@AdjieSanPutro pengetahuan tanpa empati hanya akan menjadi data yang angkuh, empati tanpa pengetahuan hanya akan menjadi niat yang lumpuh.
kutipan hasil ngobrol sm guru besar
cape ya kalo selalu dipandang jadi proyek yg gapernah selesai? like.. disuruh belajar mulu.. sometimes, gue cuma butuh napas tanpa disuruh belajar tentang menghayati napas.
kyk gue paham hidup ini pembelajaran, tapi kalo belajar mulu kapan hidupnya?
scroll twt isinya debat mulu.. hal remeh aja di debatin, orang orang kok pd punya energi ya buat begitu? heran..
gue abis ngotot ngototan butuh tidur 12 jam.. alias lelah njir
I stopped reading at "kekristenan secara historis sebenarnya apolitis" bro Jesus was killed for political reasons karena dianggap menantang kaisar, tiap Jumat Agung tidur kah?
gue belajar banyak dr ayah gue hari ini.. kehidupan gelap yang ia lalui bukan berarti selamanya gelap, disana lah proses kehidupan muncul.. menghancurkan untuk kembali membentuk sesuatu yang lebih baik.
sayang ayah banyak banyak🤍
Aku setuju sama twit ini. Bahkan klasisme dan konsumerisme bisa lahir dari book club, dari merendahkan orang yang kuliah di "kampus ruko", dari segala upaya orang untuk mengkuantifikasi daya dan upaya manusia untuk memecah langit-langit kaca dan memperbaiki diri semampunya.
Orang Indonesia harus belajar
1. Agree to disagree
2. Disagreement without being disagreeable.
Tolong banget orang tua yang punya anak atau yang baru mau punya anak, ajari ini biar anaknya menjadi pribadi yang bijak.
Sebagian besar masalah di Indonesia sumbernya dari dua itu.
"tak pernah jadi sampai akhirnya mati"
karena pasti isi buku gue gabakal ada kesimpulan sampe akhirnya gue mati dan orang2 yang membacanya yang akan menyimpulkan isi buku kehidupan gue..
𝗦𝗲𝗹 𝗼𝘁𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝘂𝗵 𝗼𝗹𝗲𝗵 "𝘀𝗲𝗹𝗳-𝘁𝗮𝗹𝗸" adalah sesuatu yang ada bukti ilmiahnya
Izin gue jelaskan ya!
Secara sederahana, ini BUKAN berarti sel otak “mendengar” kata-kata seperti telinga, melainkan melalui proses neuroplastisitas, yang merupakan kemampuan otak untuk membentuk, memperkuat, atau melemahkan koneksi antar sel saraf, seiring dengan pengulangan pola pikir dan perilaku.
Setiap kali kita berbicara pada diri sendiri (misalnya “Aku bisa” atau “Aku gagal”), otak mengaktifkan jaringan saraf tertentu. Akibatnya, jalur saraf berubah, dan dapat memengaruhi emosi, motivasi, perhatian, dan performa kognitif.
Ada penelitian yang menunjukkan bahwa 𝘀𝗲𝗹𝗳-𝘁𝗮𝗹𝗸 𝗽𝗼𝘀𝗶𝘁𝗶𝗳 𝗱𝗮𝗻 𝗻𝗲𝗴𝗮𝘁𝗶𝗳, 𝘁𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝗯𝗮𝗵 𝗸𝗼𝗻𝗲𝗸𝘁𝗶𝘃𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗱𝗶 𝗼𝘁𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮. Secara umum kira-kira kaya gini efeknya pada otak antara lain:
-𝗦𝗲𝗹𝗳-𝗰𝗿𝗶𝘁𝗶𝗰𝗶𝘀𝗺 justru meningkatkan performa kognitif, karena mengurangi rasa percaya diri berlebihan dan meningkatkan fokus serta motivasi internal
-𝗦𝗲𝗹𝗳-𝗿𝗲𝘀𝗽𝗲𝗰𝘁 dapat memperkuat fungsi eksekutif, tapi bisa menimbulkan kepercayaan diri yang berlebihan
𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻
Self-talk dapat berpengaruh pada plastisitas otak.
Melalui self-talk yang sesuai, kita dapat memengaruhi kondisi dan kemampuan otak kita.
Semoga bermanfaat!
mengintegrasikan luka ketidaklayakan itu menjadi upaya yang lebih sehat. menyadari luka tersebut, menerimanya, memberdayakan diri, dan memulihkannya.. sehingga luka itu bukan menjadi alat untuk hidup namun "proses" pembentukan kehidupan yg lebih baik.
hari ini baca webtoon kendedes.. belajar banyak dari arok.. iblis dalam manusia yang kadang tak terlihat, bahkan jauh lebih halus dari yang dibayangkan diam diam bergerak menghancurkan diri sendiri.
yaitu perasaan ketidakberdayaan dan ketidaklayakan.
sebuah perspektifku >>