Selamat atas terpilihnya dua pucuk pimpinan NU pd Muktamar ke 35 di Jombang: KH. Miftahul Achyar sbg. Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz sbg. Ketua Umum. Satukan kekuatan NU utk khidmah, lupakan pertikaian masa lalu, melangkah maju utk masa depan yg lbh baik bagi Indonesia.🙏
أجمل ما يمكن أن تعطيه لمن تُحب هو: وقتك، لأنك تعطيه ما لا يمكن استرجاعه
Hal terindah yang bisa engkau berikan kepada orang yang engkau cintai adalah waktumu. Karena engkau memberikan sesuatu yang takkan mungkin bisa diambil kembali.”
إنْ دعوتَ اللَّه أن يرزقك راحة البال ، فلا تستغرب هجران الناس لك . .
Jika kamu berdoa kepada Tuhan agar memberimu ketenangan pikiran, maka jangan kaget jika beberapa orang meninggalkanmu.
☕️🌹
Persimpangan Jalan
Jam’iyyah berusia satu abad ini benar-benar berada pada titik kritis.
Ini bukan semata soal urusan tambang yang bikin amburadul jalannya organisasi, tapi lebih jauh dari itu.
Pada satu sisi, Jam’iyyah Nahdlatil Ulama ini berdiri atas otoritas moral dan spiritual Kiai. Di sisi lain, tuntutan modernitas membawa jam’iyyah pada tata kelola organisasi modern, di mana otoritas Kiai direduksi oleh aturan main dalam AD/ART.
What next?
Pilihannya bukan sekadar memilih diantara islah atau menjaga supremasi Syuriyah. Pertanyaan sebenarnya jauh lebih dalam:
bisakah kaidah “المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح” dipahami sebagai mandat untuk memodernkan jam’iyyah tanpa tercerabut dari akar otoritas keulamaan?
Dengan kata lain, NU sedang berada di persimpangan jalan.
Jika NU hanya kembali ke qadim tanpa membaca tantangan zaman, ia akan terperangkap dalam romantisme masa lalu. Tapi jika NU mengejar “jadid” tanpa jaga marwah Kiai, ia akan terjebak dalam logika organisasi modern yang kering dari ruh, berubah menjadi korporasi yang hidup dari rapat dan anggaran, bukan dari hikmah dan karamah ulama.
Karena itu, masa depan NU bergantung pada kemampuan jam’iyyah menemukan format baru. Konflik ini harus melahirkan gagasan dan format baru jam’iyyah.
Jika NU gagal menemukan titik temu ini, konflik demi konflik hanya akan menjadi siklus yang berulang: para kiai kehilangan wibawa, para pengurus kehilangan arah, dan jama’ah kehilangan kepercayaan.
Namun jika NU berhasil, maka ia justru akan menjadi model Islamic civil society paling matang di abad ini: memadukan kedalaman spiritual, kearifan tradisi, dan ketangguhan administrasi.
Dan mungkin di titik itulah kaidah tadi menemukan maknanya yang paling benar:
menjaga yang lama karena ia membawa berkah, dan mengambil yang baru karena ia membawa maslahat.
Bisakah?
Tabik,
Nadirsyah Hosen
لا أحد يستطيع أن يروي قهوتك إلا لسانك، ولا أحد يستطيع أن يفهمك إذا لم يشعر بقهوتك.
"Tidak ada yang mampu menceritakan kopimu, selain lidahmu, tak ada yang mampu memahamimu, jika tak merasakan kopimu."
_Bukan kopi
Maiyah Tanpa Cak Nun, akan Sepi.....
Sejak Cak Nun sakit, Maiyah tanpa kehadirannya. Efeknya? Ya kehadiran jamaah Maiyah, tak seramai jika Cak Nun hadir. Maiyah itu ikonnya Cak Nun.
Fenomena ini, menyeruak di berbagai ranah lain. Ambillah contoh Bengkel Teater Rendra, Teater Populer dan Teater Ketjil. Sejak Rendra, Teguh Karya dan Arifin C Noer meninggal, tiga ikon panggung teater itu, terkubur.
Pun Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina. Setelah Cak Nur wafat, sepi peminat. Majelis Reboan Gus Dur, pun mengalami hal serupa.
Tokoh itu tak lahir dua kali. Ketokohan seseorang, pun tak bisa digantikan. Ketokohan Cak Nun, hasil pergulatan dan pergumulan dengan dunia realitas.
- Catatan
Foto di PadangMbulan, 2019. Saya edit latar belakangnya.
الناس نوعان أحدهم يراك طيب فيحبك. وآخر يراك طيب فيؤذيك.
Orang itu ada dua macam. Satu melihatmu baik, lalu mencintaimu. Dua melihatmu baik, lalu menyakitimu.