Misalkan Aku datang ke rumahmu
dan kau sedang khusyuk berdoa,
akankah kau keluar dari doamu
dan membukakan pintu untukKu?
—Joko Pinurbo
Penyair Indonesia | Sumber: Joko Pinurbo, Buku Latihan Tidur, hlm. 42
JOKO PINURBO, TUHAN, PONSE & SAYA
Tuhan, ponsel saya
rusak dibanting gempa.
Nomor kontak saya hilang semua.
Satu-satunya yang tersisa
ialah nomorMu.
Tuhan berkata:
Dan itulah satu-satunya nomornya
yang tak pernah kausapa.
— Joko Pinurbo | Perjamuan Khong Guan
"Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."
— Ir. Soekarno
Bapak Proklamator Republik Indonesia | Sumber: Direktorat Nilai Sejarah RI, Pidato Bung Karno, hlm. 25
#dirgahayuindonesia
Bangsa-bangsa di Hindia tidak pernah tidak korup. Mereka korup sudah sejak dunia pikirannya, dari dukun sampai pedagangnya, dari petani sampai rajanya.
— Pramoedya AT, Jejak Langkah, 327
Aku Ingin
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
— Sapardi Djoko Damono
"Apa saja yang ada di dalam hidupmu, tertawalah. Engkau seorang lelaki, tidak patut untuk mengeluh."
— Emha Ainun Nadjib
Budayawan - Inisiator Masyarakat Maiyah
Nyengir pren 🙂
"Perempuan itu tak bisa dieja
kecantikannya;
ia adalah kalimat utuh
yang tak cukup sekedar dilisankan,
dan baru mengandung jiwa
bila disenandungkan
yang hanya bisa terdengar getarnya
dalam upacara yang khusuk
di sudut-sudut ingatan."
― Sapardi Djoko Damono
"...bila akar dan batang sudah cukup kuat dan dewasa, dia akan dikuatkan oleh taufan dan badai."
— Pramoedya Ananta Toer
Sumber: Raden Tomo dalam Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah (Jakarta: Lentera Dipantara, 2005), hlm. 277.
"Kita adalah setengah yang dipisah, saling tuju dengan susah payah, sengaja dijauhkan agar tahu makna mencari dan mencemaskan."
— Emha Ainun Nadjib
Budayawan, Inisiator Masyarakat Maiyah
Kita? Gimana kita? Kita gimana? Gak jadi-jadi nih? Kita? Aku dengan siapa? 🙃
"Mesjid di kotaku pintu-pintunya selalu ditutup jika malam, sebab takut perabot-perabotnya yang mewah akan hilang. Apakah Tuhan terkurung di dalamnya, memandang kita dari kaca jendela sambil melambai-lambaikan tangan-Nya?"
— Emha (Cak Nun)
Sumber:https://t.co/Wra24DrUGB.
"Akhirnya kita saling berdiri dan saling mengucapkan selamat tinggal. Namun cinta dan putus asa berdiri di antara kita bagaikan dua hantu yang merentangkan sayapnya. Yang satu menangis duka. Sedangkan yang lain dengan seramnya tertawa.
— Kahlil Gibran oleh Dr. Fahruddin Faiz
"Kuobati rinduku kepadamu dengan mendoakanmu. Memang tidak menyembuhkannya, tapi cukup mengurangi perihnya."
― KH. Mustofa Bisri
Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin di Leteh, Rembang Mustasyar PBNU 2022-2027
"Anda tahu, bahwa ada empat presiden di Indonesia. Yang pertama tergila-gila pada wanita. Yang kedua tergila-gila pada harta. Yang ketiga benar-benar gila. Yang keempat adalah saya sendiri, membuat orang lain menjadi gila."
― Gus Dur
Guyonan Gus Dur saat bertemu Fidel Castro
"Jangan berhenti, yang kau takutkan tak akan terjadi. Yang dicari hilang. Yang dikejar lari. Yang ditunggu dan diharap. Biarkanlah semesta bekerja untukmu. Tenangkanlah hati. Semua ini bukan salahmu. Jangan berhenti yang kau takutkan tak akan terjadi."
— Kunto Aji x Najwa Shihab
"Nek wong apik kui mesti mulyakne wong wedok. Kapan nek gak mulyakne wong wedok kui uduk wong apik."
"Orang yang baik pasti memuliakan perempuan. Kalau ada lelaki yang tidak memuliakan perempuan berarti dia bukan orang baik."
— KH. Anwar Manshur Lirboyo
Meski tanpa tali temali
Ibu tetap tambatan
Dan kalau aku malang perahuku karam
Jangan khawatir, Ibu
Karena hatimu adalah kuburku yang sebenarnya.
― KH. D. Zawawi Imron
Hatimu tempat terhangat untuk terbakar, tempat terindah untuk padam.
"Suatu saat Abu Nawas disindir teman-temannya karena ketika hujan, dia berlari. “Bukankah hujan itu nikmat dari Tuhan? Kenapa kamu malah berlari utk berteduh?”
Abu Nawas menjawab santai, “Justru supaya aku tidak menginjak-injak nikmat Tuhan…”
— KH. Bahauddin Nursalim