyut terseret arus deras saat mencoba menolong pengendara motor yang terjatuh di banjir Bojong.
Saksi mata menyebut korban sempat berusaha meraih tangannya, namun derasnya air membuat korban terlepas dan terbawa arus. Korban merupakan warga Desa Kreman, Warureja Kabupaten Tegal yang sedang dalam perjalanan ke sekolah.
Mohon doanya agar korban segera ditemukan.
This afternoon, a video from South Tapanuli Regency shows the devastating aftermath of recent floods and landslides. Residents say the destruction is so severe, it feels like stepping into another world. 📍 South Tapanuli Regency, North Sumatra, Indonesia.
893 dead, 521 missing, and 4,200 injured, according to the Disaster Mitigation Agency.
Aerial footage shows villages in North Sumatra buried in mud after catastrophic floods and landslides that killed more than 1,400 people across Indonesia, Sri Lanka and Thailand.
In Indonesia, officials and residents say deforestation likely worsened the disaster’s scale.
811 NYAWA DAN LUMPUR YANG TAK KUNJUNG KERING
Teman-teman, hentikan sejenak kesibukanmu. Saya akan ajak Anda melihat neraka yang sesungguhnya, bukan di layar kaca, tapi di hati saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ini adalah tragedi yang diciptakan. Per hari ini, data terbaru mencatat 811 orang tewas dan 623 orang masih hilang. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah 811 orang tua, anak, dan saudara yang jasadnya tertimbun lumpur, dan 623 keluarga yang menunggu kabar di tenda pengungsian.
Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, ada 143 korban tewas. Di Aceh, 1,5 juta orang terpaksa mengungsi. Bayangkan, satu setengah juta orang kehilangan segala-galanya, dan harus tidur di tempat seadanya.
Air dan Kelaparan
Penderitaan paling kejam ada di Aceh Tamiang. Setelah tujuh hari bencana, warga terpaksa minum air sisa banjir yang keruh. Kenapa? Karena bantuan air bersih dan makanan tidak sampai.
Sementara warga berjuang menahan haus, Pemerintah Pusat (melalui Seskab) justru sibuk menjamin dana dan logistik "tersedia penuh". Jaminan itu adalah kebohongan yang melukai. Mereka menjamin ketersediaan logistik di Jakarta, tapi membiarkan warga di Palembayan, Agam, harus menggotong korban sesak napas melewati jembatan reot karena tidak ada layanan medis yang layak.
Logika mereka terbalik: Mereka mampu mengirim Starlink dan helikopter, tapi gagal menyediakan air minum yang bersih.
Kenapa semua ini terjadi? Kenapa bantuan hanya ala kadarnya?
Karena Pemerintah menolak menetapkan Status Bencana Nasional. Penolakan ini adalah dinding yang melindungi kepentingan elit:
Mereka takut Status Nasional akan memicu Audit Ekologis Total yang akan membongkar izin-izin korporasi (Sawit, HTI) yang merusak hutan di hulu. Mereka takut izin yang dipegang erat oleh lingkaran kekuasaan akan terancam.
Mereka memilih menjaga anggaran APBN dan aset konsesi agar tetap aman, daripada menggunakan dana triliunan untuk menyelamatkan nyawa dan membangun kembali 10,4 ribu rumah yang hancur.
Nyawa 811 korban ini adalah tumbal politik yang dibayar demi menjaga kekebalan segelintir orang.
811 jiwa tewas itu bukan angka, itu adalah pengkhianatan yang berdarah; mereka tewas karena negeri ini memilih melindungi aset yang ada di kertas, daripada menjaga nyawa yang ada di dada.
#SUMATERABUTUHSTATUS
Jangan biarkan duka mereka hanyut tanpa pertanggungjawaban!
KEEP ALL EYES ON SUMATRA
KEEP ALL EYES ON SUMATRA
KEEP ALL EYES ON SUMATRA
KEEP ALL EYES ON SUMATRA
KEEP ALL EYES ON SUMATRA
REP, RT & REPEAT AFTER ME ‼️
SUMATERA BUTUH STATUS
#BENCANANASIONAL#NATIONALDISASTER
This morning, aerial footage shows widespread devastation across Aceh Tamiang, Aceh Province, Sumatra, Indonesia.
- Deaths: 836
- Missing: 518
- Injured: 2,700
Reported today by Abdul Muhari, Head of BNPB’s Data, Information, and Communication Center.