Ayatollah Khamenei's Funeral is Reportedly the BIGGEST Funeral in Recorded History
According to official estimates, 41 to 43 million people attended the funeral ceremony over 6 days in 5 cities: Tehran, Qom, Najaf, Karbala, and Mashhad.
BREAKING: Iran has launched ballistic missiles at the US Al Udeid Air Base in Qatar, the first Iranian strike on the base since early March. Sirens are also ongoing in Qatar.
Iran has now attacked US bases in Kuwait, Bahrain, and Qatar tonight.
.@s_m_marandi: "Just an hour or so ago 2 Lebanese citizens were murdered by the Israeli regime.. in Gaza its every day. 3 children were among the people slaughtered today in the ongoing holocaust.. the scum are those western leaders who do not sanction the Israeli regime.."
✨In the 11th century, the famous Muslim polymath Al-Biruni figured out the Earth's radius using nothing more than a mountain and a bit of trigonometry. 📐
The insight was brilliant:
Stand on a mountain, and the horizon dips below the horizontal. That dip isn't an optical illusion; it's a geometric signal. It creates a right triangle where the mountain's height (h) and the Earth's radius (R) are the only variables.
Measuring the mountain's height without climbing down:
He used a simple trigonometric trick: from two points on the plain, he measured the angle to the peak. Knowing the distance between those points, he calculated the mountain's height with a formula surveyors still use today:
H = D / (cot A1 – cot A2)
From the peak, he measured the dip angle to the horizon: α = 34′ (just over half a degree):
R = h * cos(α) / (1 - cos(α))
How did he compute the cosine of such a tiny angle?
Without modern calculators, he used a sophisticated technique: he started with the known value of cos(60°) and used the half-angle formula to work his way down to the required value for his 34′ angle.
He calculated the Earth's radius as 6,340 km. The modern value is 6,371 km.
An error of less than 1%. In 1030 CE.
Inilah salah satu adegan paling brutal dalam sejarah manusia. Momen ketika tenda-tenda pengungsi dibom di Jalur Gaza selatan, di daerah Mawasi, Khan Yunis, menewaskan lebih dari 500 warga sipil. Sebuah video yang tidak boleh dilupakan dunia.
The man who’s older than ‘Israel’ also attended and walked the funeral ceremony walk in Tehran for the martyred leader.
The 99-year old Ayatollah Jannati.
Nasib warga AS setelah 250 tahun "merdeka":
Warga Amerika pada tahun 1775:
▶️Tidak boleh mengkritik 🇬🇧
▶️Harus membayar pajak kepada 🇬🇧 (US$85.000 per tahun)
▶️Harus mengirim tentara untuk berperang demi 🇬🇧
Warga Amerika pada tahun 2026:
▶️Tidak boleh mengkritik 🇮🇱
▶️Harus memberikan uang pajak kepada 🇮🇱 (US$18.000.000.000 per tahun)
▶️Harus mengirim tentara untuk berperang demi 🇮🇱
(Sumber meme: dari X, lupa akunnya)
Kira-kira Trump liat ini, gemetar, atau gimana?
Rakyat Iran membawa kain panjang warna merah bertuliskan "trump ra mikushim" [kami akan memb*nuh Trump]
The official funeral processions for the martyred Iranian Leader, Sayyed Ali Khamenei, have commenced at the Grand Musalla of Tehran.
Under the official slogan "We Must Rise" and the symbol of the raised fist, the organizing committee delivered a definitive message confirming the absolute continuity of the path carried by the leader.
#Iran #Tehran #SayyedAliKhamenei #AlMayadeen
''O Allah, we know nothing of him except goodness''
اللهم انا لا نعلم منه الا خیرا ...
Imam Khamenei famously cried himself when reciting this line during the prayer of the dead for General Qassem Soleimani.
Trump Kaget, Mengapa Banyak Sekali Orang Iran Berduka Atas Kematian A. Khamenei?
Penulis, peneliti, dosen, Sameh Asker @sameh_asker menulis dalam b. Arab, mengomentari Trump, menarik sekali. Ini terjemahan bebasnya:
Breaking | Trump kepada Axios:
"Saya terkejut melihat orang-orang Iran menangis di pemakaman Khamenei. Saya sebelumnya mengira rakyat membencinya."
AS telah menekan sebagian besar negara di dunia agar tidak menghadiri pemakaman maupun menyampaikan belasungkawa. Namun, meski demikian, delegasi dari lebih dari 100 negara tetap hadir.
Banyaknya delegasi serta puluhan juta orang yang turun ke jalan menunjukkan melemahnya pengaruh Amerika di dunia, sementara masa depannya di Timur Tengah menjadi semakin tidak jelas.
Kematian Khamenei telah membentuk kembali Iran menjadi negara yang lebih kuat dan lebih tangguh dibanding sebelumnya, serta memicu "revolusi kedua" yang memperbarui semangat dan tujuan revolusi pertama.
Beberapa saat lalu di Al Mayadeen, saya mengatakan bahwa delegasi dari lebih dari 100 negara tidak hanya bersimpati kepada jasad atau sosok Khamenei, tetapi juga kepada proyek dan gagasan yang ia perjuangkan semasa hidupnya.
Proyek Khamenei adalah pembebasan Palestina serta pembelaan atas tanah, bangsa, dan agamanya terhadap proyek "Israel Raya" yang bersifat sektarian dan ekstrem.
Siapa pun yang meyakini proyek tersebut [melawan Israel] akan bersimpati kepadanya, baik menghadiri pemakaman maupun tidak.
Ketika masih hidup, Khamenei adalah manusia biasa yang memiliki kekurangan sebagaimana manusia lainnya. Namun, setelah dibunuh oleh Israel, ia tidak lagi terbatas pada sosok individu, melainkan menjadi sebuah simbol yang akan melahirkan ribuan orang yang bersemangat melanjutkan proyek kemanusiaannya melawan pendudukan dan kesewenang-wenangan.
Saat masih hidup, banyak warga Iran yang menentangnya dan berdemonstrasi di jalan-jalan. Namun setelah pembunuhan itu, semua pihak bersatu, ruang untuk kritik dan penolakan menyempit, dan terjadi lonjakan nasionalisme di Iran yang menghasilkan dua hal:
1. Memperkuat proyek perlawanan serta menyatukan rakyat Iran di belakang pemerintahan, sembari menyingkap pihak-pihak yang mengaku oposisi tetapi sebenarnya adalah pengkhianat dan agen Israel.
2. Mengembalikan persatuan nasional rakyat Iran, memperkuat kohesi sosial, serta mengurangi berbagai perbedaan kelas dan politik yang muncul akibat kesalahan pemerintah selama beberapa dekade terakhir.
[Note: Sameh Askar sendiri mengaku, ia seorang liberal & bukan pro Iran].
Trump pura-pura tidak tahu saja soal kecintaan rakyat Iran pada A. Khamenei.
Karena, Trump mengetahui bahwa sebenarnya demonstrasi-demonstrasi sebelumnya didukung oleh CIA dan Mossad, dan bukan merupakan gerakan mayoritas rakyat yang cukup besar untuk menjatuhkan pemerintahan.
Trump sendiri pernah mengakui mencoba memanfaatkan kelompok Kurdi dengan mengirimkan senjata kepada mereka. Namun, upaya itu gagal karena masyarakat Kurdi tidak memberikan dukungan yang diharapkan. Trump sebenarnya mengetahui rakyat Iran tidak bersimpati kepada AS, tetapi tetap berusaha memanfaatkan kelompok minoritas etnis dan agama untuk memicu pemberontakan, sebagaimana yang menurutnya sering dilakukan AS.
Jika seorang presiden sampai berkata, "Saya kira begitu, ternyata saya salah," maka patut dipertanyakan di mana para penasihatnya. Hal itu menunjukkan bahwa AS saat ini bukan lagi negara yang dapat dipercaya atau dihormati, sampai keadaan berubah.