Pernah baca quote cantik banget:
"Berhentilah memikirkan semua hal yang belum terjadi. Takdir Allah sudah tertulis jauh sebelum kamu mengkhawatirkannya."
Take a deep breath. Allah is already there. ๐ค
@KangZayuur Sedih bgt ngeliat realita dimana blm semua tim mapan tp harga lokal kemahalan, pssi gamau bikin struktur dan skala upah kah kayak di korporat:(
Yang membuat hancur seseorang itu adalah serakah.
Ga bisa merasa cukup.
Serakah ini mengakar dari semua kalangan.
Mau kerja enak, santai tapi duit gampang banyak.
Enough is enough.
Ra iso berpikir ngono.
Ustadz Khalid Basalamah dalam kajiannya mengatakan :
Kebahagiaan orang lain tidak akan merugikanmu, kekayaan mereka juga tidak akan mengurangi jatah rezekimu.
Hiduplah dengan hati yang bersih, agar ketika melihat nikmat orang lain, hatimu tidak sakit.
islam โ assalamualaikum
kristen โ syalom
katolik โ salam sejahtera
hindu โ om swastiastu
budha โ namo buddhaya
umum โ salam kebajikan
siluman โ P
by kata ibu ;
"kalo sakit hati sama seseorang jangan sampe dibacain "al-jabbar" , kasihan nanti balasannya, bahkan do'a ibunya pun nggak mampu nolongin" ๐ฅบ.
Ya Allah, Ya Jabbar Laillahailla anta subhanaka inni kuntum minnazholimin.
semoga Al-Jabbar ku menembus langit.
Kisah Menteri Paling Miskin, Menguasai 9 Bahasa Dunia tapi Hidup Mengontrak Dari Gang ke Gang Sampai Akhir Hayatnya
Dunia mengenalnya sbg "The Grand Old Man" Diplomat jenius yg menguasai 9 bahasa asing.
Pria yg disegani lawan debatnya di Liga Bangsa Bangsa (sekarang PBB). Dialah H. Agus Salim
Tapi dibalik jas mentareng dan rokok kreteknya tersimpan kehidupan asli yg jauh dari kata mewah, bahkan bisa dibilang sangat melarat untuk ukuran seorang pejabat Negara.
Di balik keteguhan Agus Salim ada seorang wanita hebat bernama Zainatun Nahar. Beliau bukan sosok isteri pejabat yg sibuk arisan atau pamer kemewahan, Zainatun adalah wanita yg rela hidup Nomaden. Selama mendampingi suaminya mereka tidak pernah memiliki rumah pribadi, mereka selalu berpindah dari kontrakan sempit ke kontrakan lain di gang-gang becek Jakarta (Tanah Abang, Jatinegara, Karet)
Gaji Agus Salim sebagai pejabat sering kali habis untuk perjuangan dan sedekah. Saking sulitnya ekonomi mereka, Zainatun sering memutar otak agar anak2nya bisa makan. Pernah suatu hari tidak ada uang belanja tapi Zainatun tidak mengeluh, ia mengolah apa yg ada, ia tetap tersenyum menyambut suaminya pulang meski di meja makan hanya ada nasi dan kecap.
Kisah paling legendaris terjadi saat mereka mengontrak di gang sempit Tanah Abang, saat itu hujan deras dan rumah mereka bocor parah, air masuk ke ruang tamu. Kebetulan ada tamu penting (Tokoh Pergerakan) yg datang berkunjung.
Apakah Agus Salim malu? Tidak, ia justru mengajak isterinya bernyanyi sambil menaruh ember2 di bawah bocoran air.
Dengan jenaka Agus Salim berkata kpd tamunya "Maaf, nyonya (Zainatun) sedang sibuk mengatur bendungan, sebentar lg kita akan punya kolam renang di dalam rumah".
Mereka tertawa bersama, Zainatun tidak merasa hina ia justru bangga. Bahwa kemiskinan harta tidak bisa merampas kebahagiaan dan harga diri keluarga mereka.
Sebenarnya mudah saja bagi Agus Salim untuk menerima "hadiah" rumah atau uang dari kawan2nya, tapi ia dan Zainatun sepakat menolaknya. Mereka memegang prinsip "Leiden is Lijdn" Memimpin itu menderita. Mereka tidak mau hidup enak dari fasilitas Negara sementara Rakyatnya masih sengsara.
Hingga Agus Salim wafat pada 4 November 1954 ia tetap tidak punya rumah sendiri.
Ia mewariskan nama besar tapi tidak harta benda.
Zainatun melepas kepergian suaminya dgn tegar. Ia tahu suaminya adalah mutiara yg tak perlu dibungkus kotak emas untuk bersinar
Semoga saja kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi pejabat kita
terutama para petinggi BGN yg beli mtr listrik tanpa izin DPR