Berhubung Lebron James sudah memilih Sixers, NBA bisa mengatur jadwal musim 2026/2027.
Ayo tebak-tebakan, siapa saja yang akan main di Christmas game 2026?
Pilihan kami:
Indiana Pacers at New York Knicks
Philadelphia 76ers at Boston Celtics
Oklahoma City Thunder at San Antonio Spurs
Denver Nuggets at Golden State Warriors
Miami Heat at Los Angeles Lakers
Cucurella:
“Aku punya seorang putra yang autis. Aku tidak apa tak punya uang sama sekali, asalkan putraku sehat.
Aku membiarkan rambut panjang karena dia menyukainya. Kalau suatu hari dia lupa padaku, stidaknya dia mengenaliku dari rambutku🥹"
Broo 😭😭
Saya nikah di usia 26th (termasuk telat di mata orang2 desa), pasangan usianya sama kyk aku, kita sepantaran. Awal nikah kami berdua sama2 kerja, gaji kalo digabung sekitar 5-6 juta. Apakah kami ada tabungan? Jawaban tidak, sejak awal nikah kami jg punya tanggungan ke bank. hampir 50% gaji masuk ke cicilan bank. sehari2 kami hidup seadanya, krn masih serumah bareng mertua sedikit banyak masih dibantu untuk sehari-hari. kalo kebutuhan pokok yg besar tetap kami tanggung sendiri. a
Akhirnya hamil, pas usia kehamilan 2 bulan kondisi ga oke bgt, bolak balik ranap krn gejala keguguran. Akhirnya diskusi dan memutuskan kalo aku resign saja demi kebaikan semua.
Otomatis pemasukan hanya tinggal sebelah saja. Kami makin irit2 bgt, tp alhamdulillah semua cukup.
yang bener "menikahlah saat kalian berdua siap berjuang bersama, masa sulit dilewati bersama. jangan saling merasa ""PALING"", krn pada dasarnya menikah itu "SALING".
Parkir di dalem mall ini agak nggateli ya, opomaneh gawe pengendara motor, nek karcis parkir ilang awakdewe kenek dendo, nek helm atau sepeda motor kita sing ilang mereka gak isok lapo lapo, kan mbokne ancok yaaaa 😂
Maldini saat banyak yg mengkritik pembelian De Ketelaere (2022)
"Dia sedang beradaptasi dengan lingkungan & tekanan yang berbeda. Kita harus ingat, kita mengontrak Charles untuk 5 tahun, bukan 5 bulan. Kami akan menunggunya."
https://t.co/ZzKIwQBSYW
Life update paling sedih bagi nasi drrt Jogja tuh life update menuju keabadian 🫥🥹
Ada salah satu rekan Mahasiswa yg pernah kita bantu kemarin, pertama menghubungi 1 Juli 2023 lalu:
BUKAN, bukan Sheva atau Kaka, bukan juga paketan Ibra dan Thiago Silva, apalagi Donnarumma. buat aku pribadi kepergian paling menyakitkan adalah transfer Sandro Tonali. bukan diukur dari kehebatan dan jasa mereka bagi Milan melainkan konteks kondisi Milan saat Sandrino pergi yang membuat dampaknya lebih menghancurkan.
Shevchenko pergi karena permintaan istri dan undangan kawan dekatnya Abramovich. Kaka pindah ke klub idamannya Real Madrid setelah sebelumnya menolak Manchester City. keduanya pergi setelah berkontribusi besar ke Milan dan saat itu, melihat kondisi Milan, ada keyakinan bahwa setelah kepergian mereka Milan masih akan baik-baik saja. sementara itu Zlatan dan Thiago Silva terpaksa dijual karena Milan terlilit krisis keuangan. sehingga masih lebih mudah merelakan kepergian mereka.
Sandro Tonali berbeda. ia datang tepat setelah Milan mulai lepas dari kegelapan banter era dan perlahan bangkit kembali menuju kemapanan. seorang anak muda yang gak pernah segan menunjukkan kecintaannya pada Milan sejak ia kecil - ia adalah bagian dari kita fans fanatik Milan. kedatangannya ke Milan diberitakan bagai sebuah dongeng, mimpi masa kecil yang jadi kenyataan.
bukan cuma bermodal cinta, Tonali juga datang dengan potensi dan kemampuan bermain yang dapat diandalkan. dan jika bicara soal 'grinta', Sandrino dengan fasih meniru kegarangan sang idola Gennaro Gattuso. dan tak kalah pentingnya, ia datang dibawa oleh Paolo Maldini, simbol dan legenda terbesar Milan.
tahun pertama Sandrino gak berjalan mulus - inkonsistensi, kecerobohan, dan masih banyak pelajaran dan penyesuaian yang perlu ia jalani. tahun berikutnya, dongeng dan mimpi itu menjadi sempurna - Milan meraih Scudetto dan Tonali menjadi berperan besar di dalamnya, termasuk gol penting ke gawang Lazio. semua milanisti bersuka cita, ekspektasi masa depan membumbung tinggi dan harapan terbang ke awang-awang. hari itu, 22 Mei 2022, pikiran semua milanisti saling terkait dalam satu kalimat, lantang dan yakin "WE ARE FINALLY BACK!!"
hari-hari berikutnya kita telah membayangkan dengan hati gegap gempita: bersama beberapa pemain andalan lainnya, Tonali dan Paolo Maldini akan stay di Milan selama mungkin, Tonali akan menjadi kapten Milan, menjadi bandiera baru Milan, di bawah asuhan sang kapten abadi, dan mereka akan membawa Milan kembali ke puncak kejayaan. menegaskan kembali identitas Milan ke hadapan dunia - Milanismo.
namun kemudian, nasib buruk tak mampu dihalau, dengan tangan cepat Magic Mike sekalipun - Redbird dan Cardinale terjadi. belum genap setahun kehadirannya, orang USA ini, atas pengaruh Furlani, memecat Maldini dengan cara yang sangat kurang ajar. belum cukup, dua bulan kemudian mereka juga menjual Tonali ke Newcastle United. Tuhan, dongeng indah itu ternyata punya plot twist super mengejutkan. tak pernah sepahit ini aku menerima penjualan pemain Milan. patah hati itu nyata.
saat itu aku pribadi berusaha menanggapi langkah absurd itu dengan khusnuzon seperti layaknya fan yang baik dan setia. kalau sebelumnya aku bisa ber-positive thinking terhadap Yonghong Li, kenapa gak bisa bereaksi sama terhadap Cardinale pikirku. namun, tiga tahun berlalu semenjak musim panas 2023 yang gila itu petunjuk semakin terang bahwa mimpi dan harapan itu sepertinya benar-benar pudar, dongeng indah itu berubah menjadi cerita horror. sementara di sini, di sudut kamar, di depan laptop ini, aku dengan sisa-sisa cinta dan gairah ini masih menantikan mereka kembali - Sandrino dan Paolo kami.
Buon Compleanno, Sandro Tonali. 🖤❤️
Throwback ke tahun 2002, milanisti mapan (baca: tua) pasti ingat momen heboh ini - saat Milan berhasil mendaratkan salah satu pemain terbaik dunia saat itu: Rivaldo, sang Alien. Milan udah punya Rui Costa, playmaker terbaik di liga saat itu. Jadi udah kebayang gimana ekspektasi liar milanisti. Ini mengingatkan gw pribadi pada musim panas 1995 saat Milan memboyong Roberto Baggio dari Juventus sementara Milan sudah punya il genio Dejan Savicevic. Antusiasmenya saat itu serupa. Tapi......
Tahun 2002, Rivaldo baru saja angkat trofi Piala Dunia bersama Brasil. Dia datang ke Milan juga dengan status pemenang Ballon d'Or (1999) dan secara gratis setelah kontraknya di Barcelona diputus.
Kalo sekarang, fanbase Milan udah pasti akan ngetweet songong "Serie A is not ready" dengan foto AI Sheva, Inzaghi, Rui Costa dan Rivaldo. Fans Serie A mikir duet Sheva-Rivaldo atau Rui Costa-Rivaldo bakal jadi mimpi buruk semua bek lawan. Publik San Siro berharap dia jadi 'missing piece' untuk dominasi total di Italia dan Eropa.
Realitanya? gak semudah itu. Rivaldo datang saat Ancelotti lagi mulai ngeracik formasi pohon natal 4-3-2-1 dan konsisten menerapkan 4-3-1-2 sangat disiplin dan mengandalkan work rate tinggi dari gelandang kreatif. Rivaldo? dia pemain dengan gaya bebas (free-roaming).
Dia juga kesulitan beradaptasi dengan ritme Serie A yang lebih taktis dan intens. Dia dipaksa main di posisi yang kurang pas, atau harus berbagi peran dengan pemain jenius lainnya. Dia masih punya skill luar biasa, masih bisa kasih assist ajaib, tapi dia bukan lagi Rivaldo yang dominan seperti di Spanyol.
Apakah Rivaldo gagal? Tergantung sudut pandang. Secara statistik individu, dia memang tidak meledak tapi dari catatan raihan trofi dia bagian dari skuad legendaris pemenang Champions League, European Supercup dan Coppa Italia 2003.
Tetap terasa ada yang mengganjal. Kita semua tahu dia jenius, tapi di Milan, chemistry-nya gak pernah benar-benar klop 100%. Dia pergi setelah 1,5 musim saja. Kehadiran anak ajaib sekampung, KAKA, di musim berikutnya ternyata membuat dia semakin tersingkir, sampai ada ungkapan di kalangan fanbase "22 dua kali lebih hebat daripada 11". Tapi jujur buat gw pribadi, sama seperti Ronaldinho, Ronaldo, Beckham dan Redondo, melihat dia pake jersey merah-hitam, walau untuk waktu singkat, tetap jadi momen kebanggaan tersendiri.
Cerita Jusuf Kalla Pertanyakan Keputusan Mega Usung Jokowi di Pilpres 2014
"Baru dua tahun menjadi Gubernur (Jakarta), Saya bilang jangan, belum cukup pengalaman. Nanti rusak negeri ini."
"Budaya Kerja Sambilan di Berbagai Negara"
Bayangin lo masih pelajar SMA atau mahasiswa semester awal.
Uang saku pas-pasan, pengen beli laptop baru atau traktir gebetan, tapi orang tua bilang “fokus sekolah aja”.
Di Indonesia, nyari kerja sambilan (part-time) buat pelajar kayak nyari jarum di tumpukan jerami.
Lowongannya jarang, dan kalau ada pun biasanya diprioritaskan buat yang sudah lulus.
Kenapa ya? Padahal di negara lain, anak muda kerja sambilan itu hal biasa. Mari kita bahas ceritanya…😒👇