Stop bayar Google One.
Gue gue pernah panik gara2 Google Drive gue penuh dan ga bisa terima email. Hampir aja gue subscribe bayar Google One buat upgrade kapasitas drive.
Ternyata gak perlu.
15GB gue yang "penuh"? 11GB-nya sampah yang Google sembunyiin.
Gue bersihin dalam 20 menit. Gratis. Tanpa hapus file penting.
Gini caranya:
(( GRATIS ))
Terjemahanku atas kitab "Washiyyatul Mushthafa" (Himpunan Nasihat Rasulullah Saw kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib)
-boleh donlot
-boleh dishare
-tidak boleh diperdagangkan dlm bentuk apa pun.
Semoga bermanfaat
https://t.co/kKrxSSWMA5
Tujuh Kali Allah Menguji Kita
Hidup ini bukan sekadar perjalanan, melainkan ruang ujian. Allah tidak menguji untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyingkap siapa kita sejatinya di hadapan-Nya. Ujian hadir dalam rupa yang berbeda: kadang manis, kadang getir—namun semuanya menuju satu tujuan: menguji cinta dan kesetiaan kita kepada-Nya.
1.Dengan nikmat yang kita pinta
Doa terkabul, rezeki datang sesuai harapan. Allah ingin tahu: apakah kita bersyukur, atau merasa segalanya lahir dari diri sendiri. Nikmat bisa jadi tangga menuju surga, bisa pula jerat kesombongan.
2.Dengan doa yang tak terkabul
Saat jawaban tak kunjung tiba, Allah sedang menakar sabar: apakah kita terus berharap dan beribadah, atau berpaling karena kecewa. Penundaan bukan penolakan, tapi pendidikan hati agar tetap setia.
3.Dengan memberi kepada orang lain
Apa yang kita minta jatuh ke tangan orang lain. Inilah ujian hati: apakah kita menjadi pendengki, atau ridha menerima takaran rezeki. Dengki hanya membakar dada, sementara ridha menenangkan jiwa.
4.Dengan pemberian yang berbeda
Kita minta A, Allah beri B. Iman diuji: percayakah kita bahwa pilihan-Nya lebih bijak? Apa yang tampak asing hari ini, sering kali rahmat besar yang baru disadari esok.
5.Dengan kehilangan
Bukan hanya harta, tetapi juga jabatan dan orang-orang terkasih. Kehilangan mengingatkan bahwa segalanya milik Allah. Apakah kita kembali kepada-Nya, atau karam dalam kesedihan tanpa arah.
6.Dengan kelapangan hidup
Kadang ujian terbesar justru kelapangan. Kekayaan, kedudukan, dan pujian bisa melalaikan. Allah ingin tahu: apakah di puncak kejayaan kita tetap merunduk tawadhu, atau lupa pada Dia yang memberi segalanya.
7.Dengan diri kita sendiri
Hawa nafsu, ego, dan bisikan hati. Di situlah rahasia cinta: apakah kita mencintai Allah hanya karena pemberian-Nya, atau karena Dia memang layak dicintai sepenuh hati.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ كُلَّ بَلَاءٍ نُورًا، وَكُلَّ دَمْعَةٍ مَطَرًا، وَكُلَّ جِرَاحٍ جِسْرًا نَجُوزُ بِهِ إِلَيْكَ.
Ya Allah, jadikan setiap ujian seperti cahaya yang menuntun, setiap air mata bagai hujan yang menyuburkan iman, dan setiap luka itu jembatan yang mendekatkan kami kepada-Mu.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Tentang Rindu
Rindu itu datang seperti tamu lama yang tahu semua rahasiaku—mengetuk pelan tapi mendesak masuk. Terjadilah dialog antara aku dan rindu.
Ku tulis rindu dalam ukiran aksara, berharap setiap huruf bisa menahan napasnya. Tapi ia menolak:
“Bagaimana mungkin himpunan aksara bisa menangkap getaran rasa,” katanya julid, seolah ia sedang menguji kesungguhanku.
Lantas ku tulis rindu dalam alunan suara, membiarkan nada-nada merangkak perlahan terdengar indah di telinganya. Tapi ia cepat-cepat membantah:
“Tak mungkin ada nada dan irama yang bisa membius jiwa,” begitu ia mencibir sambil memainkan ujung rambutnya, seperti seseorang yang tahu betul ia sedang dimanja.
Tak menyerah, ku tulis rindu dalam bentuk emoji. Kupikir ia akan luluh. Tapi kali ini ia justru tersulut:
“Apa kamu pikir emoji ❤️🔥 bisa menampung semua getar energi yang menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun ini?” sergahnya dengan suara tinggi, sementara bola matanya—yang indah itu—menatapku sampai ke dasar hati.
Hmmm… bagaimana kalau ku tuliskan rindu dalam sebentuk doa?
Hening sesaat, sebelum rindu mulai berucap lirih:
“Tapi apakah doamu itu berupa keinginanmu sendiri, atau berupa kepasrahan pada takdir pertemuan kita nanti?” tanyanya, lembut tapi penuh penekanan, setiap katanya mengetuk dinding jantungku seperti palu kecil yang menguji kekuatan hatiku.
Lantas ku sematkan doa ini pada rindu:
اللَّهُمَّ اجْرِ رِنْدِي كَنَهْرٍ صَافٍ يَسِيرُ إِلَى بَحْرِ لِقَائِهَا، وَاجْعَلْ مِيَاهَهُ تَحْمِلُ دُعَائِي فِي كُلِّ مَوْجَةٍ، وَزَيِّنْ أُفُقَ قَدَرِنَا بِشَمْسِ رِضَاكَ، حَتَّى نَلْتَقِي عَلَى شَاطِئٍ كَتَبْتَهُ رَحْمَتُكَ.
“Ya Allah, alirkan rinduku seperti sungai bening yang mengarah ke samudra pertemuan dengannya. Jadikan setiap arusnya membawa doa di setiap gelombang, dan hiasi ufuk takdir kami dengan mentari ridha-Mu, hingga kami bertemu di tepi pantai yang telah Engkau tulis dengan rahmat-Mu.”
Dan rindu, yang biasanya suka membantah, kali ini hanya tersenyum tipis—seolah mengakui bahwa ia pun sedang berdoa dalam diam.
Dan untuk pertama kalinya kata “Amin” begitu puitis ku dengar terucap lirih dari bibirnya.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Dakwah, Kitab Suci, dan Tantangan Adab di Era Konfrontasi
Oleh: Nadirsyah Hosen
Beberapa waktu lalu, saya menulis sebuah refleksi tentang metode dakwah Rasulullah yang mengedepankan kelembutan, hikmah, dan penghormatan dalam berdialog dengan umat lain. Tulisan tersebut menuai berbagai reaksi. Sebagian menganggap saya “melembekkan” perjuangan tauhid. Ada yang menyindir bahwa saya menggambarkan sosok seperti Buddha, bukan Nabi Muhammad yang revolusioner. Bahkan, sebagian merasa saya sedang menyudutkan gaya dakwah apologetik-konfrontatif seperti yang dipopulerkan oleh Dr. Zakir Naik.
Izinkan saya menjawab dengan jernih untuk meluruskan cara pandang kita dalam memahami warisan dakwah Nabi: warisan yang bukan hanya memuat isi kebenaran, tetapi juga cara dan adab menyampaikannya.
Konteks Sejarah: Ketika Polemik Lahir dari Ketegangan, Bukan Koeksistensi
Sebagian pembela gaya dakwah konfrontatif hari ini sering merujuk pada karya-karya ulama klasik yang menanggapi akidah agama lain—seperti al-Jawāb al-Ṣaḥīḥ karya Ibn Taymiyyah, al-Radd al-Jamīl yang dinisbatkan kepada al-Ghazālī, Iẓhār al-Ḥaqq oleh Rahmatullah al-Hindi, atau risalah al-Kindī yang penuh daya pukau intelektual. Tapi mari kita tarik napas sejenak dan bertanya: dalam konteks seperti apa karya-karya besar itu ditulis?
Sebagian besar dari teks tersebut lahir bukan dalam suasana damai dan koeksistensi, tapi justru dalam kondisi ketegangan geopolitik dan pertempuran ideologis. Ibn Taymiyyah menulis al-Jawāb al-Ṣaḥīḥ sebagai respons terhadap provokasi misionaris Kristen di wilayah Syam pasca Perang Salib—sebuah zaman di mana agama menjadi bagian dari strategi ekspansi militer. Rahmatullah al-Hindi menyusun Iẓhār al-Ḥaqq di tengah tekanan Kristenisasi kolonial Inggris di India, sebagai upaya membela aqidah umat Islam yang terjajah. Bahkan risalah al-Kindī, yang sering dikutip sebagai contoh literatur interfaith, ditulis dalam konteks kekhalifahan Abbasiyah yang dominan secara politik dan militer terhadap komunitas Nasrani Timur.
Artinya: karya-karya itu adalah senjata peradaban dalam medan perang ideologi—bukan undangan berdialog di zaman damai. Maka ketika kita membaca dan mengutipnya hari ini, kita tidak bisa menyalinnya mentah-mentah tanpa menyadari bahwa kita hidup di era yang sangat berbeda.
Di masa sekarang, kita tidak sedang berhadapan dengan misi kolonial atau krusade global. Kita hidup dalam masyarakat majemuk yang menjunjung undang-undang kebebasan beragama, di mana gereja dan masjid berdiri berdampingan, dan warga negara dari berbagai iman bekerja, belajar, dan berkeluarga dalam sistem sipil yang sama.
Menggunakan gaya polemik dari era konflik untuk berdakwah di era damai—tanpa pemilahan konteks—adalah seperti menggunakan bahasa pertempuran dalam ruang tamu silaturahim. Bukan hanya tak sopan, tapi juga bisa merusak ikatan yang selama ini dengan susah payah dibangun.
Tentang Scriptural Literalism dan Standar Ganda
Yang saya soroti adalah praktik scriptural literalism—yaitu mengambil potongan ayat dari kitab suci agama lain tanpa memahami konteks sejarah, bahasa asli, atau tradisi tafsirnya, lalu menyodorkannya sebagai “bukti kekeliruan” di hadapan publik yang tidak memahami konteksnya. Ini bukan hujjah yang elegan, ini hanya retorika yang memburu efek.
Jika metode ini kita anggap sah, maka seharusnya kita juga siap jika kitab suci kita diperlakukan serupa. Tapi kenyataannya, ketika seorang non-Muslim mengutip satu ayat Al-Qur’an secara literal dan menyebutnya bertentangan, kita buru-buru menyebutnya penistaan agama. Padahal itu metode yang sama: potong teks, abaikan konteks, dan olah secara satu arah.
Ini adalah standar ganda yang merusak etika berdakwah. Kita bebas menafsirkan kitab mereka, tapi tak mengizinkan mereka menyoal ayat kita.
Catatan Nadirsyah Hosen atas Klaim “Penambangan Itu Baik, Asal Bukan Bad Mining”
Pernyataan Ketua PBNU, Kiai Ulil Abshar Abdalla, bahwa penambangan adalah hal baik karena membawa maslahat, dan yang buruk hanyalah bad mining, tampaknya menyederhanakan problematika yang kompleks. Memang benar bahwa dalam kerangka maqāṣid al-sharī‘ah, setiap aktivitas yang membawa kemaslahatan publik (maṣlaḥah ‘āmmah) dapat dibenarkan. Namun, penambangan bukan sekadar perkara teknis antara “baik” dan “buruk”, melainkan melibatkan soal ketimpangan struktural, kerusakan ekologis, dan pelanggaran hak masyarakat lokal. Selama hal-hal ini tidak diperbaiki, yang kita saksikan adalah bad mining. Dan selama hal-hal ini masih dibiarkan, maka tidak elok menormalisasi pertambangan dengan klaim normatif-abstrak.
1. Maslahat Tidak Berdiri Sendiri
Dalam al-Mustaṣfā, al-Ghazālī menegaskan:
فَالْمَصْلَحَةُ الْمُعْتَبَرَةُ هِيَ الَّتِي لَا تُعَارِضُ نَصًّا وَلَا إِجْمَاعًا
“Maslahat yang diakui (mu‘tabarah) adalah yang tidak bertentangan dengan nash atau ijma‘.”
(al-Ghazālī, al-Mustaṣfā, 1/286)
Maka, jika suatu tambang terbukti mencemari lingkungan, merampas tanah adat, dan menghancurkan ruang hidup masyarakat, itu bukan maslahat yang mu‘tabarah, melainkan mafsadah (kerusakan). Tak semua yang menghasilkan uang dan devisa bisa otomatis disebut maslahat.
2. Keadilan Ekologis Adalah Syariat
Al-Qur’an memperingatkan:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
(QS al-Aʿrāf: 56)
Kerusakan ekologis akibat tambang berskala besar—baik yang berizin maupun liar—tak sekadar meninggalkan luka di permukaan tanah. Ia mencemari mata air, merusak ekosistem, dan mengusir masyarakat dari tanah warisan leluhur mereka. Dalam fiqh al-bī’ah (fiqh lingkungan), kehancuran semacam ini disebut fasād al-bī’ah—kerusakan lingkungan yang sistemik—dan merupakan bentuk khiyānah terhadap amanah kekhalifahan manusia di bumi yang diwasiatkan Allah.
3. Maslahat Tak Sah Jika Lewat Kezaliman
Pemisahan antara good mining dan bad mining terdengar menarik, tetapi gagal menjelaskan bagaimana mayoritas praktik tambang di Indonesia kerap sarat dengan pelanggaran etis, hukum, dan sosial. Bahkan perusahaan-perusahaan yang menyandang “izin resmi” banyak yang melanggar AMDAL, meminggirkan masyarakat adat, dan membungkam protes rakyat. Kiai Ulil tidak bisa menutup mata atas praktek semacam ini.
Dalam hal ini, prinsip dari al-ʿIzz ibn ʿAbd al-Salām menjadi sangat relevan. Ia menulis dalam Qawāʿid al-Aḥkām fī Maṣāliḥ al-Anām:
فَكُلُّ مَا أَدَّى إِلَى الظُّلْمِ وَالْجَوْرِ وَالْعُدْوَانِ فَهُوَ مَحْظُورٌ تَحْرِيمًا، وَكُل��ّ مَا أَدَّى إِلَى الْعَدْلِ وَالإِنْصَافِ وَالإِحْسَانِ فَهُوَ مَطْلُوبٌ وَاجِبًا أَوْ نَدْبًا
“Segala sesuatu yang mengarah kepada kezaliman, keaniayaan, dan pelanggaran adalah hal yang diharamkan. Dan segala sesuatu yang mengarah kepada keadilan, keadilan sosial, dan kebaikan, maka ia adalah sesuatu yang dituntut, baik secara wajib maupun sunnah.”
(al-ʿIzz ibn ʿAbd al-Salām, Qawāʿid al-Aḥkām, 1/86)
Artinya, kemasan maslahat tidak dapat menghalalkan kezaliman struktural. Maslahat yang menindas rakyat dan lingkungan adalah tipu daya moral, dan itu harus dilawan, setidaknya dengan suara moral para ulama.
4. Maslahat untuk Siapa?
Jika “maslahat” hanya dinikmati segelintir elite politik, pejabat, dan pemilik saham, sementara rakyat kehilangan air bersih, tanah warisan, dan udara sehat—itu bukan maslahat, tapi penjajahan domestik. Dalam maqāṣid, maslahat harus berkelanjutan, adil, dan mencakup seluruh lapisan masyarakat.
Kesimpulan:
Pernyataan “tambang itu baik asal bukan bad mining” bisa menjadi justifikasi moral yang berbahaya jika tidak disertai evaluasi kritis terhadap praktik & dampaknya. Kemaslahatan bukan cuma soal manfaat finansial, melainkan harus diuji melalui prinsip keadilan, keberlanjutan, dan kemanusiaan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Mengapa Ijab Qabul Harus Langsung Tanpa Jeda?
Dalam akad nikah, ijab (ucapan wali) dan qabul (jawaban mempelai pria) harus terjadi dalam satu suasana yang utuh—bukan soal satu napas secara harfiah, tapi satu tarikan makna: janji yang bersambung.
Menurut mazhab Syafi’i, ijab dan qabul wajib langsung bersambung. Kalau jedanya terlalu lama, akad bisa batal. Imam Nawawi menjelaskan:
“Kalau jedanya lama, akadnya tidak sah. Tapi jika hanya jeda singkat seperti menarik napas atau menelan ludah, maka sah.” (Al-Majmu’)
Maksudnya, diam sebentar karena gugup, bernapas, atau menelan ludah masih dimaklumi. Tapi kalau mempelai malah diam terlalu lama, atau ngobrol dulu, maka akad dianggap terputus. Dalam Fiqh Manhaji juga disebutkan: kalau setelah wali berkata “Saya nikahkan…���, calon suami lama diam lalu baru berkata “Saya terima…”, maka akadnya tidak sah.
Mazhab lain lebih longgar. Hanafi dan Hanbali tidak mensyaratkan langsung seketika, asal ijab dan qabul masih terjadi dalam satu majelis dan tidak disela hal lain. Jadi, diam sebentar karena berpikir masih dibolehkan.
Mazhab Maliki berada di tengah: mereka menyarankan qabul diucapkan segera, tapi jeda ringan masih ditoleransi, asal tidak disertai aktivitas lain yang memutus suasana akad.
Kesinambungan saat ijab-qabul ini diperlukan agar tidak ada tafsiran lain yang mempertanyakan keridhaan kedua belah pihak. Jadi lebih pada kehati-hatian. Sebaliknya, dengan memahami aturan di atas kita juga tidak perlu terburu-buru menganggap akad menjadi tidak sah hanya karena ada jeda sejenak. Harus lebih arif dan bijaksana.
Kesimpulannya: dalam mazhab Syafi’i—yang dominan di Indonesia—ijab dan qabul harus langsung tersambung. Jeda lama atau pembicaraan lain bisa membatalkan akad. Tapi jeda singkat karena grogi, ambil napas, atau memindahkan mic masih dimaafkan.
Lagian, ngapain juga jeda lama saat akad? Bukankah ketika perempuan bertanya, “Kamu sayang aku nggak sih?”, jawabannya harus cepat. Nggak boleh ada jeda, kan? Apalagi saat akad…😊
Tabik.
Nadirsyah Hosen
Cara Mengurangi Lemak Viseral di Perut
Saya dikirimin tweet ini sama seorang teman.
Supaya kita bisa ambil pelajaran, sebagain anak sport science saya mengajak kita belajar cara ngecilin lemak viseral yang ada di perut.
🔥A Thread🔥
Jadilah Singa Meski Diam
Pernahkah kau merasa dijauhi, tanpa tahu sebabnya, hingga angin bisik-bisik membawa kabar: ada yang menyebar cerita tak benar tentangmu? Dan yang paling menyakitkan bukan fitnahnya, tapi bahwa mereka yang kau anggap teman justru percaya—tanpa pernah bertanya. Tanpa tabayun.
Tapi jangan biarkan hatimu dikendalikan oleh penilaian mereka. Kehormatanmu tak lahir dari mulut orang lain, tapi dari ketulusanmu menjalani hidup.
Dan jika mereka menjauh hanya karena satu sisi cerita, bersyukurlah. Mungkin itu cara Allah membersihkan lingkaranmu. Pertemanan yang sejati tak tumbang hanya karena desas-desus.
Ingatlah pepatah lama:
“Teman sejati tak butuh penjelasan. Musuh pun tak akan percaya meski kau beri seribu alasan.”
Maka bila ada yang langsung percaya kabar buruk tanpa pernah mencarimu, ucapkan Alhamdulillah—ternyata dia bukan temanmu. Ia hanya penonton yang menunggu adeganmu jatuh, dan saat itu datang, ia bertepuk tangan paling keras.
Sebagaimana bait hikmah yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i:
أَمَا تَرَى الأَسَدَ تُخْشَى وَهِيَ صَامِتَةٌ؟
وَالكَلْبُ يُخْسَى لَعَمْرِي وَهُوَ نَبَّاحُ
“Tidakkah kau lihat, singa ditakuti meski diam?
Sedangkan anjing diusir, demi hidupku, walau menggonggong nyaring.”
Bait ini mengajarkan: diamnya orang mulia bukan kelemahan. Dan suara keras bukan selalu pertanda kebenaran.
Tak semua yang dekat itu benar-benar teman. Kadang mereka tak peduli apakah cerita itu benar atau salah. Mereka diam-diam hanya menunggu dirimu jatuh dan segera menjauh. Itulah kualitas pertemanan mereka.
Tak perlu dijelaskan.
Tak perlu diluruskan kepada yang tak berniat mendengarkan.
Biarkan saja…
Ada yang pergi tanpa perlu dimengerti,
karena persahabatan itu tak lagi berarti,
dan kehadirannya pun tak pernah sungguh menyertai. Tak perlu disimpan di dalam hati.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Petuah, Fatwa, dan Hikmah: Ketika Hati Turut Bicara
Dalam masyarakat kita, ada tradisi yang tak tertulis tapi selalu hidup: meminta petuah kepada yang tua. Di beranda rumah, di bawah langit senja, seorang anak muda bertanya lirih: “Bagaimana sebaiknya?” Lalu seorang tua menjawab pelan: “Kalau niatmu tulus, teruskan.” Tak ada dalil, tak ada kitab tebal. Tapi damai rasanya. Itulah petuah—hikmah yang lahir dari jam terbang kehidupan, bukan dari teks.
Akar kata petuah berasal dari fatwa. Tapi keduanya kini punya ruh berbeda. Fatwa lahir dari ilmu. Petuah lahir dari rasa. Fatwa butuh syarat, petuah butuh cinta. Dan masyarakat kita mengenal keduanya. Bahkan dalam Pancasila, kita tak memilih kata “hukum”, tapi hikmah kebijaksanaan. Karena bangsa ini percaya: hukum bisa memaksa, tapi hikmah bisa menyentuh.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Barang siapa memberikan fatwa tanpa dasar yang kuat, maka dosanya atas orang yang memberinya.”
(HR. Abu Dawud)
Namun, di waktu lain, beliau juga bersabda:
“Mintalah fatwa kepada hatimu.”
(HR. Ahmad)
Hati—tempat jatuh hati atau jatuh cinta—juga bisa menjadi tempat paling jernih memberi fatwa. Maka tak heran bila dalam tradisi kita, petuah orang tua sering lebih mengena dari pidato panjang. Karena mungkin, itu suara hati yang sudah kenyang diuji—oleh suka dan duka.
Namun, hati pun bisa patah. Kita bilang “patah hati”—karena hati, meski lembut, menanggung banyak beban. Ia memberi petuah, tapi juga merasakan luka. Dan itulah yang membuatnya bening dan jernih.
Maka dengarkanlah hati, bukan karena ia selalu benar, tapi karena ia memantulkan rasa dan menyuarakan asa. Kita menyebutnya “kata hati”. Dan hati terdalam yang penuh cahaya kita panggil dengan “hati nurani”.
Terkadang, petuah paling bijak tak datang dari mulut yang lantang, tapi dari hati yang pernah diremukkan waktu—lalu diam-diam disatukan kembali oleh cinta, hingga ia terasa lapang, seperti langit yang pasrah dipeluk oleh kasih sayangNya.
Hatimu adalah fatwaku ❤️🔥
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Ketika Langit Diam: Wasiat Terakhir yang Terlupakan
Di pembaringan terakhirnya, tubuh mulia itu mulai melemah. Nafasnya berat, matanya sayu, namun cahaya hikmah masih memancar dari wajahnya yang dimuliakan. Di sisi kanan dan kirinya, Hasan dan Husain menggenggam jemarinya yang mulai dingin. Dalam suara yang lirih namun penuh cahaya langit, Imam Ali bin Abi Thalib berwasiat:
و ��ا تتركوا الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر
فيولى الأمر أشراركم ثم تدعون فلا يستجاب لكم
“Jangan kalian tinggalkan amar makruf dan nahi mungkar. Jika kalian diam, maka urusan akan diserahkan kepada orang-orang jahat,
dan ketika kalian berdoa, tidak akan dikabulkan.”
Itu bukan sekadar pesan seorang ayah kepada anaknya, tapi jeritan hati seorang kekasih Allah yang melihat jauh ke depan—tentang zaman yang akan datang. Zaman di mana kebenaran dibungkam, dan kebatilan bersuara lantang. Zaman di mana ulama lebih memilih kenyamanan daripada keberanian.
Kini, kita hidup di zaman itu. Doa-doa mengalir deras di multazam, air mata jatuh di Raudhah,
lidah bergetar di sepertiga malam sepanjang Ramadhan, namun langit terasa hening. Mengapa?
Karena kita memilih diam, ketika kezaliman merajalela dan ketidakadilan dipertontonkan. Karena banyak dari mereka yang seharusnya menjadi penjaga nurani umat, malah terperangkap dalam kenyamanan kedekatan kekuasaan.
Ketika lembaga-lembaga keagamaan tak lagi berdiri sepenuhnya untuk umat, dan lebih memilih kedekatan pada kekuatan duniawi daripada suara hati nurani, maka doa dan dzikir perlahan kehilangan getarnya. Bukan karena Allah tak mendengar, tapi karena amanat umat tak lagi dijunjung tinggi.
Sebagaimana peringatan Imam al-Ghazali:
إنما فسدت الرعية بفساد الملوك، وفساد الملوك بفساد العلماء فلولا القضاة السوء والعلماء السوء لقل فساد الملوك خوفاً من إنكارهم
“Sesungguhnya rakyat rusak karena rusaknya para raja, dan para raja rusak karena rusaknya para ulama. Seandainya tidak ada hakim dan ulama yang buruk, niscaya para raja akan sedikit melakukan kerusakan karena takut akan teguran mereka.”
Diam itu mahal, terutama bila kebenaran membutuhkan suara. Dan keberanian tetap menjadi cahaya, meski hanya dinyalakan oleh segelintir jiwa.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
@kucing_orenge@maspay19@nu_online Data itu dapat darimana mas??
Dari ormas juga kan??
Bilang ngga perlu ikutan Ormas, tapi dapat data dari Ormas, saling Kontradiktif.. 🤣🤣