https://t.co/vJop0oh5Gw
Bikin dashboard buat ngecek pelaksanaan belanja barang dan jasa BGN tahun 2025. Barang kali berniat ngintip BGN belanja apa aja. Silakan.
🚨 Stanford analyzed millions of payroll records and found that AI is already killing entry-level jobs.
Not in the future. Right now.
Researchers at Stanford's Digital Economy Lab partnered with ADP, America's largest payroll company, and tracked millions of workers at tens of thousands of companies from 2021 through 2025.
What they found should terrify every college student, every recent graduate, and every parent paying for a degree right now.
Employment for software developers aged 22 to 25 dropped nearly 20% since ChatGPT launched in late 2022. Customer service roles for the same age group saw similar declines. These aren't projections. These are real people losing real jobs, tracked through actual payroll data.
Here's what makes this devastating. While young workers lost jobs, older workers in the exact same roles gained employment. Workers over 30 in the most AI-exposed fields saw 6 to 12% growth during the same period.
AI isn't replacing everyone. It's replacing the people who just got started.
The researchers explain why. Young workers rely on textbook knowledge. The coding syntax, the basic algorithms, the skills taught in school. AI already does all of that. But older workers have something AI can't replicate: years of handling messy, real-world problems that don't have clean answers. The tips and tricks that never get written down. The judgment that only comes from experience.
So the career ladder isn't disappearing. The bottom rungs are being removed. You can't climb to senior if you never get hired as a junior.
The study calls these young workers "canaries in the coal mine." The first ones to feel the effects of a shift that will eventually reach everyone.
You spent four years in college learning skills that AI can now do for free. And the companies that once needed you to do that work just stopped hiring.
This isn't a prediction. The data is already in.
Indonesian Church faces a clear challenge: to uphold accountability in both what it teaches and what it practices — including among those within the hierarchy, writes Ryan Dagur. https://t.co/v9wWdb2RBG
The question is whether the Church will continue to rely on outdated patterns or move forward by embracing accountability — a step that could reaffirm its relevance and restore trust among its own faithful, whose trust in the institution appears increasingly fragile.
Demonstrating accountability, answering the faithful’s legitimate questions, and openly addressing controversies do not weaken the Church. They strengthen it.
Bayangkan jika hari ini Hannah Arendt masih ada di tengah-tengah kita. Filsuf Yahudi itu, yang pernah melarikan diri dari kekejaman Nazi dan menulis tentang totalitarianisme, mungkin akan berkata begini tentang Gaza.
"Anak-anak Gaza kelaparan bukan karena bencana. Mereka sengaja dibuat lapar oleh keputusan politik berdarah dingin. Tubuh-tubuh anak anak itu, yang tinggal tulang dibalut kulit, bicara pada kita lebih nyaring dari teriakan.
Kejahatan menang tak selalu hadir dengan wajah garang. Ia sering bersembunyi di balik pernyataan resmi, tanda tangan birokrat, dan kebisuan dari orang-orang yang memilih diam. Itulah banality of evil: kejahatan besar yang justru dilakukan oleh orang biasa, tanpa fanatisme khusus, sekadar karena mereka patuh, ikut arus, dan tak pernah sungguh-sungguh memutuskan untuk menjadi baik atau jahat.
Memang Israel yang melakukan kekejaman di Gaza -- tapi bendera Amerika yang membungkusnya. Ada senjata-senjata yang terus dikirim. Veto yang menutup pintu PBB. Dan bahasa klise tentang “hak membela diri” yang diulang-ulang, bahkan ketika rumah sakit runtuh dan anak-anak mati kelaparan.
Amerika Serikat, sebuah negeri yang menganggap dirinya penjaga kebebasan, dalam momen ini justru tampil sebagai penyokong kehancuran.
Betapapun, kita perlu membedakan rasa bersalah dari tanggung jawab. Bersalah adalah mereka yang menutup perbatasan, yang meneken perintah serangan, yang menjatuhkan bom. Tetapi tanggung jawab—yang lebih luas, lebih berat— adalah milik seluruh komunitas politik, bangsa, warga negara, atas nama siapa semua itu dilakukan. Dalam sebuah republik, kejahatan yang dilakukan negara adalah beban kolektif.
Tugas pertama dari tanggung jawab itu adalah berkata benar. Penyangkalan yang dimaksudkan untuk menutupi kenyataan—“complicated conflict”, “collateral damage”—adalah cara menutupi luka dengan kain kotor. Ia akan meninggalkan nanah sejarah di dalamnya.
Tak ada yang lebih merusak kehidupan bersama daripada penyangkalan demikian.
Manusia memiliki kemampuan untuk memulai lagi dari reruntuhan. Inilah natality: kapasitas manusia untuk melahirkan awal yang baru, untuk tidak selamanya terjebak dalam bayang-bayang kesalahan. Namun awal baru ini tak mungkin terjadi tanpa kebenaran.
Hanya dengan kejujuranlah pengampunan menjadi mungkin -- dan dari pengakuan itu kebebasan lahir kembali.
Akan datang hari ketika rakyat Amerika ditanya: Apa yang terjadi di Gaza, dan apa yang kalian lakukan untuk menyetopnya? Pertanyaan itu tak mungkin dihindari. Dan tak ada jawaban yang bermartabat kecuali kejujuran.
Sebab luka Gaza bukan hanya luka orang Palestina. Ia juga luka bagi demokrasi Amerika. Sebuah bangsa yang sanggup membiarkan kekejaman terjadi, meski itu di luar negeri, cepat atau lambat, akan kehilangan kekuatan untuk menolak kekejaman di dalam negeri. Sebuah bangsa yang menutup mata terhadap penderitaan bangsa lain, lambat laun akan buta terhadap penderitaannya sendiri.
Hari ini, anak-anak Gaza sedang disiksa oleh kelaparan. Dan suatu hari sejarah akan menuntut orang-orang Amerika berkata, seperti dulu orang Jerman mengakui Holocaust: “In meinem Land ist Unrecht geschehen” — “Di negeriku, kejahatan telah dilakukan.” ***
https://t.co/OWrZoeoc53
Dewan Pers Minta Polda NTT Sanksi Berat Polisi di Manggarai terkait Kasus Kekerasan terhadap Pemred Floresa, Desak Proses Hukum Dilanjutkan https://t.co/0QA3FfK9ek
As the United States freezes funding to Southeast Asian initiatives, Beijing is already increasing its support which could adversely affect human rights, writes Benedict Rogers https://t.co/grR7aEj6Ck
Semua masyarakat di semua zaman terbangun di atas ketimpangan. Yang berbeda, ada masyarakat yang timpangnya sangat parah, ada yang tidak.
Pajak berperan dalam ketimpangan itu. Tetapi, perannya berbeda-beda di berbagai masyarakat.
https://t.co/kduMFwrMXX
Demi ‘Bonum Commune,’ Apa Masih Pas Jadi Alasan Gereja Tidak Berpihak pada Rintihan Warga yang Berjuang Pertahankan Ruang Hidup? https://t.co/CEXDaktyqA