Dibully temannya.
Dipermalukan gurunya.
Harusnya ditemani buat konseling, karena anak ini justru korban.
Bukannya diperlakukan kayak teroris.
Lha wong yang meneror itu justru dari sekolahnya.
Gak kebayang apa yang dia lalui sampai seputus asa itu dan membakar sekolahnya. 😮💨
Peristiwa ini tamparan keras untuk sekolahnya dan dunia pendidikan.
Bocah ini memang yg melakukan pembakaran, tapi lingkungannya yg telah menyulut bara api.
Ini hanya dampak dari bullying yg terus dibiarkan. Teman sekolah brengsek plus guru yg abai.
Kalau ada yang melanggar batas, edukasi. Kalau ada yang salah, diberi tahu. Tukar pikiran. Sharing. Apa maunya anak muda? Apa yang dirasa baik menurut bapak dan ibu sekalian? Bukankah itu artinya komunikasi?
Sepertinya, kita terlalu mematok standar harus punya pasangan seperti yg ada di medsos. Harus deep talk, harus love language, harus jadi support system, harus tiger sprong keliling kota, harus bisa nyemburin api dari hidung. Padahal, bisa gabut dan ketawa bareng juga menyenangkan
“Baper” itu singkatan bawa perasaan. Kalau mau mengerjakan sesuatu dengan baik, ya harus bawa perasaan, bukan cuma pakai logika. Kan, kita manusia, bukan umbi-umbian. Terus, kalau sakit hati dibilang enggak boleh baperan, gitu? Berak sekebon