Ada ya orang suka nyari masalah di kantor yg suruh nyapuin orang lain.
Suka cari cari kerjaan yang suruh nyelesain juga orang lain.
Padahal diem aja gapapa loh, gausah nyari nyari. Bikin capek orang!
gue baru 30 hari nikah, tapi rasanya pengen balik ke kosan lama dan pura-pura nggak pernah kenal dia 😭 ternyata musuh terbesar dalam pernikahan itu bukan mertua atau cicilan, tapi suami yang kalau disuruh nyuci piring aja pura-pura bego biar gue yang beresin.
semalem puncaknya waktu gue lembur ngejar deadline kantor, dia malah minta dibikinin kopi sambil rebahan main ps. pas gue bilang, “ambil sendiri ya, mas, tangan gue lagi ngetik,” dia cuma hela napas panjang seolah-olah gue istri paling tega sedunia 😭
padahal seharian gue juga kerja di scbd, ikut meeting sampai kepala pusing, ngejar target. tapi pas sampai rumah status gue otomatis berubah jadi asisten rumah tangga tak bergaji. giliran piring kotor dibiarin numpuk sampai besok dengan dalih “nanti juga dicuci.”
pas piring itu akhirnya gue diemin sehari penuh karena gue capek banget, dia malah ngomel-ngomel bilang rumah kita udah kayak kapal pecah. dia lupa atau pura-pura amnesia kalau yang numpukin piring dari kemarin malam ya dia sendiri 😭
gue natap dia lama banget semalem, ngerasa asing sama cowok yang dulu pas pacaran kelihatan mandiri dan bisa diandelin. ternyata itu semua cuma topeng, karena begitu sah, dia pengen punya “ibu” baru yang bisa ngurusin baju, makan, sampai beresin kotorannya.
pernikahan ini baru sebulan, tapi pundak gue udah remuk rasanya. bukan karena kurang cinta, tapi karena sadar kalau gue lagi merelakan kewarasan demi maklumin ketidakdewasaan orang lain.
Gajinya Rp 8 juta. Istrinya Rp 6 juta.
Total: Rp 14 juta sebulan.
Dua orang kerja. Dua karir. Dua sarjana.
Tiap akhir bulan, mereka cek saldo rekening bersama.
Bulan ini: minus Rp 340.000. Bulan lalu: minus Rp 820.000.
Dua bulan lalu: minus Rp 1,2 juta.
"Gaji kita segitu. Kok makin minus?"
Sampai suatu malam mereka duduk. Hitung satu per satu.
Dan hasilnya, lebih menyakitkan dari yang mereka bayangkan.
Seandainya waktu itu koki ga lupa tuangin terigu ke adonannya, mungkin kita ngga pernah tau kalau brownis bisa seenak itu.
Semua yg terjadi adalah yg terbaik. Kita cuma gak tau aja atau mungkin lupa, kalau setiap hal ada sebab dan akibatnya.
Pernah nemu kata-kata gini:
"Nasi telah jadi bubur. Tapi bubur lebih mahal daripada nasi"
"Saat susu jadi rusak, maka akan jadi yogurt. Yogurt lebih bernilai dari susu bahkan lebih parah lagi itu akan jadi keju. Keju tentu lebih bernilai daripada susu dan yogurt"
"Jus anggur jadi asam, dia akan berubah jadi wine. Wine jauh lebih mahal dan bernilai daripada anggur "
Gpp ternyata, kalau kemarin kita salah langkah. Kesalahan itu justru yang membuat pribadi ini jadi lebih bernilai dan mahal.