Kerinduanku berjodoh dengan hujan, Kasih. Setiap keduanya bertemu, aku hanya termangu. Menanti irama rintik berhenti bernyanyi. Menyisakan satu melodi terus terngiang di kepalaku. Ejaan namamu.
Untaian kalam rindu menaungi rumah batinku yang sepi, Kasih. Dari simpul senyummu yang pernah menyapaku dalam gelap. Dari desahan nafas penenang kalbu di bilik-bilik ratap. Aku rindu melafazkan namamu, Kasih, seluruh tubuh bergetar menatapmu.
Seperti daun kering yang jatuh memulangi kerandanya. Sunyi ialah bunyi tapak kaki rindu, menjejaki puing-puing abu jumpa - sisa hadirmu. Dalam ketakberdayaan malamku, Kasih, betapa tinggal satu denyut menjadi pusaran nafasku: mengeja namamu.
Sujud malamku di rumah hati yang fakir. Ragaku patung pelaku kegaliban witir. Sukmaku lingsir di sumur ketiadaan zikir. Tanpa anugerah jiwa merasakan hadir, bagaimana sanggup aku mengakhiri syair?
Ini jalanku. Sungai berkelok menuju muara hati. Ini nafasku. Bunyi sayup penuh misteri jalan nan sunyi. Kata-kata yang tak dikenali, mengawali sajak musabab sepi.
Aku menyusur malam, tak bersulur kalam. Aku memeras kata, tak teringkas makna. Kosong isi sama tak menjala hati. Lampus puisi tersandera gawai dan rodi.