pas umur skrg, aku kadang kasihan sm diriku di usia 20an krn gampang sedih & panikan. pdhl pas udah umur 30an none of them matters anymore. hal2 yg tak takutkan ya sudah terjadi dan ternyata aku gak opo2 lhooooo hahahah. damn, tiwas wedi.
Hard lesson buat saya : The crying baby gets the milk.
Dari kecil jarang minta ini itu, bahkan kalo ada yg rusak pun nyoba diperbaiki sendiri dulu. Pas gede ortu saya ternyata ngeliat saya sebagai anak yg gampang diurus. Kuliah disuruh cari beasiswa sendiri, bahkan motorpun ga-
Waktu itu ada yang bilang, mereka ngga nyangka gue bener-bener kekeh childfree soalnya pas ada SG gue ngurus keponakan pacar, gue keliatan seneng dan telaten banget, nggak jijikan ngadepin iler + susu yang netes terus.
.... Ya kan gue childfree? Bukan child hater? 😭😭
Dari dulu selalu nekenin ke temen-temen cewe, “Look who your boyfriend is friends with”.
Birds of a feather flock together. Cowo bisa aja akting baik & ksatria depan lu (ada maunya), tp liat kualitas temennya & kalian bisa nilai seperti apa dia.
Ga usah BAYAR APPLE buat nambah storage iCloud.
Gue beresin dalam 10 menit. Free 12 GB tanpa keluar duit dan tanpa hapus foto2 penting. Langsung hemat 45ribu/bulan.
Gini caranya:
Setelah dipikir-pikir, nalar dan pola pikir para pemangku negara memang membikin kita beristigfar berkali-kali, ya. Misalnya,
1. Negara punya visi ingin memberantas stunting; diciptakanlah embege. Tetapi implementasi awal bukan pada bumil dan busui, melainkan pada anak-anak sekolah. Setelah berjalan beberapa bulan, mulailah untuk menjangkau bumil dan busui. Tapi sajiannya? Jangankan untuk mengatasi stunting, untuk bisa jadi sajian umum untuk bumil dan busui saja amat sangat tidak pantas. Semua masukan pakar dan ahli diberangus, saran dan kritiknya difitnah sebagai bentuk hinaan dan cacian.
2. Negara ingin (dianggap) hadir dalam meningkatkan mutu pendidikan. Tetapi alih-alih membuat alur koordinasi yang ciamik antar kementerian dengan daerah untuk memperbaiki sistem rekrutmen guru, menaikkan upah dan taraf hidup guru, memperbaiki bangunan dan sarpras sekolah yang sudah ada, membangun perpustakaan sederhana di setiap kecamatan, negara malah membangun sekolah rakyat. Mengabaikan sekolah negeri dan kurikulum yang sudah ada, menciptakan GAP di antara pekerja pendidikan dan guru.
3. Negara ingin menciptakan banyak lapangan kerja untuk mengatasi pengangguran. Namun alih-alih menaruh perhatian lebih pada sekolah-sekolah vokasi, memperbaiki kinerja menristekdikti, membungihanguskan praktik nepotisme pada jabatan lembaga dalam negeri, memperbaiki sistem antar perguruan tinggi dan perusahaan yang pro dengan lulusan diploma, sarjana, hingga magister, memperbaiki upah dan taraf hidup dosen, negara malah keukeuh melestarikan praktik nepotisme, polisi dan TNI diberi pekerjaan yang bukan tupoksinya, menciptakan cara instan nan cacat lewat program SPPI, membangun banyak SPPG dan KOPDES, mengabaikan pembludakan lulusan perguruan tinggi dan rendahnya serapan perusahaan.
Yang dipikirin langgengnya kekuasaan terus? Tiap dikritik keras nanti jawabnya, "percaya dengan kepemimpinan saya." Terus habistu nyebar teror, para pejabatnya melakukan komunikasi publik yang jelek, aktivis-aktivis direpresi, dijadikan korban rencana pembunuhan. Pakar, ahli, dan 'orang pintar' dimusuhi lewat pidato-pidato. Mau percaya gimana kalo baru setahun setengah jalan aja udah banyak kejanggalan gini?
Orang-orang ini terlalu melebih-lebihkan.
Roti MBG gak berjamur 2 minggu bukan berarti rotinya banyak pengawet, tapi jamurnya yg ga doyan sama roti dari proyek problematik.
golongan wong mumet & dead inside ini ya wes males eker2an lebaran mau diramein atau nggak. bah kon masak opor ayam, kresengen tirex, kon sak keluarga gawe dress code sage green entah jubah terpal, yooohh aturen dewe love 🩷 mohon maaf & lahir batin 🙏🏻