ngebayangin pacaran sama times new roman tapi abis itu gue selingkuh sama comic sans soalnya dia ga kaku dan bikin gue ketawa sementara itu ada helvetica yg udh pining dari lama tapi ga gue respons apa2 soalnya dia cuma temen tapi akhirnya gue nikah sama poppins
Temen aku, waktu itu jadi Kaprodi S1. pernah cerita
"Kita ga bisa nyalahin Gen Z ini-Gen Z itu.. Tantangan mereka beda dengan kita
Dulu zaman gw (tahun 90an), pegang ijazah tuh tiket masuk kerja, sebodo-bodonya lu, asal pegang ijazah, itu bisa lah masuk kerja asal ga pilih-pilih kerjaan.
Sekarang, Ijazahnya cuman ngebantu doang. Bahkan anak-anak (Mahasiswa) dari Semester 2-3 juga udah magang, udah intern dimana-mana. Karena kalau ga ya pas mereka lulus udah ketinggalan dibanding their peers.
Gw ga pernah nanya kalau ada mahasiswa izin. Gw tau stressnya mereka gimana, mau ke coffeeshop atau healing juga silahkan aja, generasi sekarang pressurenya emang berat banget"
Bagus juga warga pada semangat cari tahu latar belakang komisaris. Udah terlalu lama ini jadi arena belakang yang kita nggak pernah tahu sama sekali. Sekarang bahkan udah merambah ke direksi-direksi BUMN segala.
Saya baru disensus BPS, pantas saja banyak yg meragukan akurasi datanya. Iseng sy jawab : saya ga berpenghasilan, saya makan tabungan
Si mba survei ternyata tidak punya kolom isian untuk jawaban semacam itu, jadi dia tanya : sehari hari pengeluaran habis berapa? Ternyata itu diakui sebagai sumber pendapatan. Dia tidak peduli ternyata pengeluaran kita itu dari hutang atau jual-jual aset.
Ya pantas saja diatas kertas ekonomi kita terus naik kalau cara pencatatanya begitu
cc : ige_pranata
Taufik ini bukti betapa berbahayanya ketika pola asuh permisif bertemu dgn budaya patriarki.
Ketika anak laki-laki terlalu sering dimaklumi, dibela saat berbuat salah, & tak dibiasakan menerima konsekuensi, ia bisa tumbuh dgn rasa berhak (entitlement) yg tinggi: merasa keinginannya harus diutamakan, kesalahannya akan selalu dimaklumi, & aturan tak sepenuhnya berlaku untuk dirinya.
Lama-kelamaan, ia jadi terbiasa mengutamakan dirinya sendiri, sulit melihat dampak perbuatannya pada orang lain, & tidak terbiasa bertanggung jawab atas tindakannya.
Ada tiga peserta pelatihan MENINGGAL DUNIA itu tidak wajar ya teman-teman.
Coba bayangkan kalau kita ikut Latihan Dasar Kepemimpinan di sekolah atau kampus, terus di pelatihan tersebut ada yang sampai meninggal, apalagi LEBIH DARI SATU ORANG.
Harus diusut.
Seporsi kekalahan WNI:
โEmang gue pikirin?โ
Diucapin tanpa sedikit pun rasa bersalah, seolah nggak pernah bikin janji apa pun ke rakyat. Terus antek-anteknya malah tepuk tangan. Wallahi, weโre finishedโฆ