dulu, saya ingin jadi Hakim. Karena hakim adalah satu-satunya kerjaan yang ngga ada atasan, kecuali Tuhan langsung. Tapi orang tua melarang. Alasannya, pertanggungjawaban di akhirat berat.
belakangan, setelah saya pernah ditugaskan di unit pengembangan dan konseling karir, saya jadi sadar.
Bahwa pemilihan karir, ada banyak faktornya.
pertanyaannya, gimana sih cara menentukan "profesi hukum" yang akan dikejar?
ada dua spektrum: private-publik; praktisi-akademisi. Lalu seperti di gambar inilah pemetaannya.
terus gimana cara memilihnya? saya jawab dengan pertimbangan:
1. minat hukumnya apa
2. konsentrasi yang sedang diambil
3. pengalaman magang/lomba/proyekan
4. ekspektasi kerja: uang, ruang aktualisasi, atau waktu.
5. faktor personal lainnya
dari sana lalu dieksplor opsi-opsi terbaik. ✨️
seseorang masuk ke kelas, tanpa membawa apa-apa, terlihat masih muda, gaya trendy, baju-celana-sepatu senada. Setelah duduk, kacamatanya di taruh di atas kepalanya. Kata beliau, kacamata di atas, bukan karena matanya yang minus, tetapi otaknya.
tanpa basa-basi, atau PPT, beliau langsung menerangkan materi.
yang mencengangkan, beliau menjelaskan materi hukum, titik koma persis seperti di buku, murni hafalan. Kalimatnya terstruktur, daging, tapi sering ada jokesnya.
salah satu sosok panutan dalam mengajar. Bilau adalah Prof. Eddy OS Hiariej.
saya sertakan video ini, agar terbayang. Ini bukan AI. 🥹
saya terhentak mengikuti kasus BGN, malam kemarin Pak Dadan diberhentikan, paginya kantor digeledah, malam ini ditahan.
saya ikuti penjelasan dari Kejaksaan sejam lalu, dan merangkumnya sebagai berikut:
1. Kejaksaan menetapkan tiga orang tersangka. Mereka adalah bekas pimpinan inti di Badan Gizi Nasional: Kepala badan, dan dua wakil kepala.
2. sejak 6 Januari 2025, pemerintah menjalankan MBG sebagai program prioritas nasional, dengan anggaran Rp85,27 triliun di 2025, dan Rp80 triliun di 2026.
3. Kejaksaan menemukan pola, bahwa yayasan-yayasan yang seharusnya menjadi mitra pelaksana, ternyata terafiliasi dengan para pejabat itu sendiri.
4. proses penunjukan mitra pun tidak berjalan netral. verifikasi yang seharusnya objektif, justru diintervensi.
5. dampaknya, yayasan-yayasan itu disebut menerima insentif miliaran rupiah setiap hari.
6. penyimpangan juga merembet ke pengadaan barang:
- Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan total pengadaan sekitar Rp1 triliun;
- Pengadaan 32.000 pasang sepatu yang tidak sesuai ketentuan dan adanya mark-up;
- Pengadaan tablet sebanyak 31.000 sekian unit yang tidak sesuai ketentuan dan adanya mark-up; dan
- Pengadaan televisi 75 inci sebanyak 5.400 unit yang tidak sesuai ketentuan dengan adanya mark-up harga.
7. ketika KAK tidak lagi dibuat berdasarkan kebutuhan, melainkan mengikuti kepentingan,indikasinya: mark-up harga, spesifikasi tidak tepat, dan output yang tidak mendukung tujuan program.
8. menariknya, kasus ini bermula laporan masyarakat soal dapur MBG yang tidak sesuai spesifikasi. Dari situ, penyelidikan dilakukan, dalam waktu satu minggu.
9. sampai sekarang, angka kerugian negara masih dihitung.
10. saat ini tiga tersangka sudah ditahan, penggeledahan dilakukan di berbagai lokasi, dan barang bukti elektronik telah diamankan. Penyidikan masih berjalan, dan kemungkinan tersangka baru masih terbuka.
11. dari sisi hukum, Kejaksaan juga menegaskan satu batas penting: tidak semua hubungan atau afiliasi itu salah. yang menjadi masalah adalah ketika afiliasi itu dipakai secara melawan hukum dan menciptakan konflik kepentingan dalam pengambilan keputusan.
sedih memang, karena sebaik apa pun kebijakannya, akan hancur bila di tangan yang salah. 😔
(sumber foto: BBC)
berbalas opini di X ⛔️
berbalas opini di media massa ✅
tiba-tiba keinget, ada tradisi akademik yang menarik diulik, yaitu saling berbalas opini di media massa.
kali ini, pak dosen mencoba menyuguhkan beberapa perdebatan hukum dari guru-guru dan kolega.
{sebuah utas}
Dua tulisan “beda banget” ini atas bawah di satu halaman :)
Aku seneng baca debat gini karena medium tulisan = mikir, bukan hanya modal pokoknya :)
Buat teman-teman yg di medsos cakap menulis, punya perspektif kritis, coba deh menulis di media massa.
FYI, hanya 4 nama dari Indonesia yg sempat dirumorkan masuk nominasi peraih Nobel:
1. Pramoedya Ananta Toer.
2. Presiden SBY.
3. Taruna Ikrar.
4. Septinus George Saa.
Sekelas mrk saja hanya berhenti di sana. Belum pernah benar-benar ada dr Indonesia dapat Nobel.
💚 maaf bgt reupload, tapi ini yg bookmark 24 yg komen cm 1 akun (makasih bgt😭) aku butuh bgt ilmu kalian guys, tolong bantu ya panjangin kata buat essay 😭
contoh : karena = hal tersebut dapat terjadi apabila
jadi = oleh sebab itu
semoga bahagia ya kalian semua
Mending pilihan ganda. Lower middle class seperti saya bisa grinding soal 3 jam per hari agar lulus UM UGM.
Kalau masuk kampus pakai essay pasti saya kalah sama kandidat yang ortunya punya pengaruh. Ga percaya? Lihat aja essay JFK.
@hellofutur_e@dmz_ers@oolongteashake Emang segitu aja kualitas orang yg menganggap dirinya "terlalu kritis dan dosennya tolol." Punya grandiose view of themselves tapi ga bisa buktiin apa2.
Apakah Reformasi Jilid 2 benar-benar kebutuhan perubahan sistem, atau sekadar narasi politik baru? Perdebatan ini terus bergulir, terutama ketika sebagian aktivis mulai masuk dalam arena kekuasaan dan jabatan publik.
btw, ada banyak banget fakta seru lainnya yang aku bahas di buku terbaruku, Arcana Oceanis.
bisa cek di sini: https://t.co/RgEvxtku3V
mulai dari gimana laut tercipta, makhluk purba, buyut paus, sampai laut modern juga dibahas ♥️
ada 485 eksemplar lagi buat X.
@araiqioua Terima kasih atas perhatian & masukannya. Saat ini layanan iPusnas masih dalam proses penanganan teknis oleh tim terkait agar sistem dapat kembali optimal & stabil. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya, perkembangan terbaru akan kami informasikan melalui kanal resmi Perpusnas