“Pak, kenapa hidup begini amat ya? Aku capek ditolak terus.”
Begitu kata Antoine Semenyo sambil nangis ke bapaknya di mobil mereka waktu itu. Semenyo yang masih 15 tahun ngerasa down karena gak diterima akademi Arsenal, Spurs, Fulham, Millwall, dan Crystal Palace.
Dia udah mau nyerah sama yang namanya sepak bola. Mentalnya kena. Bayangin seorang bocil yg rela ngorbanin waktu main sama temen buat fokus latihan tiap abis pulang sekolah, tapi gagal trial berkali-kali.
Setahun dia rehat dari sepak bola. Nikmatin waktu bareng temennya, nyoba main basket, bener-bener gak nyoba buat trial di mana-mana. Udah gak minat.
Sampai lah di tahun 2016. Waktu itu, omnya Semenyo denger ada trial yg lagi diadain SGS College. Semenyo sebenernya udah males ikut karena badannya juga udah agak berisi.
Tapi, dia mikir, ya elah apa sih kemungkinan terburuk, paling juga ditolak lagi. Udah kenyang penolakan, akhirnya dia ikut tanpa ekspektasi tinggi.
Kerennya, pas trial waktu itu Semenyo justru gacor banget. Nyetak gol terus, dan akhirnya dia mulai suka sepak bola lagi.
Sparks buat jadi pemain pro udah balik, akhirnya dia serius ngejar mimpi itu lagi. Ikut program SGS tadi, sambil belajar sports science.
Dia terus improve, sampai di titik dapet tawaran kontrak dari klub yg sblmnya nolak dia, Crystal Palace. Tapi, Semenyo akhirnya lebih milih Bristol City yg deket dari tempat tinggal dia waktu itu.
Tahun 2018, dia dapet kontrak pro pertama bareng Bristol City. Malam ini, dia nyetak gol penentu gelar FA Cup Manchester City.
Jadi apa gais? Yak, dari Semenyo kita bisa belajar kalo penolakan di awal2 karier emang sakit banget, nangis dan setback pun gapapa. Tapi dari situ lah mental kita kebentuk.
Learn how to handle rejection well. Keep on believing & better days are coming 🧘♂️
Save your tears for another daaaay~
I have witnessed this club go from doubters to believers, and from believers to champions. It took hard work and I always did everything I could to help the club get there. Nothing makes me prouder than that.
Us crumbling to yet another defeat this season was very painful and not what our fans deserve. I want to see Liverpool go back to being the heavy metal attacking team that opponents fear and back to being a team that wins trophies. That is the football I know how to play and that is the identity that needs to be recovered and kept for good. It cannot be negotiable and everyone that joins this club should adapt to it.
Winning some games here and there is not what Liverpool should be about. All teams win games.
Liverpool will always be a club that means a great deal to me and to my family. I want to see it succeed for long after I have moved on.
As I’ve always said, qualifying to next season’s Champions League is the bare minimum and I will do everything I can to make that happen.
Wolves resmi degradasi dari Premier League. Damn, setelah empot-empotan ga selamat juga ini klub.
Terakhir kali mereka menang di liga itu awal Maret. Tebak lawan siapa? Liverpool-nya Arne Slot. XD
Pengen bahas salah satu ‘what if’ terbesar Wolves: Vitinha. Ada yg tau ga midfield maestro PSG ini pernah mampir ke Wolves?
Ceritanya, pas pandemi, FC Porto lagi ada financial problem. Mereka terpaksa ngelepas beberapa pemain buat longgarin keuangan klub. Dua pemain pindah ke Wolves: Fabio Silva & Vitinha.
Silva dijual permanen £35juta, sementara Vitinha di-loan semusim pakai klausul beli £17juta. Harapannya Porto, Wolves mau nebus Vitinha di akhir musim. Namanya lagi BU, it’s okay, semua cara yg paling bisa ngasih profit dicoba.
Vitinha yg seumur hidup di Portugal & temenan sm expat, akhirnya jadi expat di Inggris. Adaptasinya waktu itu sama sekali gak gampang, entah di dalam atau di luar lapangan.
Secara total, selama semusim dia main 22 kali, mostly dari bangku cadangan, bikin 1 gol & 1 assist. Temen setimnya, Fernando Marcal, pernah ditanya L’Equipe kenapa Vitinha gak works di Wolves. Jawabannya, gaya main Vitinha ga mengakomodir skema si pelatih, Nuno Espirito Santo.
Vitinha suka carry bola lama buat baca tempo, sementara Nuno maunya dia main simple & cepet ngalir. Menuju akhir musim, Nuno dipecat Wolves. Pelatih penggantinya, Bruno Lage, gak mau permanenin Vitinha. Dia pikir £17juta itu perjudian yg terlalu berisiko. Ya udah deh.
Akhirnya, buat musim 2021/22, Vitinha balik ke Porto & di-plot jadi deep lying playmaker. Pas bursa transfer, Porto nawarin Vitinha lagi ke Wolves (masih BU 😭) tapi Wolves tetep ga mau bayarin.
Eh ternyata Vitinha konsisten bagus sampe akhir musim dan dateng lah PSG nawar dia 2 kali lipat dr tawaran Porto ke Wolves, £34juta. And the rest is history.
Tahun lalu, Rio Ferdinand interviu Vitinha sblm final UCL & nanya soal ‘flop’-nya dia di Wolves. Vitinha jawab: “context is everything.”
Di atas, gue udah jelasin konteksnya. Kalo kita emang ga berjodoh sm sesuatu, mau dicoba gimana pun ga akan bisa. Bisa tanya juga ke Serge Gnabry yg 2016 ga dapet menit main di West Brom, tapi 2 tahun kemudian malah jadi starter di Bayern München.
You can’t rush greatness. 💫
Meanwhile Gabriel martineli saw Conor Bradley down injured and his reaction was to throw the ball at him and push him. Arsenal fans ask why people dislike them,this is the reason why
Fans Liverpool, sehat? Satu per satu pemain senior angkatan Klopp pergi.
Baru aja confirmed kalo Robertson akan nyusul Mo Salah cabut di akhir musim.
Kalo bahas Robbo, selalu keinget tweet legend dia tahun 2012 ini, pas dia masih 18 tahun.
Robbo waktu itu baru aja gabung klub amatir Skotlandia yg ga jauh dari rumahnya, Queen’s Park, setelah direkomendasiin pelatih juniornya di Celtic dulu.
“Kok udah main di klub, tapi masih ngetweet ga punya uang?” Queen’s Park waktu itu keuangannya setara PSG alias masih banyak pemain yg digaji part-time, termasuk Robbo.
Robbo juga mesti kerja jadi ticketing di stadion klub dia waktu itu buat cari tambahan. Bahkan kepikiran opsi buat kuliah & pursue karier jadi guru penjas.
Tapi, mewarisi etos kerja bapaknya yg working class & bermental “roll your sleeves up & never give up”, Robbo end up tetep gaspol jadi pemain bola. And the rest is history.