Arsenal: Terlatih untuk bangkit lagi
Arsenal tercatat 9 kali jadi runner up di kompetisi lokal. Catatannya:
Era Premier League (sejak 1992): 6 kali (1998/99, 1999/00, 2000/01, 2022/23, 2023/24, 2024/25). Lalu, Era Divisi Utama: 3 kali (1925/26, 1931/32, 1972/73).
Bersama Arteta, 3 kali berturut-turut, sebelum akhirnya jadi juara di tahun ini. Di mata saya, itulah kebanggaan tersendiri, ketika sebuah klub menjadi cermin, menjadi panutan. Bahwa di dalam kehidupan, orang yang berani bangkit untuk berjuang lagi, akan mendapatkan kebahagiaan pada saatnya.
Tahun lalu, Arsenal sampai di semifinal. Tahun ini, bermain di laga puncak. Lawannya sama, PSG yang monster itu. Melihat klub saya berani mencoba lagi, bahkan tahun ini tak terkalahkan selama 90 menit, membuat kekalahan ini terasa seperti reminder saja. Bahwa kalau kamu jatuh, pilihanmu adalah bangkit dan berusaha lagi.
Fans Arsenal yang baik. Dunia akan kejam kepadamu. Seharusnya, kita yang paling mampu menghadapi tekanan itu. Pengalaman, penerimaan, dan mentalitas untuk bangkit lagi, kita yang punya.
Malam ini, bersedih kita bersama. Melepaskan semua adrenalin dan kegelisahan. Esok pagi, ketika dunia semakin kejam, kita bisa bilang ke diri sendiri: "We go again. Over land and sea."
Be proud. COYG
Musim lalu dan sebelumnya saat Inter gagal di final 2x berturut-turut, yang paling kencang bersuara tentu kubu rival. Tapi Ok karena itu bagian dari sepakbola.
Tapi kalo soal balas banter, kami cukup sederhana :
"Mau ngejek soal gagal juara UCL? Silakan aja. Yang penting kami masih punya kesempatan gagal di sana."
Mungkin ada yang lebih menyakitkan:
Nonton final UCL setiap tahun sambil berharap suatu hari klub sendiri bisa kembali ke sana.
Dan beberapa klub yang gak ikut UCL kadang malah lebih ribut. Sambil mengenang sejarah masa lalu nya.
Waktu Arsenal menang, banyak orang geram karena pendekatan permainan mereka.
Waktu Arsenal kalah, semua dirasa sudah layak dan sepantasnya.
Padahal di final UCL vs PSG, terlihat jelas bahwa merekalah yg menguasai pertandingan. Merekalah yg nyaman setidaknya hingga menit 70an..
Kontrol bukan dilihat penguasaan bola. Bukan juga soal jumlah percobaan tembakan.
Kontrol adalah bagaimana kita bisa memaksa lawan untuk bermain di luar zona nyaman mereka. Mengikuti alur yg kita ciptakan. Arsenal melakukan itu selama satu jam lebih di laga final.
Keputusan mereka untuk memenuhi area sentral memaksa PSG hanya bisa main melebar.
Keputusan mereka menempatkan 4 bek tengah sebagai tembok di depan gawang tidak meninggalkan lubang.
Joao Neves & Fabian Ruiz yg biasa siap menyambut umpan tarik dari sayap kesulitan mendapat ruang.
Vitinha yg biasa bisa membawa bola dengan leluasa dan melepaskan umpan berkelas untuk membebaskan Kvara, Doue, dan Dembele, dikunci sebelum bisa beraksi.
Arsenal baru mulai goyang ketika Gyokeres dan Timber masuk. Mereka memiliki peran serta area yg berbeda dengan Odegaard & Mosquera.
Bahkan sejak pergantian itu, PSG mulai leluasa, sampai Barcola hampir sukses menciptakan gol kemenangan dengan aksi individunya.
Ternyata Arsenal selamat dan terus bisa mengimbangi PSG hingga adu penalti. Tanpa tiga penendang utamanya (Saka, Odegaard, dan Havertz) anak-anak asuh Arteta akhirnya kalah.
Namun mereka layak mendapatkan apresiasi. Mereka harus menerima kekalahan ini dengan kepala tetap terangkat tinggi.
Apa yg mereka capai musim ini, sudah jauh di atas ekspektasi.
Apabila bisa melanjutkan momentum ini, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat mereka mendapat kesempatan bermain di final UCL lagi 👏👏🫡
kayak bangsa lemah aja. lagi krisis ekonomi kok solusinya presiden dan menteri potong gaji 50%.
contoh tuh bangsa yang kuat. kalau lagi krisis ekonomi solusinya ya nambah kementerian, nambah program, naikin gaji dan tunjangan pejabat, sering-sering ke luar negeri. apa lagi?
Fans Arsenal udah kenyang sama ginian.
Eh, fans lain gak percaya dan malah nyerang fans Arsenal. Bilang kami cengeng lah, lemah lah, dll dll sekarang ngerasain sendiri kan wqqqwq
"Gugatan UU IKN Ditolak, Mahkamah Konstitusi tegaskan Ibu Kota Negara tetap Jakarta"
Lihatlah wahai rakyat Indonesia, betapa JAHATNYA orang² yg ada divideo ini !🤬
Today, visuals show logs filling village streets after last night’s flood in Lara 1, Beringin Jaya Village, South Baebunta District, North Luwu Regency, South Sulawesi, Indonesia. (May 14)
🚨🗣️ | Thierry Henry on Manchester City vs Brentford: 💣
“You see, I look at the screen, I see those two penalty incidents... I see the challenge from Bernardo Silva where he stays on the pitch with only a yellow... and I have to tell you, if I speak, I am in big, big trouble. I’m serious. Because if I explain to you what my eyes are seeing and how this game ended for Brentford, I won’t be sitting in this chair tomorrow. People talk about the 'big teams' and the 'small teams,' but the game has to be the game. I’m not going to say it. I’m not going to use the word. But we all saw it. You saw it, I saw it, the fans saw it. So I stay quiet, because if I open my mouth... yeah, I am in big trouble”
Tonight is the night.
We can make this season really really special: competing for the league title while reaching the final of Champions League.
Gooners, let’s direct all your positive energy to the team.
Up The Arsenal.
Arsenal dan Pressure waktu Title Race
Lo pernah nggak ngerasa pressure yang berat di hidup lo, tapi ternyata lo bisa ngelewatin itu semua?
Beberapa hari lalu, gue nonton interview super inspiratif dari Tom Hiddleston tentang title race Arsenal dan City. Salah frasa yang cukup sering dia bilang adalah “Pressure is a privilege.” Jujur, gue udah pernah denger frasa ini dari lama, it took me some time to really understand it.
Gue jadi keinget sama tim kesukaan gue, Arsenal, yang sering crumble under pressure di akhir-akhir musim. Semalam Man City menduduki peringkat 1 setelah sekian lama Arsenal yang mimpin di klasemen liga. Mungkin ada banyak fans yang merasa takut, pasrah, tapi ada juga yang masih optimis untuk mendukung tim ini. Gue jadi inget rasanya waktu Arsenal pertama kali bikin semua orang percaya di musim 22/23. Mereka memimpin liga hampir sepanjang musim. Fans Arsenal untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama berani berharap.
Tapi sejak itu, Man City dan Liverpool selalu datang dan Arsenal runtuh. Di beberapa musim setelahnya, Arsenal mencoba lagi, dengan pendekatan berbeda dan skuad yang lebih dalam, tapi belum berhasil. Jujur aja, ini yang mungkin membuat Arsenal terus-terusan menghadapi pressure karena tanggung finish di posisi dua terus.
Pressure itu datang dari dua arah sekaligus. Fans Arsenal sendiri yang menunggu gelar, ada yang sebagian sabar, ada yang sebagian nggak. Tapi mereka menunggu karena mereka sebenarnya percaya sama kapasitas tim ini. Mereka sudah cukup tahu kalau di atas kertas, Arsenal bukan tim yang kebetulan bisa memimpin klasemen sepanjang musim. They have the capability to win it. Dan rasa kepercayaan itu beratnya luar biasa karena mengecewakan orang yang percaya jauh lebih menyakitkan dari mengecewakan orang yang nggak mengharapkan apa-apa.
Di sisi lain, rival menunggu downfall Arsenal. Banyak alasannya kenapa mereka begitu, tapi yang jelas salah satunya penampilan Arsenal cukup menjanjikan untuk membuat kejatuhan mereka terasa memuaskan.
Dua-duanya pressure. Dua-duanya karena Arsenal dianggap cukup menarik untuk diperhatikan.
Gue jadi keinget sama interview-nya Hiddleston lagi, dia bilang kalau rasa takut dan excited itu reaksi kimianya sama di tubuh. Gue jadi penasaran sama Arteta dan pemain Arsenal, apakah mereka masih takut? Kalau gue yang ada di posisi itu, gue akan menganggap pressure ini adalah privilege. What a privilege to be expected to win by your own fans. What a privilege to be waited on to fall by everyone else.
Sekarang City ada di atas. Hanya ada produktivitas gol aja yang memisahkan, it’s not even the goal difference. Gue berharap Arteta dan pemain Arsenal harus punya mindset positif dalam melihat ini. Pressure means you’ve earned your spot where the bar is high and the challenge is real. Kalau Arsenal bisa memenangkan battle ini, mereka akan mengenang cara kemenangan yang mungkin aja paling memorable. I hope they actually think “Oh this period is exciting and we feel most alive to beat those challenges.”
Di aspek mana pun, pressure seberat ini nggak datang kepada semua orang, nggak datang kepada semua tim. Ini datang kepada mereka yang sudah cukup besar untuk membuat orang percaya dan cukup berbahaya untuk membuat musuh menunggu mereka jatuh. Kalau bukan privilege, namanya apa? Prove us that you are born for this @Arsenal.
(source pict & video: ESPN, Sky Sports & Pinterest)