[BEST BUY SHOPEE]
1. Penghilang bekas luka
Buat darah manis yg ada bekas gigitan nyamuk, bekas alergi yg susah ilang atau bekas lupa apapun📢
Racun t!ktok, murce & ngaruh banget, semingguan pun udah mulai pudar, ±sebulanan dah ilang bekasnya😭
Awalnya gamau berteman dekat dengan orang di s2 ini, tapi mereka baik kok, semoga ini salah satu jawaban Allah atas dimudahkan jalanku disini aaak jujur banyak bgt ovt nya baru matrikulasi aja🤯 blom masuk smt 1 wkwk alhamdulillah dipertemukan dg orang-orang baik😇
Ayat ini terasa seperti pelukan buat aku.
Bahwa di tengah dunia yang ramai dan melelahkan, Allah masih bisa menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang yang berusaha percaya kepada-Nya.
@txtharihariWNI Jujur kesel dengan budaya jawa ini yg bikin stres awal alm bpk gue meninggal, kalimat gada waktu buat berduka dan menangis malah stres itu beneran anjj bahkan abang gue pun mengeluhkan hal yg sama kek capek 7 hari an krn culture ini😓🤕
afirmasi positif :
aku sedang menuju versi terbaik diriku. aku percaya pada diri sendiri. aku hebat, aku kuat, aku berharga, aku beruntung. aku pantas mendapatkan segala hal baik yang sedang menujuku.
akhir-akhir ini gue kaya mix feeling banget, sometimes im genuinely excited about life, sometimes i just wanna disappear for a bit, terus lucunya gue sendiri ga tau sebenernya gue lagi ngerasa apa, kaya semuanya fine, but somethin’ feels weird?
Aku baru nonton podcast dr. Gia Pratama bareng keluarganya. Awalnya kukira bakal sekadar ngobrol keluarga, ternyata banyak banget prinsip soal pernikahan, parenting, dan kehidupan yang menurut aku menarik.
Ada 7 poin yang paling nyangkut:
1. Pernikahan itu perlu dipersiapkan, bukan cuma dijalani.
Sebelum menikah, orang tua dr. Gia bahkan belajar dari banyak pasangan lain selama kurang lebih 2 tahun. Jadi mereka gak cuma mikirin “kapan nikah”, tapi juga “keluarga seperti apa yang mau kita bangun?”
2. Keluarga mereka selalu hidup dengan tujuan.
Dari kecil, dr. Gia dan adiknya dibiasakan bertanya: “Tujuannya apa?” Kalau sesuatu gak sejalan dengan goals hidup, ya gak perlu dipaksakan.
3. Anak perlu diajarkan kuat, tapi gak harus lewat kekerasan.
Salah satu prinsip parenting mereka adalah mental toughness without violence. Saat anak gagal, fokusnya bukan dimarahin, tapi ditanya: “Dari kejadian ini kamu belajar apa?”
4. “Setiap anak punya kurikulum hidupnya masing-masing.”
Ini salah satu kalimat yang paling aku suka. Orang tua gak harus selalu menyelamatkan anak dari kegagalan atau kesedihan, karena bisa jadi justru dari situ ada pelajaran yang sedang membentuk dirinya.
5. Jangan membuat anak terlalu nyaman.
Walaupun orang tuanya mampu, dr. Gia dan adiknya tetap dibiasakan hidup sederhana, naik kendaraan umum, mengatur uang, dan menerima konsekuensi dari pilihan sendiri. Bukan karena gak mampu memberikan kenyamanan, tapi karena mereka ingin anaknya belajar mandiri dan tahan menghadapi hidup.
6. Dalam keluarga, komunikasi harus dibangun di atas rasa saling menghormati.
Ada satu prinsip menarik: bahkan kalau kamu merasa berada di pihak yang benar, gak ada salahnya minta maaf lebih dulu. Karena minta maaf bukan berarti kalah, kadang itu cuma bentuk kerendahan hati untuk menjaga hubungan.
7. Pernikahan itu seperti penerbangan: harus punya flight plan.
Kamu harus tahu mau pergi ke mana, apa saja “badai” yang mungkin datang, dan apa yang akan dilakukan ketika ada masalah. Finansial, moral, keluarga besar, kesehatan, sampai komunikasi sebaiknya dibicarakan sebelum semuanya berubah menjadi konflik.
Yang aku tangkap dari podcast ini, keluarga yang kuat ternyata gak dibangun karena semuanya selalu berjalan mulus.
Tapi karena orang-orang di dalamnya punya tujuan yang sama, mau belajar dari kesalahan, tahu cara mengelola emosi, dan tetap saling menghormati ketika keadaan sedang gak mudah.
Karena keluarga yang bertahan lama bukan keluarga yang gak pernah kena badai, tapi keluarga yang tahu ke mana mereka ingin pulang setelah badai itu lewat.