inilah proses kehilangan jati diri. kerja selama ini palugada, All in one, end to end. pas apply kerjaan untuk role A kurang pengalaman, role B agak maksa, role C pure goblok.
WAH INI SIH
jujur, setakut apapun lu, selama lu show up, everything will comes along.
every good thing in your life will and only will happen when you show up.
Setuju banget sama Raditya Dika:
โKita tidak sepenting itu untuk orang lain. Berhenti memikirkan hal yang di luar kuasa kita. Pendapat orang soal kita itu di luar kuasa kita, nggak usah dipikirin.โ
Jadi, lakuin apa yang kamu suka karena yang ngejalanin hidup itu kamu โจ
Aku setuju dengan statement ini:
"Bahwa hidup akan jauh lebih tenang ketika kita tahu batasan. Not everything is our attention, not everything deserve our energy. Ada banyak hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa harus selalu kita dengar, kita bahas, ataupun kita lihat".
Pak Jonan dulu waktu Dirut KAI selalu bilang: โJangan bikin regulasi dari atas meja AC doang. Turun ke lapangan, rasakan sendiri bagaimana kondisi sebenarnya.โ
Sekarang lihat statement ini: โLaki-laki taruh di depan & belakang, perempuan di tengahโ pasca tabrakan KA.
Solusi dadakan yg terdengar โpeduliโ, tapi justru absurd. Nyawa laki-laki & perempuan sama berharganya. Kalau gerbong perempuan memang biasanya lebih sepi, malah gerbong depan-belakang yg padat bakal jadi tumbal lebih besar.
Ini klasik contoh kebijakan tergopoh-gopoh tanpa riset mendalam & tanpa empati lapangan.
Kalau pejabat negara masih suka bikin statement seperti ini tanpa turun langsung ngerasain operasional harian, ya hasilnya akan terus begini: solusi yg malah bikin publik geleng-geleng kepala.
Leadership Jonan dulu sukses karena beda: merasakan dulu baru mengatur. Bukan sebaliknya.
berhenti sejenak, dan sekarang taruh tanganmu di dada terus bilang :
โYa Allah apapun yang sudah terjadi, entah kemarin ataupun hari ini, bagilah ruang ikhlas yang luas untuk menerima semuanya, cukupkanlah diri ini agar tidak menyalahkan siapapun.โ
โSetiap kali seorang hamba memperbaiki prasangkanya kepada Allah, memperindah harapannya kepada-Nya, dan meneguhkan tawakkalnya, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan harapannya sedikit pun; karena Dia tidak akan mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya, dan tidak pula menyia-nyiakan amal seorang yang beramal.โ
โIbn al-Qayyim
CATAT INI GUYS ๐
Orang miskin itu bukan nasib, tapi mayoritasnya adalah hasil keputusan dan lingkungan.
Banyak orang miskin bukan karena nasib sial semata, tapi karena kombinasi:
- Keputusan buruk berulang kayak boros, malas belajar, terlalu cepat punya anak tanpa persiapan, gengsi tapi tidak punya skill.
- Lingkungan yang toxic (keluarga broken, teman-teman yang sama-sama miskin dan suka menarik ke bawah, budaya "cukup santai aja").
- Kurangnya mentalitas growth & disiplin jangka panjang.
Tapi ada orang miskin yang benar-benar korban sistem (misalnya lahir di daerah sangat terpencil, orang tua sakit kronis, atau mengalami bencana besar). Mereka minoritas, tapi nyata.
Kemiskinan sering ditularkan secara budaya, bukan hanya uang
Yang paling berbahaya bukan kekurangan uang, tapi kemiskinan pikiran kaya Mindset dunia ini zalim, orang kaya pasti korup, Kerja keras tidak menjamin kaya, mending santai. Pendidikan mahal, buat apa sekolah tinggi. Fokus konsumsi kaya HP baru, rokok, judi, cicilan motor daripada produksi skill, bisnis, invest atau menabung.
Orang miskin yang punya mentalitas ini biasanya akan tetap miskin meski dikasih uang banyak contoh nya coba liat banyak pemenang lotre yang bangkrut lagi dalam 2-3 tahun.