Gue baru selesai nonton obrolan Pandji Pragiwaksono, Coki Pardede, dan Cania Citta dan ternyata banyak bgt bagian yang bikin mikir. Terutama waktu mereka bahas soal cara pejabat publik berkomunikasi, kebiasaan bagi-bagi jabatan, pentingnya kompetensi, MBG, impeachment, sampai bagaimana Pandji ngeliat gaya kepemimpinan Prabowo
Argumen mereka menurut gue menarik karena gak cuma sekadar ngomel soal kondisi politik hari ini. Ada banyak perspektif yang dibongkar dan beberapa poinnya justru bikin gue liat masalahnya dari sisi yang berbeda
Salah satunya soal komunikasi pejabat
Kita sering banget menyalahkan pejabat karena asbun atau ngomong sesuatu yang akhirnya jadi kontroversi. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, media juga punya andil dalam bagaimana sebuah statement akhirnya diterima publik
Sekarang media kan berlomba-lomba jadi yang pertama menangkap berita. Satu statement pejabat bisa langsung dipotong jadi satu quote, dijadikan headline terus di sebarin jadi berita yang sesingkat mungkin. Yang penting cepat, catchy, dan bisa dikonsumsi dalam beberapa detik
Padahal dulu pengolahan informasi jauh lebih panjang. Ada proses penulisan, pengeditan, kurasi, pengecekan konteks, baru kemudian informasi disajikan ke pembaca. Jadi publik punya gambaran yang lebih utuh tentang apa sebenarnya yang sedang dibicarakan
Satu kalimat bisa dipisahkan dari konteksnya, berdiri sendiri, terus jadi bahan perdebatan satu hari penuh
Ditambah lagi tingkat literasi masyarakat yang emang belum merata. Ada yang bisa ngeliat konteks, ada yang langsung percaya headline, ada yang cuma liat potongan videonya, ada juga yang akhirnya ikut berkomentar karena semua orang sedang membicarakan hal yang sama.
Akhirnya informasinya makin liar.
Jadi menurut gue, persoalannya memang gak sesederhana pejabatnya asbun. Ada pejabat, ada media, ada algoritma dan ada masyarakat sebagai penerima informasi. Semuanya punya peran dalam membentuk bagaimana sebuah informasi akhirnya berkembang
Makanya gue suka banget sama obrolan kayak gini. Karena kita gak cuma dikasih opini tapi diajak melihat masalah dari beberapa sisi.
Shout out buat Malaka karena sudah menghadirkan obrolan yang menurut gue relevan banget di tengah kondisi Indonesia yang belakangan ini bikin banyak orang bertanya-tanya
Seorang kakek penjual pakaian menjadi sorotan setelah menerima banyak komentar bernada hinaan saat berjualan melalui live TikTok di akun https://t.co/B4t1tvldqY.pitono.
Sejumlah penonton merendahkan dagangannya, bahkan menyebut pakaian yang dijual seperti berasal dari jemuran tetangga hingga tong sampah. Namun, sang kakek tidak membalas dengan emosi. Ia justru meminta maaf dan mengatakan bahwa barang dagangannya memang dijual apa adanya.
Ia mengakui kualitas pakaian yang dijual tidak terlalu bagus, tetapi juga tidak buruk. Respons polos tersebut membuat banyak warganet merasa iba dan memberikan dukungan.
Karena kerap menerima cacian saat live, sang kakek bahkan sempat berpamitan dan berniat berhenti berjualan.
Media raksasa dunia The Economist baru aja ngeluarin warning keras buat Indonesia!.
Dikatakan bahwa prabroro terlalu boros dan otoriter dlm menjalankan pemerintahan.
Istana membantah artikel tersebut dgn mengatakan bahwa ini adalah investasi jangka panjang