April, 13 tahun yang lalu, Andie Peci dibacok dan dipukuli sekitar 12 orang berbadan besar.
Peci dianiaya beberapa saat setelah ia mengikuti aksi damai mendukung Persebaya Surabaya 1927 yang tak diakui eksistensinya oleh PSSI.
Karena sepak bola, pria2 beringas itu hendak menculik Peci. Namun Peci menolak, melawan, dan menangkis sabetan2 celurit pelaku. Tangan Peci berdarah, beberapa bagian tubuhnya lebam. Di rumah sakit, Peci menerima 29 jahitan pada tangannya.
Teror itu tidak pernah menghentikan Peci. Dia bersuara semakin lantang, semakin aktif turun ke jalan. Sampai hari ini, para pelaku pembacokan itu tidak pernah terungkap. Siapa otak di balik penyiksaan itu tidak pernah tersingkap.
Hari ini, Peci meninggal dunia, meninggalkan jejak kenangan berupa keberanian dan idealisme pilih tanding.
Peci, sebuah kehormatan bisa mengenalmu. Selamat jalan. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Innalillahi wa innailaihi rojiun.
Rest in Peace, Cak Andie Peci
Sepak bola Indonesia kehilangan salah satu sosok paling tulus dan berani. Perjuangan panjang Cak Andie Peci tercatat abadi dalam sejarah berupa gerakan nyata melawan ketidakadilan demi marwah sebuah klub, sebuah kota, dan sebuah prinsip.
Memoriam perjuangannya, terutama momen mengembalikan Persebaya ke kancah nasional, adalah bukti sahih dedikasi tanpa tandingnya.
Pandangan kritis beliau adalah cermin jujur yang berani dia ungkapkan dari apa yang terjadi dalam dunia sepak bola khususnya di tanah air.
Warisan pemikirannya akan terus hidup, menjadi role model bagi siapa saja yang percaya bahwa sepak bola adalah milik rakyat.
Pandit Football mengagumi dan menghormatimu, Cak. Tenang di sana.π₯
tanpa penonton? ngga, Persebaya lewat Persebaya Store ikut memberi tekanan mental ke pemain lawan lewat outfit yang digunakan coach, staff & kitman lewat tulisan simple tapi on point
Bonek.
Pagi tadi, kami memberangkatkan beberapa personil kami menuju Sumatera untuk membantu proses evakuasi.
AVIGNAM JAGAT SAMAGRAM, SELAMATLAH ALAM SEMESTA
FOOTBALL FOR HUMANITY