tahun ini otw 27yo dan gapernah insecure liat temen udah pada nikah dan punya anak, karena ya sesimple aku emang enjoy sama diriku sendiri.
liat temen liburan dan achieve karir mereka aku ikut seneng tanpa iri dengki. di umur 25+ itu kita kadang lebih bodo amat dengan semua yang gakada sangkut pautnya di kehidupan kita.
just be yourself, embrace your happiness and always spread some love to others. gausah peduli kehidupan orang lain💗
@direktoridosen Setuju banget kita perlu kompetitif untuk maju bersama. Tapi perlu diingat, berkompetisi (salah satu bentuk aktualisasi diri) adalah terpenuhinya kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, kemudian diberikan penghargaan, BARU dia bisa berkompetisi. Jangan dibalik.
Kartini dipermasalahkan karena menjadi istri keempat.
Kartini dipermasalahkan karena Jawa.
Kartini dipermasalahkan karena hanya menulis surat-surat kepada seorang perempuan Belanda.
Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang memegang pedang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika, atau menerbitkan koran seperti Roehana Koedoes.
Apakah kita pernah berdebat tentang Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar terutama siapa yang paling pantas disebut pahlawan? Apakah kita pernah memperdebatkan mereka karena suku atau tipe perjuangan yang melekat pada mereka?
Sejarah dipenuhi berbagai tokoh laki-laki. Pahlawan bangsa dikerubuti oleh laki-laki. Foto-foto pahlawan kita di sekolah-sekolah dipenuhi oleh foto laki-laki. Tetapi kita tak pernah memperdebatkan tokoh-tokoh itu satu dengan lainnya.
Apa yang terjadi pada tokoh-tokoh perjuangan perempuan, pada setiap Hari Kartini: dipermasalahkan, diperdebatkan.
Apakah kita tahu bahwa Kartini adalah anak perempuan yang dinikahi di usia belia, yang reproduksinya belum sempurna, dan mengalami kematian saat melahirkan? Tahukah bahwa masa itu menjadi seorang perempuan Jawa itu lebih mengerikan daripada menjadi seorang perempuan Minangkabau?
Atau tahukah bahwa menjadi seorang perempuan bangsawan Jawa di masa feodal-konial abad ke-19 adalah tidak lebih baik daripada menjadi perempuan rakyat jelata ketika bicara soal kebebasan diri? Tahukah bahwa menjadi seorang kutu buku seperti Kartini, dengan wawasannya yang mendunia itu, dia tak bisa berbuat apa-apa karena posisinya waktu itu?
Kartini ibarat hidup dalam penjara. Sebagaimana tahanan penjara politik macam Pramoedya Ananta Toer, Kartini hanya bisa melawan dengan menulis. Menulis surat adalah salah satu cara supaya pemikiran-pemikirannya tentang pembebasan didengar. Kartini bersuara lewat surat-surat, sebagaimana orang-orang tahanan politik yang dipenjara.
Penyiksaan yang dialaminya adalah bagaimana kebahagiaan intelektualnya dipenggal. Bagaimana kecerdasannya dikerdilkan, karena dia seorang anak perempuan Jawa yang bangsawan, yang dipelihara di penjara bertembok keraton dan diharuskan berjalan dengan sangat pelan atau berjongkok-jongkok kepada yang lebih tua, atau bahkan kepada saudara laki-lakinya sendiri. Kartini sedemikian dibatasi karena dia seorang perempuan Jawa. Kartini demikian karena ia ingin menjaga Bapaknya. Bapaknya adalah pengantar kebebasannya pada apa yang disebut buku atau bacaan, wawasan, dan pendidikan.
Kartini mengungkapkan ketakutannya yang amat sangat dalam hal poligami, dimana Hukum Islam mengijinkan laki-laki kawin dengan empat perempuan. Dan masa menikah inilah yang paling dibencinya. Apa yang dibencinya adalah ketika tradisi Islam bercampur dengan Jawa, bahwa Jawa mengharuskan anak gadis menikah dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, dan Islam membolehkan laki-laki berpoligami. Kartini tidak punya pilihan apa-apa dan merasa perkawinan akan membunuh dia sedalam-dalamnya dan memang masa itu pun terjadi.
“Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencitai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus.
Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa. Bagiku semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudan harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian, suami itu bisa ‘membunuh’ istrinya... Mustahil rasanya sang suami memberi kebebasan padanya!”
Kartini lahir sebagai feminis bukan dilahirkan dari teori-teori feminisme, karena seorang feminis adalah dilahirkan, bukan diciptakan. Kartini dan pikirannya bukan sesuatu yang terpisah, atau tidak memisahkan antara pengalaman dengan persepsi, pengalaman dengan diskursus.
---
Tulisan di atas adalah cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari mbak @marianamiruddin yang versi lengkapnya bisa dibaca di web @jurnalperempuan.
Selamat Hari Kartini
21 April 1879–17 September 1904
Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜
Buat gw gym itu bukan soal badan doang, tapi mental.
Banyak yang mikir
gym = biar keliatan bagus.
Padahal yang bikin nagih itu bukan ototnya… tapi ngerasa punya kontrol atas diri sendiri.
Hari lagi berantakan, pikiran kemana-nana
tapi lo tetep dateng, angkat beban, pulang lebih tenang.
Setelah mencoba menonton, menelaah, menganalisa, memahami, dan mengkurasi isi wawancara Presiden Prabowo dengan 7 Jurnalis selama kurang lebih tiga setengah jam, ini beberapa hal yang saya dapatkan.
- Sebuah Utas
Tidak, kita tidak perlu mati-matian mempertahankan pertemanan atau perpacaranan.
Ketika dirasa tidak sesuai, dan dirasa ga layak lanjut, ya ga usa lanjut.
cantik sekali makna qoutes ini :
hiduplah dengan baik dan tenang, hiduplah sebahagia bahagia nya — carilah apa yang membuatmu happy dan hargailah detik kebahagiaanmu, jadilah manusia yang memanusiakan manusia mulai sekarang.
love yourself before someone els!
Kebiasaan orang indo kalo ngenalin orang buat dijodohin yg penting "ada" doang. Ga dipikirin kelayakan atau kecocokan dua pihak. Cuma karena sama2 dewasa dan dikejar umur, bukan berarti mereka ga boleh punya preferensi. Niat baik pun jadi busuk kalo dipaksain demi ego "penolong".
lihat, merusak motor pun tidak. ada banyak kaki di sana, ga ada satupun yang nyenggol atau pijak motor, sedikitpun.
hati-hati sekali kakinya, tapi manusia tidak hati-hati dalam membangun 😔
Aksi memikul karung beras 5 menit itu benar² menunjukkan aksi yang hebat. Dipikul Zulhas sendiri, pdhal banyak ajudan bertubuh kuat disekitarnya. Sungguh menyentuh hati melihat bgmana tangan yg dulu begitu sibuk menandatangani izin penebangan, kini dg penuh kelembutan memegang sekop, seolah berkata: "Lihatlah, rakyat, betapa giat aku menambal jebolnya perahu yg kubolongi sendiri." (M. Rizal Aydogan)
--
Sarapan Pagiii Linda Susanti
life lesson nya banyak bgt bgt bgt. Tapi aku coba summarize:
1. Ternyata the thing that won’t make us happier ironically adalah the belief that we need to be happy. Jadi kayak tanpa kita sadari “yang penting bahagia, yang penting bahagia” somehow itu jadi tujuan hidup dan jadi beban buat kita kalo ternyata kita gak bahagia. Ternyata di atas bahagia tuh ya, acceptance 🥲
2. Distraksi itu temporer. Makin distract, makin sakit. Aku udah di tahap yang setelah hari yang super sibuk dan berat, pas waktunya istirahat HANCUR semua, nangis terus sebelum tidur. Karna distraksi tuh sementara. Solusinya? Lagi-lagi: acceptance.
3. Avoiding painful memories. Salah. Bukan avoid, tapi digest. Terus dikelola sakitnya, sampai terbiasa, sampai accept. Jangan diburu2 karna proses tiap orang beda-beda.
❤️❤️❤️